Paulo Henrique Ganso, Buah Hubungan Bakat dan Pihak Ketiga

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Paulo Henrique Ganso, Buah Hubungan Bakat dan Pihak Ketiga

Brasil sejak lama dikenal sebagai poros sepakbola. Sebab, selain memiliki lima koleksi gelar Piala Dunia, Brasil juga selalu menghadirkan pemain-pemain baru untuk dieksploitasi bakatnya oleh kesebelasan Eropa.

Salah satu pemain Brasil yang memutuskan hijrah ke Eropa musim panas kali ini adalah Paulo Henrique Ganso. Pemain yang dikenal dekat dengan Neymar ini resmi berlabuh ke Eropa, untuk memperkuat kesebelasan juara Liga Europa 2015/2016, Sevilla, setelah kesebelasan lamanya, Sao Paulo, menyetujui nilai transfer senilai 9,5 juta Euro.

Kepergian Ganso ke Sevilla sendiri terbilang telat, bahkan jika dibandingkan dengan kawan dekatnya, Neymar. Betapa tidak, Ganso adalah salah satu kunci kesuksesan Santos menjuarai Campeonato Paulista musim 2010, 2011, dan 2012. Selain itu ia juga merupakan salah satu penggawa yang membawa Santos menjuarai Copa Libertadores 2011.

Ganso sebagai Manifestasi Pemain Nomor 10

Seperti halnya pemain asal Brasil lainnya, bakat Ganso berkembang lewat sepakbola jalanan. Sejak usia muda, ia kerap mengikuti berbagai ajang sepakbola jalanan. Tak puas menambah pundi-pundi lewat satu pertandingan, Ganso memilih bergabung dengan kesebelasan di daerahnya, Tuna Luso, yang saat itu dilatih pemain eks pemain Barcelona, Geovanni.

“Anak ini memiliki kemampuan untuk menjadi seorang playmaker. Sebab, ia memiliki dribel, umpan, dan visi bermain yang bagus. Selain itu, ia juga merupakan pemain yang memiliki bakat sebagai pemberi asis,” aku Geovanni seperti dikutip oleh ESPNFC.

Perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh Ganso membuatnya direkomendasikan Geovanni ke Santos, yang pada 2004 tengah membangun ulang skuatnya. Beberapa kali mengikuti uji tanding, Ganso pun mulai diberi kesempatan untuk memperkuat tim usia muda Santos.

Ganso mulai melebarkan sayapnya di tim senior Santos pada 2008. Di usia yang baru menginjak 20 tahun, Ganso bahkan sudah dipercaya oleh pelatih Santos, Dorival Junior, untuk mengenakan nomor punggung 10, yang sebelumnya dikenakan oleh legenda sepakbola Brasil, Pele.

Pemberian nomor tersebut rupanya tidak salah. Pada musim 2009, Ganso mampu memainkan peran nomor 10 dengan baik. Situs Fanta Gazzetta pada 2009, menyebut Ganso sebagai pelayan utama Neymar dan gelandang serang dengan atribut menyerang terbaik yang dimiliki Brasil pada 2000-an. Sementara Tutto Mercato menjadikan Ganso sebagai bentuk nyata pemain nomor 10 di sepakbola modern.

Puja puji yang diterima Ganso membuatnya dicintai oleh pendukung Santos. Tak heran, begitu mereka tahu bahwa Ganso tak dipanggil oleh Dunga untuk persiapan Piala Dunia 2010, puluhan ribu suporter Santos ini murka. Mereka pun langsung mengkritik Dunga mati-matian dan memberikannya ejekan mana kala pemain yang dipilih oleh Dunga untuk mengisi posisi playmaker dan memakai nomor 10, Kaka, bermain buruk.

Pilihan Dunga untuk tak membawa Ganso ke Afrika Selatan untuk bermain di Piala Dunia 2010 ternyata bermanfaat bagi Santos. Pasalnya, di akhir musim Ganso berhasil membawa Santos menjuarai Campeonato Brasileiro dan Copa do Brasil di akhir musim 2010.

Penampilan Ganso mulai menurun di 2012. Cedera panjang dan munculnya bakat-bakat baru membuatnya kerap bermain di bawah ekspektasi. Akhirnya, di pertengahan 2012, ia resmi dijual ke Sao Paulo, yang saat itu tengah berusaha mendapatkan gelar Copa Libertadores.

Keberadaan Pihak Ketiga dalam Transfer Ganso

Kepemilikan pihak ketiga atau yang disebut sebagai Third Party Ownership (TPO) begitu lazim di Brasil. Uniknya, Ganso menjadi salah satu pemain yang hak eksklusifnya dimiliki oleh pihak ketiga.

Krisis keuangan yang menderita Santos di awal 2010-an, membuat mereka hanya memiliki dua pilihan sikap terhadap pemain bintang, dijual atau dimiliki secara bersama oleh pihak ketiga. Opsi kedua ini lah yang dipilih oleh Santos demi menjaga kekuatan skuatnya. Pada akhirnya, Ganso secara resmi dimiliki oleh DIS Esporte, sebuah agen pemain yang memiliki hak khusus dalam bidang olahraga.

Bergabung dengan DIS di satu sisi begitu menguntungkan Ganso. Dalam suatu kesempatan wawancara dengan Globo Esporte, Ganso menyatakan bahwa ia tidak lagi memikirkan gajinya karena sudah pasti sesuai dengan apa yang inginkan.

Kepindahan Ganso ke Sao Paulo pada 2012 disebut tidak lepas dari keinginan DIS. Berawal dari prinsip Sueno Libertador, Sao Paulo bersedia menawar Ganso dengan yang harga tinggi. Sial bagi Santos, mereka hanya ketiban untung 55% dari 23.940.000 Brasil Real, atau sekitar 13 juta Brasil Real.

Meski demikian, persoalan muncul setelah Ganso bergabung dengan DIS. Dilansir Globo Esporte, mereka memagari pemain kelahiran 12 Oktober 1989 ini dengan angka 50 juta Euro. Hal ini lah yang membuat Ganso tidak bisa hengkang ke Eropa dengan mudah.

Hijrahnya Ganso ke Sevilla dengan harga yang rendah terbilang cukup mengagetkan. Pasalnya, selain harga Ganso yang sudah dipatok, DIS disinyalir tidak akan melepas pemainnya dengan harga rendah. Pengecualian muncul dalam kasus Ganso, sebab musim depan kontraknya di Sao Paulo bakal berakhir, yang sekaligus membuatnya mengakhiri hubungan dengan DIS.

Catatan penyunting: Kepindahan Ganso ke Sevilla seolah menjadi awal baru untuk karier Ganso. Apabila ia bermain memukau, bukan tidak mungkin nilai dari penjualannya akan melonjak. Terlebih dengan aturan di Liga Inggris yang tidak mengenal TPO, akan memaksa kesebelasan Liga Primer Inggris membayar dengan harga tinggi untuk sekaligus membeli hak komersial Ganso.

Komentar