Ketika Zlatan Ibrahimovic Mengakui Kehebatan Muhammad Ali

Cerita

by Sandy Firdaus Pilihan

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Ketika Zlatan Ibrahimovic Mengakui Kehebatan Muhammad Ali

Muhammad Ali meninggal dunia. Di usianya yang menginjak 74 tahun ia sudah tidak kuat lagi menahan sakit dari penyakit Parkinson yang ia terima. Dunia berlinang air mata. Seorang legenda, dalam hal ini di dunia tinju, sudah meninggalkan kita terlebih dahulu. Ia pergi menuju keharibaan Tuhan. The Greatest is gone. Bersama dengan segala kenangan di dunia tinju yang ia catatkan.

Banyak orang yang terinspirasi akan sosoknya yang dikenal bermulut besar itu. Banyak orang yang mengaku menjadikan seorang Muhammad Ali sebagai teladan, atau role model dalam kehidupannya. Itu diakui oleh semua kalangan, tidak hanya dari kalangan petinju saja, tapi juga dari para olahragawan yang lain. Salah satu orang yang mengakui hal itu adalah seorang Zlatan Ibrahimovic.

Media Inggris, Daily Mail menyebutkan bahwa Zlatan mengaku bahwa Ali adalah yang terbaik. "Saya yang terbaik, tapi Muhammad Ali lebih baik daripada saya," ujarnya pada suatu waktu. Dan, dalam sebuah wawancara dengan Eurosport, Zlatan kembali mengungkapkan kekagumannya kepada seorang Muhammad Ali, dan ya, mengakui bahwa Ali memang pantas disebut sebagai legenda.

Saat menjalani sebuah sesi wawancara bersama dengan seorang wartawan dari Eurosport, Zlatan sedikit menghela nafas dan tersenyum saat sang wartawan memberikannya sebuah potret seseorang, yang ia sebut sebagai role model bagi dirinya.

"Orang ini adalah role model dalam hidup saya. Salah satu orang yang saya kagumi. Muhammad Ali," ujarnya kepada wartawan Eurosport tersebut usai dirinya disodorkan sebuah potret bergambarkan sosok Muhammad Ali.

Zlatan pun di sini mengakui bahwa Ali adalah seorang yang arogan. Ia juga tidak sungkan untuk mengatakan bahwa Ali adalah orang yang bermulut besar. Namun bedanya, ia juga menyelipkan sebuah pujian di sini untuk Ali.

"Yah, saya mengakui kalau ia (Ali) memang orang yang bermulut besar. Namun, mulut besarnya itu sebanding dengan kemampuan yang ia miliki. Ia membuktikannya di dalam ring dengan mengalahkan lawan-lawannya. Bagi saya, ia berbicara sesuai dengan kemampuan yang ia miliki," ujar Zlatan.

"Ia tak kenal menyerah. Seperti itulah seorang Muhammad Ali," tambahnya.

Lalu, sesi wawancara menjadi semakin menarik tatkala si wartawan mengucapkan bahwa ia melihat ada kemiripan antara Zlatan dan Ali. Ia melihat bahwa Zlatan dan Ali sama-sama arogan, penuh kepercayaan diri, dan selalu siap untuk bertarung di lapangan. Ketika ditanya apakah Zlatan merasa bahwa dirinya merasa mirip dengan Muhammad Ali, ia langsung mengelak.

"Sulit bagi saya menyamakan diri saya dengan seorang Muhammad Ali. Bagi saya, ia adalah seorang legenda. Saya sama sekali tidak terpikir bahwa saya dan Ali itu mirip. Ia lebih baik. Namun, jika ini masalah kepercayaan diri, tentunya saya tidak kalah dengan ia (Ali), karena kepercayaan diri itu sangatlah penting," ungkapnya.

Ketika sang wartawan menyinggung masalah tentang Zlatan dan Ali yang arogan, ia menjawab dengan sedikit diplomatis bahwa ia memang arogan dan itu adalah sifat alamiah seseorang.

"Arogan? Yah, sifat itu memang muncul dengan sendiri, alamiah. Seperti halnya jiwa pemimpin yang muncul secara alami dari dalam diri manusia. Tapi, mungkin, arogan di sini adalah karena ada bagian dari diri saya yang tidak bisa dimasuki oleh seseorang," ujarnya.

"Hal itu seperti, , saya memiliki ring saya sendiri, dan saya tidak mengizinkan semua orang masuk ke dalam ring saya. Mungkin karena itulah saya terlihat arogan di mata orang lain." tambahnya.

Zlatan pun menyebutkan bahwa, seperti Ali, orang boleh arogan asalkan ia dapat membuktikan. Bagi pesepakbola, bukti di atas lapanganlah yang terpenting.

"Namun, yang terpenting adalah apa yang kita lakukan di atas lapangan, sebagai pesepakbola. Jika anda tidak melakukan pekerjaan anda dengan baik di atas lapangan dan anda masih saja arogan, maka anda akan terlihat seperti badut. Namun, jika anda bersifat arogan namun anda dapat membuktikannya di atas lapangan, seperti Ali di atas ring tinju, maka anda akan menjadi seorang legenda," ungkapnya.

***

Memang, terlihat jelas bahwa Zlatan mengakui bahwa dirinya adalah seseorang yang arogan. Namun, dalam sifat arogan itu, Zlatan juga menyebutkan atribut-atribut lain seperti rasa hormat, kerja keras, dan sifat pantang menyerah. Seperti Yin dan Yang yang membentuk keseimbangan hidup, sifat arogan pun bercampur dengan rasa hormat, kerja keras, dan pantang menyerah.

Hal itulah yang terlihat dalam diri Zlatan Ibrahimovic dan Muhammad Ali. Sebuah hal negatif dan positif yang bercampur menjadi sebuah keseimbangan yang menghasilkan prestasi dan sebuah sematan; legenda.



foto: 101greatgoals.com

Komentar