Tentang Retaknya Tembok PSG dan Harapan Ligue 1 yang Lebih Kompetitif

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Tentang Retaknya Tembok PSG dan Harapan Ligue 1 yang Lebih Kompetitif

Hegemoni Paris-Saint Germain (PSG) di Ligue 1 adalah nyata. Empat musim adalah waktu yang sudah mereka habiskan untuk menjadi penguasa Ligue 1, terhitung sejak 2012/2013 sampai 2015/2016. Selain di Ligue 1, gelar-gelar domestik lain semacam Trophee des Champions, Coupe de France, dan Coupe de la Ligue pun acap kali mereka dapatkan. Dalam ajang Liga Champions Eropa, babak perempat final adalah babak yang sering dicecap oleh tim yang bermarkas di Parc des Princes ini.

Maka, tak heran untuk musim 2016/2017, PSG tetap menjadi salah satu kandidat kuat untuk kembali meraih gelar juara. Nama-nama mentereng seperti Edinson Cavani, Lucas Moura, Thiago Silva, Javier Pastore, dan Angel Di Maria masih berada di dalam skuat. Belum lagi rekrutan-rekrutan anyar yang menjanjikan macam Thomas Meunier, Gregorz Krychowiak, dan Jese Rodriguez. Ditambah oleh racikan Unai Emery, peraih gelar Liga Europa bersama Sevilla, PSG siap menguasai Ligue 1 untuk kelima kalinya.

Namun, meski sempat disebut sebagai "tim yang tak tersentuh" oleh Bruno Genesio, pelatih Olympique Lyon, buktinya benteng-benteng Paris sekarang sudah mulai tidak sekokoh dulu. Jika pada musim-musim sebelumnya mereka bisa melaju kencang tak tertahankan sejak awal musim, sekarang sudah mulai banyak tim-tim lain yang mampu mengganggu kekokohan benteng Paris yang sulit ditembus selama empat musim ke belakang.

Tim-tim seperti Lyon, OGC Nice, AS Monaco, dan Toulouse mulai mampu menandingi kemapanan PSG. Bahkan, dua tim terakhir mampu mengalahkan PSG dengan skor 3-1 (lawan Monaco) dan 2-0 (lawan Toulouse). Mereka sudah mulai berbenah untuk mengganggu kestabilan Paris dan menara Eiffel-nya yang masih tegak berdiri, selain tentunya ada hal-hal internal yang membuat PSG, sekarang, tidak sekuat dulu.

Hengkangnya Zlatan Ibrahimovic Sedikit Berikan Pengaruh

Mulai musim 2016/2017, PSG tidak lagi diperkuat oleh dua pemain yang sempat menjadi tulang punggung tim, yaitu David Luiz dan Zlatan Ibrahimovic. Jika ketiadaan Luiz dapat digantikan oleh defender-defender lain yang juga memiliki kualitas tak jauh beda, lain hal dengan hengkangnya Zlatan yang memilih untuk mulai menjajah tanah Inggris, setelah sempat lama menjajah tanah Prancis.

Untuk pengganti David Luiz, ada nama-nama seperti Presnel Kimpembe ataupun Marquinhos yang memiliki kualitas tidak jauh beda dengan Luiz. Sebenarnya, alasan Luiz hengkang pun karena ia sudah tidak dijanjikan lagi tempat dalam skuat Unai Emery untuk Ligue 1 musim 2016/2017. Luiz pun memutuskan bergabung dengan klub lamanya, Chelsea.

Sosok Ibra ketika masih berseragam PSG. Sumber: francebleu.fr

Hengkangnya Ibra inilah yang tampak sedikit memberikan pengaruh. Sosoknya yang penuh karisma dan auranya yang begitu kuat sebagai penyerang berpengalaman sekaligus handal, adalah tumpuan PSG dalam mencetak gol dalam beberapa musim terakhir. Dalam 180 penampilannya bersama Les Parisiens, total ia membukukan 156 gol.

Meski Edinson Cavani pun mencetak gol yang juga cukup banyak, catatan gol Ibra ini menunjukkan bahwa ia adalah penyerang subur yang dimiliki oleh PSG. Selain karena gol-golnya yang kerap dicetak di luar nalar, gol-golnya ini juga kerap kali hadir saat tim mengalami kebuntuan. Inilah yang membuat hilangnya sosok Ibra, berpengaruh terhadap penampilan PSG di lapangan.

