Yaya Toure dan Pep Guardiola Mungkin Tidak Berjodoh (Lagi)

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Yaya Toure dan Pep Guardiola Mungkin Tidak Berjodoh (Lagi)

Kalau memang tidak berjodoh, susah untuk dipaksakan bersatu. Meski memang pernah mengalami masa-masa bersama dalam sebuah tempat atau waktu, akan selalu ada faktor X atau hal-hal tak terduga yang memisahkan dua orang yang memang secara garis takdir tidak diizinkan untuk bersama. Mungkin, itu juga yang terjadi antara Yaya Toure dan Pep Guardiola.

Semasa Yaya masih membela Barcelona, ia sudah menemukan ketidakcocokan dengan Pep. Yaya, yang dibeli dari AS Monaco seharga sembilan juta euro ini memang tidak masuk dalam skema permainan Pep yang memfokuskan kepada umpan-umpan pendek yang mengandalkan kecepatan pemainnya dalam mencari dan membuka ruang.

Hubungan Yaya dan Pep pun berakhir. Pada 2010, mahar 30 juta euro menerbangkan Yaya ke Inggris, ke Manchester City yang sedang menjadi kekuatan baru sepakbola Inggris. Di bawah arahan Roberto Mancini, ia menemukan kesenangan bermain sepakbola yang baru dengan peran box-to-box yang ia jalani. Hasilnya? Pada musim 2011/2012 ia menjadi salah satu aktor penting di balik gelar juara Liga Primer Inggris yang diraih City.

Ketika Mancio pergi dan kursi manajer diserahkan kepada Manuel Pellegrini, Yaya masih mampu menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu gelandang box-to-box terbaik di dunia. Buktinya? Gelar juara Liga Primer Inggris 2013/2014 kembali mendarat di Etihad Stadium, dengan Yaya sebagai salah satu aktor utamanya kembali.

Catatan Yaya di City pun cukup mengagumkan. Jika di Nou Camp ia hanya mencatatkan 118 penampilan dengan cetakan enam gol dan delapan asis, di Etihad ia berhasil mencatatkan 268 penampilan dengan cetakan 72 gol dan 45 asis. Peran box-to-box yang ia jalani, selain memaksimalkan kekuatan stamina yang ia miliki, juga memberikannya kebebasan untuk menjelajahi lapangan.

Baca Juga: Yaya Toure, Sang Mr. Wembley

Namun, mulai memasuki musim 2014/2015, Yaya mengalami penurunan performa, pun dengan The Citizens yang mulai kesulitan meraih gelar Liga Primer Inggris. Terakhir kali Yaya mampu memberikan gelar kepada City adalah saat ia berhasil mengantarkan City mengalahkan Liverpool dalam babak final Piala Liga Inggris pada musim 2015/2016.

Mimpi buruk Yaya pun semakin menjadi ketika per musim 2016/2017, City mulai ditangani oleh Pep Guardiola. Bayang-bayang akan putusnya hubungan pada masa lampau kembali menyeruak dalam benak Yaya, meski Pep pun sebenarnya menawarkan kepada pemain asal Pantai Gading ini untuk rujuk, dan itu terlihat dalam konferensi pers pertamanya sebagai manajer Manchester City.

"Saya tahu Yaya. Di Barca dan di sini (Manchester City) ia bermain baik. Ia adalah pemain berbakat, dan saya akan bergantung kepada dirinya, juga kepada pemain Manchester City yang lain," ujar Pep, kisaran Juli 2016.

Usaha rujuk yang dilakukan oleh Pep pun terlihat dalam ajang pramusim. Selama mengikuti ajang International Champions Cup ataupun bertanding dalam laga persahabatan, Yaya beberapa kali kerap mendapatkan porsi bermain dari Pep. Melihat hal ini, manajer asal Spanyol ini sepertinya serius dalam usahanya agar mampu rujuk dengan Yaya.

Namun usaha rujuk yang diperlihatkan Pep dalam ajang pramusim seolah tidak terlihat memasuki laga resmi. Dalam laga pembuka Liga Primer Inggris melawan Sunderland, Yaya tidak dimasukkan dalam 18 orang yang dibawa oleh Pep untuk menghadapi The Black Cats pada Sabtu (14/8).

Belum selesai sampai situ, pemain yang juga bersaudara dengan Kolo Toure ini juga tidak dimasukkan dalam skuat City yang bertanding dalam babak playoff Liga Champions Eropa menghadapi Steaua Bucarest, Selasa (16/8) atau Rabu (17/8) dini hari waktu Indonesia.

Tentang tidak dibawanya Yaya Toure ini, Pep memiliki alasannya sendiri, alasan yang terdengar cukup diplomatis bagi Yaya.

"Yaya telah berlatih bersama kami dan menunjukkan permainan yang luar biasa. Namun, saya tidak yakin bahwa saya akan memainkannya sehingga saya memilih untuk tidak membawanya. Saya memilih untuk membawa dua pemain muda (Angelino dan Tosin Adarabioyo) dalam perjalanan ke Rumania kali ini," ujar Pep seperti dilansir ESPN FC.

Mengenai tidak dibawanya Yaya saat melawan Sunderland, Pep juga memiliki alasan. "Saat melawan Sunderland, kami ingin bermain lebih cepat dan menekan. Alasan inilah yang membuat saya tidak memainkan Yaya, hanya itu. Namun, saya menaruh rasa hormat kepada Yaya, dengan segala kualitas dan perjalanan karier yang telah ia lalui di sini (Manchester City)," ujar Pep.

Kalau memerhatikan ucapan dari Pep, se-diplomatis apapun itu, ia mulai sadar bahwa akan sulit baginya untuk rujuk dengan Yaya. Seperti halnya orang-orang yang bercerai karena, katanya, tidak menemukan kecocokan dengan pasangannya, Pep juga tampaknya menemukan bahwa Yaya tidak cocok dengan gaya main yang akan ia terapkan di City, terbukti dari Pep yang lebih memilih dua pemain muda daripada membawa Yaya ke Rumania.

Maka, dengan mulai adanya gembor-gembor ketidakharmonisan antara Pep dan Yaya, spekulasi mengenai hubungan Yaya dengan Pep di City pun bermunculan. Bahkan, ada yang bilang bahwa mereka akan kembali cerai, sama halnya seperti ketika di Barcelona dahulu. Yah, seperti halnya tetangga yang kerap ribut-ribut, media di Inggris pun meribut-ributkan hal ini.

Tapi, melihat keadaan yang seperti ini, memang, ada baiknya bagi Yaya untuk kembali pergi dan bercerai dengan Pep. Masa lalu dan pengalaman adalah pelajaran terbaik, dan di luar sana masih banyak klub-klub yang mungkin berjodoh dengan Yaya, seperti City sebelum kedatangan Pep.

Semoga saja, ini akan menjadi yang terakhir dalam saga hubungan Yaya dan Pep. Jangan sampai ada talak tiga dalam hubungan mereka nantinya.

foto: flickr.com

Komentar