Restoran "All You Can Eat" dari Beppe Marotta untuk Juventus

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Restoran "All You Can Eat" dari Beppe Marotta untuk Juventus

Dalam lima tahun terakhir, Juventus telah kembali mengukuhkan diri sebagai penguasa Serie A. Sejak musim 2011/2012, scudetto selalu mendarat di kota Turin. Dan kesuksesan Juventus saat ini bermula ketika mereka ditangani Antonio Conte yang sejak awal kepemimpinannya langsung mempersembahkan scudetto.

Conte lantas disebut-sebut sebagai sosok yang berhasil mengembalikan identitas Juventus sebagai penguasa Italia. Namun sebenarnya, ada sosok lain yang tak kalah penting dalam kesuksesan Juventus saat ini. Ia adalah Direktur Umum yang merangkap sebagai CEO Juventus, Giuseppe "Beppe" Marotta.

Marotta adalah orang yang bekerja di balik layar. Pria kelahiran 25 Maret 1957 ini menjadi orang yang dipercaya presiden klub, Andrea Agnelli, dalam membeli, mempertahankan dan menjual pemain.

Saat pertama gabung Juventus, situasi di Juventus tengah panas. Ultras Juve saat itu memprotes klub karena pada musim 2009-2010, Juventus menempati urutan ke-7 di Serie A di mana itu merupakan terburuk sejak kembali ke Serie A tiga musim sebelumnya.

Marotta memang bergabung dengan Juventus pada 2010, tak lama setelah Agnelli didapuk sebagai presiden baru Juventus. Saat itu pria kelahiran Varese ini dipilih Agnelli karena prestasinya mengantarkan Sampdoria ke Liga Champions 2010-2011. Padahal saat pertama kali Marotta bergabung pada 2002, Sampdoria tengah dalam keadaan terpuruk, bahkan sepanjang sejarah Sampdoria, dengan menempati peringkat ke-10 Serie B dalam tiga tahun beruntun.

Namun prestasi Marotta bukan hanya itu. Hanya butuh semusim bagi Marotta untuk mengantarkan Varese dan Monza promosi ke Serie B pada 1970-an. Venezia berhasil promosi ke Serie A, setelah 30 tahun absen, di tahun ketiga ia menjadi Direktur Umum Venezia. Sementara Atalanta menjadi kuda hitam pada awal 2000-an dalam dua musimnya bersama Marotta sebagai Direktur Umum.

Marotta datang ke Juventus bersama orang-orang kepercayaannya. Luigi Delneri, pelatih yang membuat Atalanta ditakuti, direkrut untuk menggantikan Alberto Zaccheroni. Ia juga membawa Fabio Paratici untuk menjadi kepala Pemandu Bakat Juventus.

Perlu diketahui, Paratici sering disebut sebagai `tangan kanan` Marotta. Keduanya sudah bekerja sama sejak 2004. Marotta adalah orang yang dengan berani memberikan tugas Kepala Pemandu Bakat Sampdoria pada Paratici padahal saat itu Paratici baru saja pensiun sebagai pemain. Namun keduanya sempat berpisah pada 2008 ketika Paratici direkrut oleh Torino.

Bersama Paratici, Marotta mencari pemain-pemain yang tepat untuk Juventus. Marotta sendiri sejak awal langsung ingin mengubah wajah Juventus yang terlalu tua di bawah rezim Alessio Secco, Direktur Umum Juventus sebelum dirinya. Di awal kepemimpinannya, ia melepas 11 pemain, di antaranya David Trezeguet, Mauro Camoranesi, Nicola Legrottaglie, Jonathan Zebina dan Fabio Cannavaro. Sebagai penggantinya, Marotta mendatangkan 14 pemain baru. Dari deretan pemain baru itu di antaranya Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli, dua pemain yang hingga saat ini menjadi palang pintu utama Juventus bahkan timnas Italia.

Juventus memang tidak langsung berprestasi, bahkan kembali menempati peringkat tujuh pada musim pertamanya bersama Marotta. Namun setelah Delneri digantikan Antonio Conte, beserta sejumlah rekrutan penting yang di antaranya adalah Andrea Pirlo, Arturo Vidal, dan Stephan Lichtsteiner, scudetto pertama setelah kasus calciopoli akhirnya datang.

