Unai Emery, dari Penyunting Video Hingga Pelatih Juara Liga Europa

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Unai Emery, dari Penyunting Video Hingga Pelatih Juara Liga Europa

Sevilla berhasil mencatatkan diri sebagai kesebelasan yang mampu menjuarai Liga Europa 2015/16 tiga kali secara beruntun. Kepastian ini didapat setelah Kamis (19/5) dini hari WIB, anak asuh Unai Emery mengalahkan Liverpool 1-3 di Stadion St. Jakob Park, Basel, Swiss.

Torehan tersebut begitu membanggakan bagi kesebelasan asal daerah Andalusia ini. Pasalnya, pencapaian ini memecahkan rekor Sevilla sebelumnya yang berhasil dua kali menjuarai Liga Europa saat dilatih pelatih senior, Juande Ramos.

Tak heran, nama Unai Emery langsung disanjung usai memenangkan gelar tersebut. Sebab bagi Emery gelar ini membuatnya sejajar dengan Ramos yang berhasil mengoleksi tiga gelar major tournament.

***

Melihat pencapaian yang didapatkan oleh Emery, hampir semua orang memujanya. Bagaimana tidak, Sevilla yang dilatihnya dalam tiga musim terakhir mampu ia bawa selalu juara Liga Europa. Namun, jika melihat latar belakangnya, rasanya tidak perlu sekaget itu karena ia sendiri lahir dan tumbuh dari kalangan pesepakbola yang dikenal berprestasi.

Kakek Emery adalah Antonio Emery yang berhasil memberikan dua gelar Piala Raja ke Real Union Club. Sementara ayahnya, Juan Emery, malang melintang bersama banyak kesebelasan Spanyol. Di antaranya adalah Deportivo La Coruna, Recreativo Huelva, dan Granada.

Lahir dari keluarga pesepakbola di kawasan Basque membuat Emery kerap diajak ayah, bahkan kakeknya, untuk mengunjungi stadion setiap akhir pekan. Di sana Emery kecil tidak hanya menonton, tapi juga mendiskusikan segala hal yang menarik mengenai pertandingan, seperti permainan.

Seringnya berakhir pekan di stadion, membuat Emery kecil tertarik untuk terjun secara langsung di sepakbola. Pada awal 1990-an, ia pun bergabung dengan kesebelasan di daerahnya, Real Sociedad B, dengan posisi bermain sebagai gelandang kiri.

Bertambahnya tahun membuat Emery semakin matang. Namanya kian besar saat ia dimasukkan oleh Javier Irureta ke kesebelasan utama Sociedad. Meski demikian, persaingan ketat di Sociedad membuat namanya terbuang dari Basque dan membuatnya hijrah ke kesebelasan divisi dua, FC Toledo.

Pindah ke Toledo, membuat Emery mendapatkan banyak menit bermain. Ia pun menghabiskan empat musim di sini. Setelahnya ia hijrah ke Racing Ferrol, Leganes, dan Lorca di divisi tiga.

Jelang akhir musim 2003/04, Emery menderita cedera lutut parah dan membuatnya harus absen hingga musim baru. Lorca yang saat itu sedang krisis keuangan pun menawarkan jabatan pelatih kepala kepada Emery. Ia pun setuju.

Minimnya keuangan Lorca membuat Emery sempat kesulitan menangani Lorca di awal karier kepelatihannya. Tapi, dia ingat ucapan kakeknya yang berbunyi: “Uang bukan segalanya di sepakbola. Karena yang terpenting adalah membuat penonton bisa terhibur dari permainan yang kamu tunjukkan,” ujarnya.

Motivasi tersebut nyatanya benar-benar dipraktekkan oleh Emery di Lorca dan membawa kesebelasan tersebut promosi ke divisi dua Spanyol atau yang dikenal dengan nama Segunda Division.

Apa yang ia lakukan bersama Lorca membuat kariernya melesat cepat. Di musim 2006/07, ia ditawari menjadi pelatih Almeria dan berhasil membuat kesebelasan tersebut promosi ke La Liga untuk kali pertama semusim berikutnya.

Musim 2008/09, ia ditunjuk menjadi pelatih Valencia usai Ronald Koeman dipecat. Kedatangan Emery di Valencia sendiri tidak seperti yang ia perkirakan. Pasalnya, di tahun tersebut El Che sedang mengalami krisis keuangan.

