Filosofi Pohon dan Pudarnya Mental Pekerja Dortmund

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Filosofi Pohon dan Pudarnya Mental Pekerja Dortmund

Thomas Tuchel adalah pelatih yang cukup sukses. Tapi siapa yang mengira bahwa ia malah membuat Borussia Dortmund, kesebelasan yang berasal dari lembah Ruhr, Jerman, ini, menjadi kesebelasan yang cengeng. Tunggu dulu. Cengeng?

Tidak bisa disangsikan bahwa karier kepelatihan Tuchel kerap kali berjalan mulus. Pada musim pertamanya menangani FSV Mainz (2009/2010), ia sukses mengantarkan Mainz menduduki peringkat lima Bundesliga pada akhir musim. Ia juga berhasil mengantarkan Mainz berlaga di Liga Europa UEFA pada musim 2014/2015.

Catatan positifnya ini menular saat ia hijrah dari Mainz untuk menangani Dortmund pada musim 2015/2016. Die Schwarzgelben yang baru saja ditinggalkan pelatih legendarisnya, Jürgen Klopp, ia antar menjadi penantang serius Bayern München dalam persaingan meraih gelar juara Bundesliga.

Tuchel juga mengantarkan Dortmund masuk babak delapan besar Liga Europa 2015/2016, sebelum akhirnya dikalahkan oleh Liverpool (yang dilatih oleh Klopp). Untuk ukuran kesebelasan yang sebelumnya terombang-ambing, Tuchel bisa dianggap sukses kembali mengantarkan Dortmund kembali menjadi salah satu kesebelasan yang disegani di Bundesliga, juga Eropa.

Untuk musim 2016/2017, Tuchel mempersiapkan skuat Dortmund yang berlandaskan kepada pemain-pemain muda. Nama-nama yang kebanyakan masih berusia di kisaran 20 tahun-an seperti Ousmane Dembele, Emre Mor, Marc Bartra, Raphael Guerreiro, dan Sebastian Rode diangkut ke Signal Iduna Park.

Mereka bersanding dan menjadi tumpuan tim bersama pemain-pemain muda lain macam Julian Weigl, Christian Pulisic, dan Matthias Ginter yang sudah terlebih dahulu berseragam Dortmund. kesebelasan yang bermarkas di Stadion Signal Iduna Park ini pun diunggulkan untuk kembali menjadi pesaing Bayern München musim 2016/2017 ini. Tapi, apa yang terjadi?

Sekarang Dortmund sedang berada di peringkat keenam Bundesliga. Hasil empat kemenangan, tiga kali seri, dan dua kali kalah (sampai tulisan ini ditulis) mewarnai perjalanan Dortmund di Bundesliga 2016/2017. Lalu apa masalah hanya sebatas sampai itu? Ternyata tidak.

Hasil negatif ini ternyata berpengaruh kepada pribadi Tuchel sendiri. Setelah kekalahan melawan Bayer Leverkusen 2-0, dalam konferensi pers yang digelar seusai pertandingan Tuchel mengungkapkan sesuatu yang pada akhirnya memancing perhatian seluruh elemen sepakbola Jerman.

“Ketika (Roger) Schmidt mengatakan bahwa pertandingan tadi adalah pertandingan yang `adil`, maka saya memiliki pemikiran yang berbeda. Sebastian (Rode) dan Gonzalo (Castro) tidak bisa melanjutkan pertandingan. Para pemain Leverkusen seolah ingin menghentikan pemain-pemain saya secara membabi buta ketika membawa bola.”

“Dengan 21 kali pelanggaran yang tercipta dalam pertandingan tersebut, mohon maaf, saya tidak bisa mengatakan bahwa pertandingan tadi (melawan Leverkusen) adalah pertandingan yang `adil`,” ungkapnya.

Komentarnya ini jelas memacu reaksi dari berbagai pihak. Salah satu yang cukup keras mengomentarinya adalah direktur olahraga Leverkusen sekaligus legenda sepakbola Jerman, Rudi Völler, serta pelatih Hertha Berlin, Pal Dardai.

“Kami (Leverkusen) tidak melakukan sesuatu yang buruk. Kami bukanlah tim yang curang. Kemenangan tadi (melawan Dortmund) adalah cermin bahwa pelatih kami dan para pemain memang sudah siap untuk menang. Kami berbuat curang? Lucu sekali,” ujar Völler.

“Tidak adil jika kita terus menyalahkan tim lain, juga wasit. Mendapatkan kartu kuning dalam sebuah pertandingan adalah hal yang wajar. Menjadi tidak wajar ketika ada salah satu pelatih yang komplain kepada wasit secara berlebihan tentang ini. Permainan ini (sepakbola) adalah permainan pria, dan Tuchel saya kira tidak pantas mengeluarkan komentar seperti itu,” ungkap Dardai.

Melihat Tuchel yang mengeluarkan komentar seperti itu, apakah bisa disebut bahwa Tuchel telah menjadikan Dortmund sebagai tim yang cengeng?

