Wahai Liverpool, Kegagalan adalah Bumbu Keberhasilan di Masa Mendatang

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Wahai Liverpool, Kegagalan adalah Bumbu Keberhasilan di Masa Mendatang

Pernah Truman Capote, seorang penulis dari Amerika Serikat, berujar bahwa "Kegagalan akan menjadi bumbu yang memberikan rasa bagi keberhasilan yang akan diraih kelak". Sebuah kutipan penyemangat bagi orang-orang yang sedang berada di posisi bawah, dan, untuk saat ini, mungkin Liverpool adalah klub yang sedang merasakan hal itu.

Kamis (19/5) dini hari WIB, Basel adalah tempat yang menjadi saksi di mana mimpi seorang manajer bernama Juergen Klopp untuk menjuarai Europa League sebagai salah satu jalan bagi timnya, Liverpool, untuk menuju Liga Champions Eropa resmi pupus. Tim yang memupuskan mimpi Klopp dan juga mimpi Liverpool itu bernama Sevilla. Dalam laga final Europa League di St. Jakob Park Stadium, Basel, Sevillistas mengalahkan The Reds dengan skor 3-1.

Resmi sudah bahwa Liverpool tidak akan berkompetisi di Eropa musim depan, seperti halnya Chelsea. Liverpool mengakhiri musim di peringkat kedelapan, dan mereka tidak masuk jatah peringkat kompetisi Eropa musim depan, baik itu Liga Champions Eropa maupun Europa League.

Hal ini tentu saja menyisakan sebuah kesedihan bagi seorang Juergen Klopp. Apalagi, timnya sempat unggul 1-0 pada babak pertama melalui gol yang dicetak oleh seorang Daniel Sturridge, sebelum akhirnya tiba-tiba kedudukan berubah menjadi 1-3 lewat dua gol Coke dan satu gol dari Kevin Gameiro pada babak kedua.

Berbicara perihal kekalahan ini, Klopp tidak mau menyalahkan para pemainnya dan ia menimpakan kesalahan atas kekalahan ini kepada dirinya sendiri sebagai manajer. Kepada Mirror, Klopp mengatakan bahwa seharusnya ia mampu untuk menggiring kembali anak asuhnya kepada performa dan rencana yang seharusnya.

"Ketika kebobolan gol pertama, kami kehilangan gaya bermain kami. Pergerakan pemain menjadi melambat dan hal itu menimbulkan banyak celah di lini pertahanan kami," ujar Klopp.

"Namun dalam situasi seperti sekarang ini, saya sebagai manajer harus berhenti menyalahkan pemain dan lebih berfokus kepada diri saya sendiri. Mungkin saja kesalahan terletak kepada saya sehingga pemain tidak dapat bereaksi dengan baik atas perubahan strategi yang dilakukan Sevilla pada babak kedua," tambahnya.

Meski memang mengakui bahwa ia sama sekali tidak menyalahkan pemain, manajer asal Jerman ini tetap mengakui bahwa wasit setidaknya melakukan beberapa kesalahan dalam pertandingan tersebut, termasuk handball sebanyak tiga kali yang, menurut Klopp, seharusnya berbuah tendangan penalti.

Untungnya, Klopp pun tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut dan pada akhirnya lebih berpikir kepada bagaimana caranya mengembangkan Liverpool lewat pelajaran dari kekalahan yang di dapat atas Sevilla ini.

"Orang-orang membicarakan tentang handball dan penalti yang seharusnya kami dapat. Sayangnya, keputusan wasit sama sekali tidak memihak kami dalam laga final ini. Saya kira, keberuntungan tidak menyertai kami dalam laga ini. Sekali lagi, terlalu banyak keputusan wasit yang tidak memihak kami," tegas Klopp seperti dilansir Guardian.

"Namun, tak ada gunanya bagi kami untuk meratapi keputusan itu karena semua sudah terjadi. Yang kami bisa lakukan sekarang adalah menggunakan kekalahan ini sebagai pengalaman untuk pertandingan-pertandingan kami selanjutnya. Musim depan kami tidak ada pertandingan di Eropa, dan saat itu akan kami gunakan untuk berlatih lebih keras agar dapat kembali ke ajang Eropa dengan lebih siap dan matang," pungkasnya.

Rasa kekalahan dan menjadi seorang pesakitan ini memang bukanlah yang pertama kali dialami oleh seorang Juergen Klopp. Pada Liga Champions Eropa musim 2012/2013, saat ia masih menangani Borussia Dortmund, ia pernah merasakan kegetiran menjadi seorang runner-up setelah dalam partai final yang berlangsung di Wembley, timnya dikalahkan oleh Bayern Muenchen 2-1.

Musim 2015/2016 ini saja bukanlah musim pertama Klopp mendapatkan gelar runner-up. Dalam final Piala Liga Inggris, Liverpool harus puas menjadi juara dua setelah dalam partai final dikalahkan oleh Manchester City lewat drama adu penalti dengan skor 1-3.

Rasa sedih, pun rasa cemburu dari kegagalan itu pastilah ada, tidak mungkin tidak ada. Bagaimana rasanya menjadi seorang pesakitan sedangkan yang lain menjadi pahlawan kemenangan yang dielu-elukan. Anak asuhnya bahkan sampai menunduk tak percaya hal ini dapat terjadi.

Para pemain Liverpool yang bersedih. (foto: bbc.co.uk)

Para pemain Liverpool yang bersedih usai kekalahan atas Sevilla. (foto: bbc.co.uk)

Namun, benar seperti yang dikatakan oleh Truman Capote, seseorang harus merasakan penderitaan dulu agar nanti kesuksesan yang diraih bakal lebih terasa nikmatnya. Klopp boleh saja menjadi runner-up untuk saat ini, tapi, mungkin saja di musim-musim nanti ia akan mengantarkan Liverpool meraih gelar juara. Mungkin saja.

foto: itv.com, bbc.co.uk

ed: fva

Komentar