Messi Tidak Tercipta untuk Argentina

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Messi Tidak Tercipta untuk Argentina

Arti dari sebuah kegagalan berbeda bagi setiap orang, pun dengan Lionel Messi. Ia memang mampu mempertahankan gelar "Pemain Terbaik Dunia" secara beruntun sejak 2009 hingga 2012. Namun, pada 2013 dan 2014 gelar itu tak lagi jatuh padanya karena ia telah dikalahkan Cristiano Ronaldo, meski pada 2015 gelar itu kembali pada dirinya. Namun, bukan itu yang membuat Messi merasa begitu frustrasi, melainkan performa buruknya, untuk standar seorang Messi, di timnas.

Ada banyak pesepakbola yang merasa kalau pencapaian tertingginya adalah membela negara tempatnya lahir dan dibesarkan. Sementara itu, barangkali bukan Messi seorang diri yang ingin berkontribusi untuk negara, melainkan 43 juta warga negara Argentina yang ingin melihat negaranya berjaya di dunia. Mereka berharap Messi adalah jelmaan kehebatan Diego Maradona. Semua harapan pada akhirnya berubah menjadi beban; pada Messi dan kawan-kawan.

Argentina terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada 1986, sementara Copa America diraih pada 1993. Rakyat Argentina tentu merindukan gelar, terlebih dari lima kali penyelenggaraan Copa America sejak 2004, Argentina sudah empat kali ke final dan empat-empatnya menemui kegagalan.

Lalu, ada di mana Messi? Messi berada dalam skuat Argentina dalam gelaran final Copa America 2007, 2015, dan 2016. Tiga kali ke final, tiga kali pula gagal. Ini seolah melengkapi ke-nelangsa-an Messi yang gagal mengangkat trofi pada final Piala Dunia 2014.

Berbeda dengan partai final sebelumnya, Messi di Copa America Centenario adalah Messi yang hampir mirip dengan yang biasa kita temui di Barcelona. Penampilannya bukan cuma baik, tetapi juga menjadi inspirasi kemenangan Argentina atas lawan-lawannya.

Messi di Copa America Centenario adalah Messi yang mampu menginspirasi empat gol tambahan Argentina saat Albiceleste menang 5-0 atas Panama. Messi di Copa America Centenario adalah Messi yang memberi kebahagiaan kepada rekan-rekannya yang lain untuk mencetak gol.

Partai final semestinya menjadi partai puncak bagi siapapun, tapi tidak bagi Messi. Performa menakjubkan dengan catatan satu gol dua asis kala menghadapi Venezuela, serta satu gol dan dua asis dalam babak semifinal kontra AS, tak terlihat dalam partai final melawan Cile. Dalam pertandingan yang dihelat di MetLife Stadium pada Minggu (26/6) petang waktu Amerika Serikat, Messi tak tampak lagi. Menghadapi Cile yang memeragakan permainan keras, Messi justru lebih sering terjatuh.

Saat para pemain Cile bersuka cita, Messi justru duduk di bangku cadangan, kawan karibnya selama di babak grup Copa America. Barangkali, ia pun tak tahu pasti apa yang mesti ia sesali. Tendangan penalti yang gagal? Segalanya tentu bisa terjadi, tapi siapa yang meragukan Messi yang tak pernah berhenti berlatih? Di mana kegiatan sehari-harinya memang cuma berlatih dan berlatih.

Messi tahu kalau umurnya sudah tak muda lagi, walau tak terbilang terlalu tua juga. Lagipula, Argentina tampak masih bisa hidup tanpanya. Lihat saat Argentina menang 3-0 atas Bolivia. Tiga gol itu sudah hadir jauh sebelum Messi dimasukkan. Bahkan, Messi tak bermain saat Argentina mengalahkan Cile 2-1 di fase grup.

Mungkin, satu-satunya hal yang disesali oleh Messi tak lain adalah soal keberadaannya. Benarkah dirinya masih dibutuhkan tim? Atau justru rakyat Argentina masih menerima Messi hanya demi ambisi pribadi dan keegoisan Messi: menjadi juara di level klub dan timnas?

Rasa itu jelas terpancar karena Messi adalah satu dari dua penendang Argentina yang gagal mengeksekusi bola saat adu tendangan penalti. Semua mungkin saja berubah kalau Messi, sebagai penendang pertama, mampu mencetak gol. Mungkin saja kepercayaan diri para pemain Argentina, termasuk Lucas Biglia yang gagal mengeksekusi tendangan keempat Argentina, bisa kembali terangkat. Terlebih, Argentina ada di atas angin setelah gelandang Cile, Arturo Vidal, pun gagal menuntaskan tugasnya.

Tak berselang lama, Messi keluar dari ruang ganti. Ia, yang masih terbalut emosi, barangkali belum tahu apa yang mesti diucapkannya di hadapan wartawan yang tak lelah menantinya.

"Aku sudah selesai," ucap Messi. Dari wajahnya, tidak ada yang bisa menyangkal kalau kekecewaan itu membekas begitu dalam.

"Masaku bersama timnas [Argentina] telah berakhir. Timnas Argentina bukan untukku. Ini adalah final yang keempat. Aku telah mengambil keputusan, aku pikir seperti itu. [Kemenangan] adalah sesuatu yang paling aku inginkan, tapi ia tak kunjung datang. Ini yang aku rasakan dan pikirkan saat ini. Ini sebuah kesedihan yang teramat besar."

"Di ruang ganti, aku pikir kalau [karier] di tim nasional sudah berakhir. Timnas [Argentina] bukanlah untukku," ucap Messi.

Bertanding dalam empat laga final dan kesemuanya mengalami kegagalan tentu bukan ingatan yang indah untuk dirawat menjadi kenangan. Messi, dalam standar tinggi yang diterapkan padanya, telah menyerah. Ia telah memenuhi nubuat banyak orang kalau Argentina memang bukan untuk dirinya.

Komentar