Lima Pemuda yang Mencuri Perhatian di Piala Eropa 2016

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Lima Pemuda yang Mencuri Perhatian di Piala Eropa 2016

Gelaran Piala Eropa 2016 sudah berakhir. Partai final yang digelar di Saint Denis menghasilkan Portugal sebagai juara, sementara Prancis gagal mengulangi siklus 16 tahun dengan berhasil keluar sebagai kampiun Eropa dengan status tuan rumah. Cristiano Ronaldo memimpin rekan-rekannya untuk bersuka cita atas keberhasilan menjadi juara Eropa untuk pertama kalinya.

Sepanjang turnamen dengan format baru ini banyak sekali kejadian yang tidak terlupakan, termasuk dengan kemunculan para pemain muda yang menarik perhatian. Selama gelaran Piala Eropa 2016, semua mata disuguhkan oleh penampilan berkualitas dari para pemain muda. Beberapa di antarnya bisa dibilang mengejutkan. Berikut kami pilihkan lima pemuda terbaik yang tampil mengesankan sepanjang gelaran Piala Eropa 2016. Hitungan umur dimulai dari kelahiran 1993 dan seterusnya.

Paul Pogba

Setelah mengalami musim yang hebat bersama klubnya, Juventus, Paul Pogba juga tampil gemilang bersama negaranya, Prancis. Gelandang kelahiran 15 Maret 1993 ini menjadi salah satu sosok kunci yang membawa Prancis melaju ke partai final Piala Eropa 2016. Satu asis dan satu gol melawan tim kejutan, Islandia, menjadi catatan positif Pogba sepanjang turnamen. Ia juga menjadi mesin di lini tengah dan menjadi kreator permainan Prancis. Sayang di partai puncak, ia gagal membawa negaranya ke tangga juara.

Arkadiusz Milik

Ketika serangan buntu dan semua penjagaan tertuju kepada Robert Lewandowski, Polandia patut berterima kasih kepada Arkadiusz Milik. Pesepakbola Ajax Amsterdam ini menjadi kunci serangan Polandia ketika Lewandowski kesulitan mencetak gol. Penampilan Milik sepanjang turnamen membuktikan bahwa Polandia bukan sekadar Robert Lewandowski. Gol tunggal yang ia cetak pada partai perdana melawan Irlandia Utara dan satu asis untuk gol Jakub Blaszczykowski di partai penentuan melawan Ukraina membuktikan hal tersebut.

Joao Mario

Memakai nomor punggung "10" yang sama dengan Manuel Rui Costa, Deco, dan Joao Moutinho, tidak membuat Joao Mario tampil canggung untuk negaranya Portugal. Pemain kelahiran 19 Januari 1993 ini menunjukkan penampilan yang seakan ia adalah pemain yang berpengalaman. Ditempatkan sebagai gelandang serang atau terkadang menjadi satu dari trio penyerang, Joao Mario, tidak canggung ketika harus bersanding dengan para bintang lain seperti Nani dan Cristiano Ronaldo. Sepanjang turnamen ia menjadi pemain Portugal yang paling banyak melepaskan operan kunci yaitu sembilan operan.

Joshua Kimmich

Baru dimainkan di partai terakhir fase grup melawan Irlandia Utara, Joshua Kimmich langsung menjadi salah satu pemuda yang menarik perhatian sepanjang gelaran Piala Eropa 2016. Kimmich adalah satu dari empat pemain muda yang dibawa Joachim Low ke Prancis. Berposisi asli sebagai gelandang bertahan, Kimmich tampil bagus ketika ditempatkan sebagai bek kanan atau gelandang kanan. Penampilan terbaik Kimmich tentu saat Jerman mengalahkan Italia di babak perempatfinal. Meskipun tumbang di semifinal, Jerman tentu bisa berbangga karena mereka akhirnya menemukan suksesor dari Philip Lahm di posisi bek kanan.

Renato Sanches

Sama seperti pemain muda kebanyakan, awalnya, Renato Sanches dipanggil hanya untuk memberikan pengalaman dan menyiapkan sang pemain agar lebih matang di turnamen-turnamen selanjutnya. Hanya bermain 20 menit di partai pertamanya melawan Islandia, menit bermain Renato kemudian terus bertambah. Bersama William Carvalho, Renato menjadi kunci sukses permainan bertahan Portugal. Keduanya menjadi lapis pertama pertahanan di depan empat pemain belakang. Renato kemudian berhasil meredam serangan-serangan eksplosif lawan. Tentu yang terbaik adalah ketika ia memenangi duel lini tengah melawan para gelandang senior Kroasia di babak 16 besar.

Gol penyama kedudukan yang ia cetak kala Portugal melawan Polandia membuat Renato menjadi pemain termuda yang mencetak gol di fase knock-out Piala Eropa. Terlebih lagi ia melakukannya dengan spektakuler. Keberhasilan membawa Portugal ke tangga juara semakin melengkapi pencapaian Renato. Ia juga menjadi juara termuda Piala Eropa dengan usia 18 tahun 326 hari. Renato juga sudah dianugerahi gelar pemain muda terbaik turnamen oleh UEFA.

***

Lima pemain di atas adalah sedikit dari para pemain muda yang tampil luar biasa sepanjang Piala Eropa 2016. Ada duo gelandang Hungaria, Laszlo Kleinheisler dan Adam Nagy. Lalu, Kingsley Coman yang bermain untuk tim tuan rumah Prancis, Julian Draxler yang bermain untuk Jerman, kemudian Messi dari Turki, Emre Mor, dan tentu wonderkid Inggris, Dele Alli.

Berbeda dengan kompetisi liga yang panjang. Kemungkinan para pemain muda untuk tampil di suatu turnamen internasional amatlah kecil. Pemain muda lebih sering menjadi pelengkap ketimbang menjadi penggawa utama. Para pelatih timnas biasanya memasukkan pemain muda agar mendapatkan pengalaman dan bisa lebih siap di turnamen-turnamen selanjutnya.

Komentar