Lembaran Baru Edinson Cavani

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Lembaran Baru Edinson Cavani

Apa yang dilakukan oleh Zlatan Ibrahimovic selama memperkuat Paris Saint-Germain bisa dibilang adalah sebuah pencapaian yang cukup luar biasa. Bukan hanya torehan golnya yang mencapai angka 113, tapi juga empat gelar yang diberikan oleh Ibrahimovic rutin di setiap akhir musimnya.

Tidak heran, kepergian Ibrahimovic di bursa transfer musim panas lalu membuat banyak orang memprediksi Les Parisiens bakal mendatangkan pemain yang memiliki kemampuan setara dengannya. Beberapa nama disebut masuk ke radar Paris Saint-Germain, seperti Romelu Lukaku dan Gonzalo Higuain.

Meski demikian, mendatangkan pemain baru belum tentu sebuah jawaban atas sebuah kehilangan. Pelatih baru Paris Saint-Germain, Unai Emery, hanya memilih untuk mendatangkan pemain depan kelas dua untuk ukuran mereka, Jese Rodriguez.

Pilihan Emery untuk “hanya” mendatangkan Jese bukan tanpa sebab. Alasan pertama, kedua pemain bidikan mereka tentu tidak akan didapatkan dengan harga yang murah. Kedua, mereka juga masih memiliki salah satu penyerang terbaik di dunia yang sinarnya redup di belakang Ibrahimovic, Edinson Cavani.

Rumor-rumor yang berkembang mengenai kedatangan pemain depan baru membuat Cavani menjadi jengah. L’Equipe sempat mengatakan bahwa Cavani siap pergi jika Paris Saint-Germain memilih mendatangkan penyerang baru untuk menjadi pesaingnya di lini depan.

Meski skuat mereka tidak banyak berubah, namun banyak pihak menyangsikan pilihan Emery untuk tidak mendatangkan penyerang kelas dunia. Tiga tahun persaingan internal yang dilakukan oleh Cavani dan Ibrahimovic untuk memperebutkan posisi nomor sembilan menjadi contohnya.

Kegagalan Cavani menggeser Ibrahimovic dalam tiga tahun bersaing di lini depan memang cukup mengecewakan. Pasalnya, ia didatangkan Paris Saint-Germain dengan nominal yang cukup besar, senilai 64 juta euro awal musim panas 2013/14, jauh lebih besar ketimbang Ibrahimovic yang disebut hanya seharga 20 juta uero (menurut Eurosport).

Cavani sendiri berkilah soal kegagalannya menggeser posisi Ibrahimovic. Baginya, ia bukan tidak bisa menggeser Ibrahimovic, namun kesempatan bermain yang diberikan oleh Blanc kepadanya untuk tampil sebagai pemain nomor sembilan jauh lebih kecil ketimbang Ibrahimovic.

“Kesempatan bermain yang diberikan oleh Blanc untuk menjadikan saya nomor sembilan jauh lebih kecil ketimbang yang diberikan kepada Ibrahimovic. Meski demikian, saya tetap menghormatinya sebagai seorang teman,” ucap Cavani kepada Eurosport.

Upaya Emery untuk menjadikan Cavani momok menakutkan di lini pertahanan lawan sempat menemui kegagalan. Dalam tiga pertandingan awal Paris Saint-Germain bersama Cavani, yakni ketika mereka menghadapi Metz, AS Monaco, dan Saint-Etienne, pemain asal Uruguay ini hanya mampu mencetak satu gol.

Namun demikian, tak tajamnya Cavani dalam pertandingan tersebut mendapat pembelaan dari Emery. Eks pelatih Sevilla berujar bahwa eks pemain Napoli ini belum dapat menemukan penampilan terbaiknya karena ia belum sepenuhnya bugar. Ia pun meminta pendukung Paris Saint-Germain lebih sabar dalam menanti torehan gol Cavani.

Apa yang dikatakan oleh Emery memang cukup jelas. Bermain di empat ajang musim lalu, ditambah menjadi tumpuan utama Uruguay karena Luis Suarez sempat mengalami cedera membuatnya benar-benar terkuras secara fisik.

“Kami berupaya menerapkan susunan yang hampir sama dengan musim lalu untuk mendukung penampilan Cavani. Saya setuju jika ada yang menyebutnya belum dapat menunjukkan penampilan terbaiknya karena ia belum dapat bermain karena tenaganya begitu terkuras,” jelas Emery dilansir ESPNFC.

Harapan terhadap Cavani mulai muncul memasuki bulan September 2016. Total tujuh gol dalam enam pertandingan yang dilakoni membuat Cavani disebut tengah memasuki penampilan terbaiknya. Apa yang ditunjukkan oleh penyerang 29 tahun ini memang cukup sempurna di bulan September, dalam laga melawan Caen, ia bahkan mampu mencetak empat gol.

Pertunjukan Cavani di bulan September membuat banyak orang memberikannya apresiasi. Gelar pemain terbaik yang rutin diberikan oleh Union Nationale des Footballeurs Professionnels (UNFP) untuk bulan September pada akhirnya jatuh ke tangan Cavani, mengalahkan Mario Balotelli yang juga tampil trengginas di bulan tersebut dan kiper 17 tahun FC Toulouse, Alban Lafont.

Memasuki pekan ke-12 Ligue 1, Cavani menunjukkan bahwa kurangnya kesempatan bermain yang diberikan oleh Blanc kepadanya adalah salah. Di saat Zlatan Ibrahimovic gagal menunjukkan penampilan terbaiknya bersama Manchester United, ia justru malah menjadi sosok signifikan bagi torehan gol Paris Saint-Germain dengan mencetak total 11 gol.

Lembaran baru pun dibuka oleh Cavani di musim ini. Harapan Paris Saint-Germain kini dibebankan kepadanya. Patut ditunggu apakah nanti di akhir musim, Cavani benar-benar mampu menunjukkan bahwa ia adalah penyerang terbaik yang pernah didatangkan oleh Paris Saint-Germain.

Komentar