Enes Unal, Cahaya Lain dari Turki

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Enes Unal, Cahaya Lain dari Turki

Nama Emre Mor begitu mencuat sebagai salah satu bakat, sekaligus masa depan sepakbola Turki. Kemunculannya dalam skuat Turki pada Piala Eropa 2016 pun memberikan harapan baru akan masa depan persepakbolaan Turki, yang semakin hari tidak menunjukkan peningkatan yang signfikan, usai terakhir kali merengkuh prestasi tertinggi pada Piala Dunia 2002 (menjadi peringkat tiga).

Meski Mor tidak mampu membawa Turki melaju lebih jauh dalam ajang Piala Eropa 2016, nyatanya kemampuannya masih menarik minat klub-klub besar Eropa. Borussia Dortmund menjadi klub yang beruntung yang mampu mendatangkan Mor, yang sempat digadang sebagai cahaya dari sepakbola Turki pada masa mendatang.

Ketika Eropa menyorotkan mata mereka kepada seorang Mor, di belahan Eropa yang lain, tepatnya di tanah Belanda, ada juga cahaya Turki yang lain yang sedang menempa diri (mengalami masa peminjaman), bernama Enes Unal. Ia sedang berada di Twente, dan, baru-baru ini mencetak hattrick untuk timnya, FC Twente, dalam laga yang berkesudahan 3-4 melawan FC Groningen. Lebih mengesankan lagi, hattrick ini ia cetak dalam waktu 16 menit saja (`23, `36, dan `39).



Lalu, siapakah sebenarnya Enes Unal ini?

Lahir dan Besar di Bursaspor

Enes Unal lahir di Osmangazi, Bursa, Turki, pada 10 Mei 1997. Seperti halnya pemain kelahiran Bursa yang lain, Unal memulai karier sepakbolanya ketika ia masih remaja bersama tim junior Bursaspor. Di sana, ia berhasil mencetak 170 gol dari 102 penampilan. Berkat penampilan mengesankan yang ia tunjukkan bersama tim junior Bursaspor, sejak dari level youth sampai U-16, ia langsung dipromosikan masuk tim utama pada musim 2013/2014.

Unal menjalani debutnya bersama Bursaspor dalam babak kualifikasi ketiga Europa League 2013/2014 melawan FK Vojdovina yang berkesudahan 2-2 pada 1 Agustus 2013. Pada bulan yang sama pula, ia menjalani debutnya dalam Liga Super Turki pada pertandingan melawan Galatasaray. Dalam pertandingan tersebut, ia mencatatkan diri sebagai pemain termuda yang mencetak gol dalam sejarah Liga Super Turki (saat itu usianya 16 tahun), dengan mencetak gol penyama kedudukan.

Total dua musim bersama Bursaspor, ia sukses menorehkan tujuh dol dari 54 penampilan, jumlah yang cukup baik mengingat Unal ketika itu hanya berstatus sebagai pemain pengganti. Bakat Unal pun mulai terendus oleh klub-klub besar Eropa seperti Chelsea, Manchester City, Manchester United, dan Inter Milan.

Bersama tim junior Turki, ia juga tampil cukup mengesankan. Ia mulai tampil di timnas sejak 2012. Kala itu, ia tampil bersama timnas U-16 dan mencetak 25 gol dari 24 penampilan. Sejak saat itu, ia pun rutin membela timnas mulai dari U-17, U-19, U-21, hingga akhirnya ia mendapatkan caps pertamanya untuk timnas senior pada 31 Maret 2015 dalam sebuah laga persahabatan melawan Luksemburg yang berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Turki.

Namun mengingat usianya yang masih cukup muda, pelatih timnas senior, Fatih Terim, tidak mengikutsertakannya dalam Piala Eropa 2016.

Tercium Manchester City, Mengalami Masa Peminjaman

Pada Juli 2015, The Citizens menjadi tim yang mampu meminang Enes Unal. Dengan biaya transfer sebesar dua juta paun, mereka sukses mendaratkan Unal ke Etihad Stadium, sekaligus menjadi rekrutan pertama mereka pada musim panas 2015.

Namun, seperti halnya Marlos Moreno yang harus dipinjamkan terlebih dahulu, pemain yang juga disebut sebagai wonderkid Turki ini pun harus mengalami masa peminjaman.

Usai dibeli pada awal Juli 2015, manajemen City memutuskan untuk meminjamkan pemain ini ke KRC Genk. Rencana awal peminjaman yang akan berlangsung selama dua musim urung terjadi setelah pihak City dan Genk tidak menemui kesepakatan. Awal 2016, ia kembali ke City, untuk kemudian dipinjamkan lagi ke klub lain. Kali ini NAC Breda, yang ketika itu masih berada di Eerste Divisie, satu level di bawah Eredivisie.

Bersama Breda, kemampuan Unal mulai terasah. Meski hanya tampil selama setengah musim, ia berhasil melesakkan delapan gol dari 14 penampilan bersama Breda. Salah satu momen spesial Unal di Breda adalah saat ia berhasil mencetak hattrick pertamanya melawan Telstar pada April 2016.



Sekarang, untuk musim 2016/2017, ia kembali mengalami masa peminjaman di FC Twente. Jika ia mampu tampil gemilang dan konsisten bersama Twente, bukan tidak mungkin musim depan akan menjadi musim perdananya membela The Citizens.

Gaya Bermain dan Prospeknya Bersama Guardiola

Enes Unal adalah seorang penyerang yang bisa difungsikan sebagai second striker ataupun target man. Meski berposisi sebagai penyerang, Unal tidak segan untuk turun menjemput bola, menarik perhatian bek, sekaligus juga menyediakan ruang bagi kawan-kawannya yang muncul dari second line dengan bergerak ke sayap, dengan dribble mumpuni yang ia miliki.

Kemampuannya yang cukup lengkap sebagai penyerang inilah yang nantinya akan menjadi sebuah modal berharga bagi manajer Pep Guardiola (itu pun jika mereka berminat memulangkan Unal). Pep yang sekarang sedang banyak berinvestasi kepada para pemain muda seperti Marlos Moreno, Leroy Sane, dan Oleksandr Zinchenko tentunya akan senang jika kelak Unal mampu tumbuh menjadi pemain matang di Belanda dan pulang dengan segudang pengalaman yang ia bawa selama masa peminjaman.

Selain itu, jika mencocokkan kemampuannya dengan skema Pep, maka Unal akan menjadi salah satu pemain yang memiliki fungsi penting. Kemauannya untuk turun menjemput bola dan menekan bek lawan akan sesuai dengan strategi high pressing milik Pep, dan juga kemampuan Unal yang tidak hanya terpaku di kotak penalti akan bermanfaat untuk variasi strategi Pep nantinya.

***

Melihat prospek menjanjikan Enes Unal, bukan hanya Manchester City yang akan mencicipi manfaatnya di masa depan, tapi juga timnas Turki. Setidaknya, dengan kehadiran Unal ini, mereka tahu bahwa cahaya Turki sekarang tidak hanya ada di tangan Emre Mor saja, melainkan juga ada di tangan Enes Unal.

Komentar