Borussia Dortmund dan Sejarahnya dengan Kaum Buruh

Dortmund, seperti halnya Schalke 04 yang juga berasal dari daerah lembah Ruhr, adalah kesebelasan yang berasal dari kalangan kelas pekerja. Meski Dortmund dibangun oleh kalangan kaum kelas menengah, tapi lingkungannya yang berada di kelas pekerja menjadikan kesebelasan ini juga identik sebagai kesebelasannya para pekerja, meski tidak sedekat Schalke 04 (Schalke adalah kesebelasan kecamatan, Dortmund adalah kesebelasan yang mewakili satu kota).

Baca Juga: Saling Benci Dua kesebelasan Buruh di Lembah Ruhr

Mental pekerja pun menjadi ciri khas dari Borussia Dortmund selama bertahun-tahun. Permainan yang mereka peragakan pun sering kali identik dengan para pekerja; ulet, keras, mengandalkan fisik, dan tentunya tidak cengeng. Permainan ini mencapai puncaknya pada dua titik, yaitu ketika Dortmund ditangani oleh Ottmar “Der General” Hitzfield dan Jürgen Klopp.

Ottmar Hitzfield (kiri) dan Jürgen Klopp (kanan). Sosok yang mengantarkan Dortmund menuju kejayaan

Ketika di masa Hitzfield, pemain-pemain yang bermental pekerja bertebaran dalam timnya. Ada nama Paul Lambert, Steffen Freund, Knut Reinhardt, dan Martin Kree. Kehadiran para pemain bermental pekerja ini menjadikan Dortmund sebagai kesebelasan trengginas, dan meraih dua gelar Bundesliga, dua gelar Piala Super Jerman, dan satu gelar Liga Champions.

Pada masa Klopp, sepakbola mental pekerja kembali muncul lewat slogan berjuluk “Heavy Metal Football”. Para pemain, tanpa lelah, terus menekan pemain lawan sepanjang pertandingan. Usaha tanpa lelah inilah yang menjadi ciri khas dari mental pekerja Dortmund pada masa Klopp, dan sukses menghadirkan dua gelar Bundesliga, satu gelar DFB Pokal, dan dua gelar Piala Super Jerman. Oh ya, jangan lupakan keberhasilan mereka menembus partai final Liga Champions 2012/2013.

Seusai kepergian Klopp, identitas pekerja itu perlahan-lahan memudar, berganti menjadi sepakbola yang lebih lembut dengan, seperti yang disebutkan Bundesliga Fanatic, mengandalkan para pelari cepat dan juga possession football. Inilah yang membuat Dortmund sulit bersaing dengan tim yang bermain secara fisik dan juga mengandalkan mental pekerja.

Contoh yang bisa paling dilihat adalah ketika Dortmund-nya Tuchel kalah oleh Liverpool-nya Klopp pada babak delapan besar Liga Europa 2015/2016. Para pemain Liverpool, yang sudah tertular gaya “Heavy Metal Football” dan juga mental pekerja Klopp berjuang tanpa henti sampai menit terakhir, terus mengejar bola.

Hal ini merepotkan para pemain Dortmund, dan pada akhirnya membuat Dortmund kalah. Miracle of Anfield tersebut ternyata merupakan buah tangan dari para pekerja keras The Reds, sesuatu yang pernah lekat dalam diri Dortmund tapi hilang entah ke mana.

Hilangnya mental pekerja ini juga ditambah dengan kehilangan pemain-pemain bermental pekerja di tubuh Dortmund. Mats Hummels memilih mudik ke Bayern. Ilkay dan Micki memilih untuk menyeberang ke Inggris, membela duo Manchester.

Sanggupkah Tuchel Mengembalikan Mental Pekerja ini ke Dortmund?

Tidak semua pemain bermental pekerja pergi. Ada nama Sokratis Papastathopoulos, Marcel Schmelzer, dan Sven Bender (jika tidak cedera) yang masih mampu menawarkan permainan yang liat secara fisik. Mental inilah yang perlu ditularkan kepada para pemain muda, terutama pemain-pemain yang masih berusia di antara 20-25 tahun di tubuh Dortmund.

Permainan Dortmund sendiri sebenarnya sudah baik. Aliran umpan yang berjalan mulus, serta permainan possession sempat membuat mereka mampu menang besar dalam laga-laga awal Bundesliga. Tapi, seperti filosofi pohon, bahwa semakin tinggi sebuah pohon semakin kencang angin yang berhembus, itulah yang mesti dipahami Tuchel.

Ia harus membekali para pemainnya keberanian serta tubuh yang baik untuk beradu fisik, karena tim-tim yang berada di bawah Die Schwarzgelben tidak akan segan untuk memeragakan permainan a la pekerja sebab mereka paham bahwa mereka kalah secara teknik dan kemampuan olah bola. Jika Tuchel berhasil menerapkan ini, maka ia bisa bicara tentang persaingan melawan Bayern München dan kesebelasan besar Eropa lain.

Jika tidak, pohon tinggi bernama Dortmund akan terus diterpa angin, dan karena tidak memiliki dasar yang kuat, maka ia akan ambruk.

Komentar