Marotta berhasil menemukan kombinasi yang pas antara Juventus dan Conte. Juventus pun seolah tengah memasuki era baru bersama Conte. Apalagi Juventus kemudian meraih trofi Serie A tiga kali beruntun.

"Conte merupakan salah satu pelatih terbaik dunia saat ini, padahal sepakbola Italia saat ini sangat terbatas. Bagaimanapun saya berharap bahwa manajer kami bisa menikmati situasi klub saat ini seperti Ferguson atau Wenger," ujar Marotta pada 2013 lalu lewat situs resmi Juventus.

Tapi kemudian secara mengejutkan Conte mengundurkan diri dari kepelatihan Juventus sebelum musim 2014/2015 dimulai. Salah satu faktornya adalah karena Conte tidak puas dengan aktivitas transfer Juventus, di mana kemudian Conte dikenal dengan kalimat "Anda tidak akan bisa makan di restoran 100 euro jika hanya memiliki 10 euro di saku Anda".

Marotta mewajarkan kepergian Conte yang memang memiliki pribadi yang begitu ambisius. Namun secara mengejutkan pula Marotta dengan berani menunjuk eks pelatih AC Milan, Massimilliano Allegri, sebagai suksesor Conte beberapa hari setelah Conte hengkang. Tak ayal suara-suara sumbang mulai mengarah pada manajemen Juventus, khususnya Marotta.

"Kami telah menemukan orang yang cocok untuk menggantikan pelatih juara seperti Conte. Inilah saya, bersama Max Allegri, yang sudah kalian tahu," ujar Marotta saat memperkenalkan Allegri seperti yang ditulis Football Italia. "Kami ingin melanjutkan siklus kemenangan kami."

Marotta pun kemudian menunjukkan kapasitasnya. Di musim pertama Allegri, mantan pelatih Sassuolo itu langsung melanjutkan tren scudetto Juventus sejak era Conte. Bahkan lebih dari itu, Allegri berhasil melakukan apa yang tidak bisa Conte lakukan, yaitu berbuat banyak di Liga Champions. Juventus berhasil mencapai babak final Liga Champions 2015 di musim pertama Allegri.

Prestasi Allegri tersebut langsung membuatnya puas. Bahkan ia seolah menyindir Conte dengan apa yang ia katakan mengenai torehan Juventus bersama Allegri.

"Ya, kami sedang duduk di meja restoran 100 euro," ujar Marotta ketika Juventus mencapai babak semifinal Liga Champions 2014/2015. "Sangat memuaskan bisa melangkah sejauh ini. Kami duduk di meja ratusan euro dengan hal luar biasa yang kami lakukan beberapa tahun terakhir. Kami harap makanannya enak."

Marotta membuktikan bahwa tanpa Conte, Juventus masih bisa terus melaju. Marotta juga membuktikan bahwa tanpa belanja mewah, Juventus bisa melangkah hingga babak final. Saat ini, Juventus bahkan mulai disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat juara Liga Champions.

Pada bursa transfer musim panas 2016 ini, Juventus memang memamerkan kedigdayaannya. Daniel Alves, Miralem Pjanic, Marko Pjaca, dan Medhi Benatia (pinjam) yang sudah resmi menjadi pemain Juventus, jelas bukan pemain sembarangan. Dan terbaru, Gonzalo Higuain yang didatangkan dengan memecahkan rekor transfer Serie A (90 juta euro), semakin menegaskan bahwa Juventus tak lagi pelit dalam berbelanja.

Marotta memang kembali menunjukkan kapabilitasnya sebagai Direktur Umum jempolan. Sebelumnya, ia menyihir Sampdoria melangkah ke Liga Champions dalam waktu kurang dari 10 tahun. Kini giliran Juventus yang ia sulap menjadi salah satu kekuatan Eropa dalam waktu lima tahun. Dan bahkan bersama Marotta, Juve kini bukan hanya bisa makan di restoran 100 euro, tapi Marotta berhasil membawa Juve ke restoran all you can eat, di mana semua makanan [baca: pemain] bisa saja mereka dapatkan.

Giuseppe Marotta sudah menjadi direktur umum klub sejak usia 21 tahun. Selengkapnya, baca tulisan "Giuseppe Marotta, Otak di Balik Kesuksesan (Transfer) Juventus" di Detiksport kanal About The Game.

Komentar