Habis Gelap Terbitlah Terang, Marco Fabian

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Habis Gelap Terbitlah Terang, Marco Fabian

"Habis Gelap Terbitlah Terang". Begitulah ujar Kartini dalam buku masyhur yang pernah ia tulis kala ia masih hidup. Setelah kegelapan, akan terbit cahaya baru. Sama seperti keseharian kita, setelah terbenamnya matahari, gelap datang. Namun tak perlu khawatir, cahaya akan kembali muncul bersamaan dengan terbitnya matahari di ufuk timur esok harinya. Itulah yang dialami oleh Marco Fabian di Jerman.

Marco Fabian pernah mengalami masa sulit di Jerman, atau bisa disebut sebagai masa gelap. Awal kedatangannya di negara jantung Eropa tersebut dihiasi dengan sulitnya ia mendapatkan jam terbang di Eintracht Frankfurt. Membela Frankfurt sejak Januari 2016, ia hanya mencatatkan 11 penampilan dan mencetak tiga asis dalam ajang Bundesliga 2015/2016.

Catatan ini tentunya jauh melebihi sahabat sekaligus rekannya di Meksiko, Javier Hernandez. Pemain yang sudah lebih dulu mencicipi kompetisi di Eropa bersama Manchester United dan Real Madrid, berhasil menjadi pemain kunci Bayer Leverkusen dalam ajang Bundesliga musim 2015/2016. Datang lebih awal dari Fabian di Jerman pada Agustus 2015, total ia sudah mencatatkan 26 gol dari 43 penampilan dalam Bundesliga musim 2015/2016.

Dalam sebuah percakapan antara Fabian dan Hernandez di Skype, seperti yang dilansir oleh ESPN FC pada kisaran April 2016 lalu, Hernandez mengatakan kepada Fabian bahwa ia harus segera "menemukan nama panggilannya sendiri", merujuk kepada Hernandez yang sudah diapanggil si "kacang polong". Nama panggilan itu, secara tersirat, adalah sebuah pengakuan kemampuan sepakbola yang dimiliki oleh Hernandez.

Baca Juga: Karier Marco Fabian Bisa Terselamatkan Oleh Persahabatannya dengan Javier Hernandez

Tampaknya, Fabian benar-benar mencermati saran dari rekannya itu. Meski sempat mempertanyakan keputusan Niko Kovac yang begitu jarang memainkannya (bahkan ayah Fabian sempat menyebut Kovac kesal kepada Meksiko yang mengalahkan Kroasia di Piala Dunia 2010), ia mulai berlatih keras. Musim 2016/2017 ini, ia menyambut Bundesliga dengan semangat yang baru. Fabian ingin mencatatkan prestasi yang lebih baik dari musim lalu.

Perlahan, usaha keras yang ia perlihatkan mulai meraih hasil. Pintu menuju sebuah kecerahan terbuka di depan matanya dalam laga Eintracht Frankfurt melawan Bayer Leverkusen di Commerzbank Arena. Menghadapi sahabatnya yang membela Bayer Leverkusen, juga diturunkan sejak menit awal oleh pelatih Niko Kovac, ia berhasil mengantarkan Frankfurt meraih kemenangan dengan skor 2-1.

Hebatnya lagi, dalam laga tersebut, ia mencetak gol kemenangan Frankfurt pada menit ke-79 usai Chicarito menyamakan kedudukan bagi Leverkusen pada menit ke-60. Die Adler, julukan Frankfurt, unggul terlebih dulu dalam pertandingan ini lewat gol Alex Meier, yang juga ada andil Fabian di dalamnya.

Kebahagiaan Fabian pun semakin lengkap pada Sabtu (17/8/2016) malam itu usai ia juga dianugerahi gelar Man of The Match dalam pertandingan tersebut. Mengungguli rekannya, Javier "Chicharito" Hernandez (walau hanya satu pertandingan), dan ikut andil dalam dua gol Frankfurt, membuat Fabian tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Dalam wawancara setelah pertandingan kepada Bundesliga.com, Fabian mengungkapkan bahwa apa yang sudah ia catatkan dalam pertandingan tersebut tidak lain adalah hasil kerja kerasnya selama ini. Ia juga senang dapat mencetak gol penentu kemenangan bagi tim pertamanya di Eropa ini, yang ia anggap sebagai bentuk balas budi kepada pelatih Niko Kovac yang telah memercayai dirinya untuk tampil penuh dalam pertandingan tersebut.

"Saya sangat senang dapat mencetak gol kemenangan bagi Frankfurt. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa akhirnya jalan terbuka bagi saya di sini. Motivasi kami sangat tinggi untuk tetap menjaga peforma ini," ujarnya.

"Seorang pemain harus siap untuk menunggu gilirannya bermain dalam sebuah tim. Itulah yang terjadi kepada saya dalam pertandingan ini, dan saya telah berusaha keras agar dapat main dari menit pertama. Pelatih (Niko Kovac) tahu akan kemampuan saya dan memberikan saya kepercayaan untuk tampil sejak menit pertama. Maka, saya ingin menjawab kepercayaan pelatih dengan performa yang mengesankan di lapangan," tambahnya.

Semoga, pertandingan ini menjadi pintu menuju cerah bagi Marco Fabian, seperti halnya ufuk timur yang menerbitkan matahari penanda hari baru telah tiba. Hari baru bagi Fabian sudah menyongsong di Jerman, dan, seperti pesan Kartini dalam bukunya, Habis Gelap Terbitlah Terang, Mexican Sniper.

foto: @Eintracht

Komentar