Meski tengah mengalami krisis, Emery tetap mampu membawa Valencia bermain tanpa celah. Musim 2010/11 bisa menjadi contohnya. Di awal musim, mereka membuang David Villa, David Silva, Nikola Zigic, dan Carlos Marchenna. Fans El Che pun berteriak bahwa kesebelasan yang mereka dukung akan merosot. Namun di akhir musim, Emery mampu meredam semua ketakutan tersebut dengan membawa Valencia duduk di posisi ketiga.

Emery mengakhiri kariernya di Valencia pada musim 2011/12 untuk menjadi pelatih kesebelasan Rusia, Spartak Moskow. Karier Emery di Moskow tidak berjalan sesuai keinginannya. Pemilik Spartak, Leonid Fenun, langsung memecatnya enam bulan sejak dilantik usai kesebelasannya kalah dalam derby Moskow, saat menghadapi Dynamo Moskow.

Januari 2013, Emery dilantik menjadi pelatih Sevilla usai menggantikan Michel yang dipecat karena hanya mampu membawa kesebelasan ini duduk di posisi ke-12.

***

Soal aspek kepelatihan, Emery memang dididik untuk paham mengenai taktik sejak kecil. Oleh karena itu tak terlalu mengherankan melihat namanya sukses di beberapa kesebelasan.

Dilansir situs resmi UEFA, Emery selalu membiasakan pemainnya untuk menonton video permainan kesebelasan lawan jelang pertandingan. Uniknya, Emery sendiri yang mencari, mengompilasikan, dan menyunting videonya.

Klip video ini begitu dirasa penting oleh Emery. Masih menurut situs resmi UEFA, ia bahkan beberapa kali menghukum pemainnya yang ia ketahui tidak menonton video tersebut.

Tidak hanya soal video, Emery juga pelatih yang gemar memberikan treatment khusus bagi pemainnya jelang pertandingan. Daily Mail mengungkapkan bahwa pendekatan ini ia gunakan untuk memberikan motivasi berlipat bagi pemainnya dalam pertandingan.

Salah satu “korban” treatment ini adalah Jose Antonio Reyes. Pada suatu laga, beberapa suporter meminta Emery untuk membangkucadangkan Reyes. Emery sendiri tidak menanggapi hal tersebut. Dan ia memilih berkata kepada Reyes: “Jose (Antonio Reyes), kamu tahu kan apa yang mereka katakan kepada kamu?”

“Ayo lakukan yang terbaik di luar sana. Buktikan bahwa kamu bisa,” imbuh Emery. Dan pada akhirnya pilihan Emery terbukti: Reyes bermain baik dan Sevilla menang.

Satu aspek lain yang membuat Emery begitu dikagumi adalah kesederhanaannya. Pelatih yang gemar mengenakan jas ini mengaku tidak pernah meminta anak asuhnya untuk mencapai hal yang begitu berat untuk dicapai. Seperti halnya Liga Champions yang tidak pernah ia targetkan.

“Liga Champions merupakan kompetisi yang begitu menarik. Kami bahkan memiliki keinginan untuk bermain di sana setiap musimnya. Tapi kami juga sadar bahwa di sana ada banyak kesebelasan hebat dan kami sadar sangat sulit untuk mengalahkannya,” ujar Emery.

“Kami harus sadar bahwa bermain di sana begitu sulit. Oleh karena itu saya menargetkan (anak-anak) untuk bermain di Liga Europa karena kami tahu bisa memenangkan itu,” pungkasnya.

***

Atas pencapaian dan hal yang ia pegang, tak terlalu mengherankan melihat Emery menjadi buruan kesebelasan-kesebelasan besar. Real Madrid dan AC Milan misalnya.

Madrid diketahui sudah menjalin kontak dengan Emery pada awal musim ini. Namun Europa Press mengklaim kontak tersebut tidak berlanjut dan Madrid pada akhirnya memilih Rafael Benitez. Sementara Milan diketahui menginginkan Emery pada akhir tahun lalu untuk menjadi pelatih di awal musim 2016/17.

Melihat keinginan kesebelasan-kesebelasan besar terhadapnya, apakah Emery akan hijrah di akhir musim?

Komentar