Islandia: Menjaga Budaya Negara Melalui Nama -Son

Cerita

by Abrar Firdiansyah 42669

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Islandia: Menjaga Budaya Negara Melalui Nama -Son

Sebelumnya, kami membahas nama-nama dari pemain Turki di Piala Eropa 2016 yang didominasi oleh Hakan dan Emre. Nah, di artikel ini, kami akan membahas mengenai nama pemain asal Islandia yang didominasi oleh `imbuhan` –son (meski tidak semua nama pemain Islandia yang berakhiran -son).

Islandia berbeda dengan negara-negara asal Skandinavia lain yang nama belakangnya menggunakan nama yang sama dengan orang tuanya. Di Islandia, kata yang wajib digunakan sebagai nama adalah imbuhan –son (untuk anak laki-laki) dan –dóttir (untuk anak perempuan).

Sebagai contoh; pemain Islandia yang kini memperkuat Swansea, Gylfi Sigurdsson, nama depannya adalah Gylfi, sedangkan nama Sigurdsson berasal dari ayahnya yang bernama Sigurdur Adalsteinsson. Atau Perdana Menteri Islandia saat ini, Jóhanna Sigurðardóttir, yang memiliki nama depan Jóhanna, dan nama ayah Sigurdur.

Namun kini, dengan berkembangnya persamaan gender dan kebebasan memilih, membuat penggunaan nama belakang tidak hanya dibatasi dari orang tua pria saja. Nama ibu yang menjadi nama belakang pun sudah biasa. Contohnya adalah eks pemain Fulham, Heiðar Helguson, yang memiliki nama ibu Helga.

Apa yang digunakan di Islandia memang di luar pakem nama belakang sama dengan nama keluarga. Bahkan di abad 20, situs Iceland Review menuliskan, bahwa nama belakang yang menggunakan salah satu nama keluarga sudah merupakan hal yang lazim.

Meski demikian, di Islandia, menggunakan nama belakang sama dengan orang tua bukan hal yang aneh. Masih ada beberapa orang yang mewarisi nama orang tuanya. Contoh paling baru adalah anak bintang sepakbola Islandia Eiður Smári Guðjohnsen yang memiliki nama Sveinn Aron Guðjohnsen. Perlu diingat, ayah Eiður bernama Arnor Guðjohnsen. Biasanya hal tersebut diwajarkan karena orang tua yang bersangkutan hidup di luar Islandia.

Soal nama di Islandia memang membingungkan. Pemerintah Islandia bahkan memiliki badan khusus yang mengurusi soal nama, yakni komite nama pribadi (yang di Islandia disebut dengan Mannanafnanefnd).

Komite ini memang ditugaskan untuk mengurusi semua hal tentang penamaan warga Islandia. Salah satu hal yang besar yang pernah dibuat komite ini adalah soal pengadopsian nama keluarga, yang kini sudah dilarang kecuali yang akan diberi nama memiliki hak untuk diberi nama keluarga berdasarkan warisan.

Soal diperbolehkan – tidak diperbolehkannya nama, komite ini memang sudah memiliki patokan. Di antaranya adalah memiliki huruf dalam alfabet Islandia hingga dilarang menggunakan kata yang tidak sesuai dengan struktur bahasa Islandia.

Sebagai contoh, nama “Pedro” jelas bakal ditolak karena tidak ada huruf “o” dalam bahasa Islandia. Selain itu, nama “Carolina” juga jelas tidak akan diterima karena tidak ada huruf “c” dalam alfabet Islandia. Nama tersebut bakal diterima jika menggantinya dengan “Karólína”.

Sulitnya mengeja nama membuat segala urusan yang ada hubungannya dengan nama menjadi njelimet. Warga Islandia menyebut nama seseorang dengan nama depan. Lalu dalam buku telepon (yang biasanya di Eropa diurutkan berdasarkan nama belakang), diurutkan berdasarkan nama depan. Di buku telepon juga biasanya memberikan daftar pekerjaan yang bersangkutan untuk mempermudah pencarian.

Tujuan dari ketatnya pemberian nama warga Islandia ini adalah untuk membuat agar budaya lokal Islandia – dalam hal bahasa - tetap terjaga. Selain itu, dengan adanya peraturan ini diharapkan agar perbendaharaan bahasa Islandia tidak tercampur dengan bahasa negara Eropa lainnya. Sebab bagi warga Islandia, bahasa adalah elemen dasar dari suatu identitas negara.

Komentar