Saat ini, PSG sedang beradaptasi dengan Cavani yang dijadikan sebagai tumpuan mencetak gol. Hal inilah yang mungkin membuat PSG belum setajam seperti kala diperkuat Ibrahimovic.

Unai Emery dan Klub-Klub Lain yang Mulai Berbenah

Perginya pelatih Laurent Blanc dan mulai masuknya Unai Emery juga memberikan pengaruh terhadap penampilan PSG. Blanc yang tentunya sangat mengenal Ligue 1 karena sudah pernah menangani macam-macam tim Ligue 1 seperti Montpellier, Auxerre, Marseille, dan Saint-Etienne, mampu menyajikan pendekatan taktik yang sesuai.

Unai Emery yang merupakan orang baru dalam persepakbolaan Prancis, tentunya belum memahami sepakbola Prancis seperti halnya Blanc, meski Emery memiliki pengalaman melatih klub-klub lain seperti Valencia, Spartak Moskow, dan Sevilla (di klub ini ia meraih sukses sebagai juara Liga Europa). Selain itu, ia juga belum pernah melatih tim-tim berisikan pemain bintang, yang cukup sulit diatur dari segi ego.

Ini adalah pengalaman baru bagi Emery. Ia butuh waktu untuk menyesuaikan diri terlebih dahulu. Maka, jangan heran kalau sekarang PSG kerap mendapat hasil-hasil minor seperti seri kala menghadapi Etienne dan kalah menghadapi Monaco dan Toulouse. Emery masih butuh waktu untuk beradaptasi.

Unai Emery, pelatih baru Paris-Saint Germain. Sumber: @PSG_English

Selain karena sosok Emery, klub-klub lain di Ligue 1 pun tidak boleh dipandang sebelah mata. Selain Lyon dan Monaco yang patut diwaspadai sebagai salah satu tim yang akan merepotkan PSG, dan masih akan merepotkan PSG musim 2016/2017 ini, ada satu tim lagi yang kelak akan merepotkan Paris. Tim itu adalah OGC Nice, tim yang dikenal sebagai penyelamat karier pesepakbola yang sempat turun.

Merekrut nama-nama seperti Dante dan Mario Balotelli, dan diasuh oleh pelatih sekaliber Lucien Favre (pelatih yang pernah melatih Borussia Monchengladbach), membuat Nice menjadi salah satu klub yang patut diperhitungkan musim ini (pekan keenam memuncaki klasemen tanpa sekali pun kekalahan). Investasi mereka kepada pemain muda pun cukup baik, dengan banyaknya pemain-pemain kelahiran 90an awal dalam skuat mereka.

Apakah Ligue 1 Akan Lebih Kompetitif?

Salah satu tulisan yang ditulis oleh France 24 menyebut bahwa hegemoni PSG membawa dampak yang buruk bagi keberlangsungan Ligue 1. Faktor uang yang berlimpah membuat PSG mampu mendatangkan pemain-pemain bintang membuat Les Parisiens dapat bersaing dengan kekuatan-kekuatan tradisional sepakbola Prancis macam Lyon, Monaco, dan Marseille.

Namun, dengan mulai goyahnya PSG sekarang dan klub-klub lain mulai menggeliat (meski masih terlalu cepat untuk menilai), Ligue 1 tampaknya akan menjadi liga yang lebih kompetitif. PSG-sentris yang sudah terjadi selama beberapa tahun ini tampak sudah mulai tidak terlihat lagi, dengan Lyon, Monaco, Nice, dan Toulouse yang mampu merangsek naik ke papan atas Ligue 1.

Tembok Paris sudah tidak setebal dulu lagi, dan, selama mereka sedang membangun kembali tembok kokoh itu, klub-klub lain mesti langsung tancap gas. PSG, meski menghadirkan sentralisasi di satu sisi, namun di sisi lain menghadirkan juga semangat bagi klub lain agar tetap berkembang lebih baik sehingga, aroma kompetisi masih terasa di Ligue 1.

Dan musim sekarang, aroma itu mulai tercium, dan semoga tetap tercium sampai nanti; walau para pendukung PSG berharap tidak demikian.

foto: Wikipedia

Komentar