Malaikat Tak Bersayap dari Argentina yang Dirindukan

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Malaikat Tak Bersayap dari Argentina yang Dirindukan

Malaikat kadang tak bersayap, ucap lagu dari Dewi Lestari. Malaikat tidaklah selamanya makhluk, seperti yang kebanyakan orang deskripsikan, yaitu sebagai makhluk bersayap yang memiliki wajah rupawan. Dalam kepercayaan agama Islam, malaikat kadang menyamar ke bumi, berwujud seperti manusia dan memberikan sesuatu kepada manusia, seperti yang sudah pernah malaikat Jibril berikan saat menyamar menjadi manusia kepada Rasulullah SAW.

Namun, mungkin saja, akan terlalu berat bagi seorang manusia untuk menyandang predikat malaikat. Saat seseorang disematkan gelar sebagai seorang malaikat, maka secara tidak langsung sifat-sifat ke-malaikat-an juga akan tertempel pada dirinya. Ia akan dianggap sebagai juru selamat, pembawa cahaya, yang akan mengeluarkan umat dari kegelapan menuju jalan terang.

Coba tanyakan hal ini kepada beberapa orang, tak perlu jauh-jauh, para pesepakbola saja. Tanyakan kepada Zlatan Ibrahimovic, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo. Oh ya, jangan lupakan calon malaikat yang baru, Gareth Bale. Tanyakan kepada mereka apakah berat menanggung predikat sebagai malaikat bagi negara mereka sendiri.

Memangku harapan dari banyak orang. Menerima titipan dari banyak orang. Jika tidak juga memiliki sifat-sifat ke-malaikat-an, hal itu akan sulit untuk dilakukan. Kalau tidak memiliki sifat ke-malaikat-an, yang terjadi malah manusia yang disemati predikat malaikat itu akan merasa terbebani seumur hidupnya.

Lionel Messi tentu paham betul akan hal ini. Dirinya yang dianggap santo, malaikat, dan juru selamat Argentina pasti mengerti akan tekanan orang yang disematkan gelar seorang malaikat. Ia lebih mengerti dari siapapun tentang telunjuk yang mengarah kepada sang malaikat ketika tim yang dibelanya tidak kunjung meraih prestasi terbaik, apalagi Argentina memiliki nama malaikat pendahulu yang terkenal, yaitu Diego Armando Maradona.

Oleh karenanya, tak jarang dalam beberapa kesempatan, Messi sempat terlihat gusar kepada dirinya sendiri. Ia tampak terlihat gusar saat dirinya tidak mampu memanfaatkan peluang ataupun memberikan umpan matang. Malah, dalam ajang Piala Dunia 2014, kegusarannya itu ia tunjukkan dengan cara yang cukup elegan; ogah-ogahan menerima gelar Pemain Terbaik Piala Dunia 2014, karena sejatinya ia gusar tidak meraih trofi Piala Dunia 2014 yang hanya tinggal selangkah lagi saja dari genggaman.



Terlepas dari itu semua, terlepas dari kegusaran dan kegagalan yang ia alami, sosok Messi tetaplah dirindukan. Ketika ia tidak bermain, serasa ada yang kurang di timnas Argentina. Saat ia absen, seperti ada potongan puzzle yang hilang. Ketika Messi tidak bermain, pendukung pun mengelu-elukan nama pemain yang membela klub Barcelona ini. Mereka akan memasang spanduk “Ayo, cepatlah bermain, Messi” lebar-lebar di tribun agar sang pelatih timnas segera memainkan Messi.

Hal ini terlihat dalam laga perdana Argentina dalam ajang Copa America Centenario melawan Cile. Ketika itu, Messi tidak bermain karena masih diragukan kondisinya akibat cedera punggung yang ia alami saat laga persahabatan, meskipun pada pertandingan melawan Cile ia berada di bangku cadangan.

Tapi, pertanyaan mulai menyeruak ketika itu. Argentina menang dengan skor 2-1 atas Chile tanpa kehadiran Messi. Beberapa media pun mulai membuat judul provokatif, salah satunya adalah ESPN FC, yang berisikan tentang pertanyaan; Apakah Messi akan dirindukan? Apakah Sang Malaikat akan tetap dinanti?

Tentu ketika itu pertanyaan ini adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Namun, perlahan tapi pasti sang malaikat mulai menunjukkan kepakan sayap mereka dalam ajang Copa America Centenario ini bagi Argentina. Bermain pada pertandingan kedua melawan Panama, Messi langsung mencetak hattrick meskipun berstatus sebagai pemain pengganti saat itu.

Pada pertandingan selanjutnya, meski tidak mencetak gol, ia kembali menunjukkan kepak sayapnya di lapangan. Ia tertangkap kamera melakukan nutmeg kepada kiper Bolivia, Carlos Lampe. Entah apa yang dirasakan oleh Lampe sendiri usai kejadian itu.
Namun, kepak sayap dari malaikat ini semakin terlihat dalam pertandingan fase knockout. Kepakan sayap dari seorang malaikat bernama Lionel Messi menciptakan satu gol dan dua asis yang mengantar Argentina kepada kemenangan 4-1 atas Venezuela. Kemenangan yang mengantarkan Argentina ke babak semifinal.

Melihat apa yang dilakukan oleh Messi di tubuh timnas Argentina ini, maka, tidak heran kalau sebutan malaikat tersemat kepada dirinya. Dengan segala kemampuan yang ia miliki, tak salah kalau memang orang beranggapan demikian. Pengaruh yang ia berikan di tubuh timnas Argentina kelewat besar.

Bahkan, Opta mencatat, bahwa kehadiran Messi dapat memengaruhi jumlah gol per menit Argentina, dari yang asalnya enam gol per 33 menit menjadi enam gol per 20 menit. Messi adalah pemain penting.

Sekarang, yang perlu ia lakukan adalah mengepakkan sayapnya untuk membawa timnas Argentina menjuarai Copa America Centenario 2016. Cukup sudah menjadi runner-up di Piala Dunia 2014 dan Copa America 2015, sekarang adalah saatnya bagi dirinya untuk menjuarai turnamen hepi-hepi ini karena, Argentina tinggal butuh kepakan sayapnya untuk melakukan itu.

foto: en.wikipedia.org

Komentar