Momen-momen Terbaik Sepanjang Liga Primer Inggris musim 2015/2016

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Momen-momen Terbaik Sepanjang Liga Primer Inggris musim 2015/2016

Momen akan selalu terjadi dimana saja, selama di dalamnya ada peristiwa dan ada orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Ia akan menjadi sebuah momen ketika peristiwa itu meninggalkan sebuah kenangan, yang kelak bisa diceritakan kepada anak cucu dan juga generasi setelahnya.

Pun dengan Liga Inggris musim 2015/2016, di dalamnya banyak sekali momen atau kejadian yang terjadi yang menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan. Beberapa diantaranya adalah kenangan yang menyenangkan, sendu, lucu, namun ada juga kenangan yang menyesakkan sekaligus buruk.

Berikut adalah beberapa momen yang terjadi dalam ajang Liga Primer Inggris musim 2015/2016, yang kelak akan dipandang sebagai sebuah kenangan oleh generasi Liga Primer Inggris selanjutnya.

Insiden Jose Mourinho vs Eva Carneiro

Momen ini terjadi tepat saat Liga Primer Inggris musim 2015/2016 baru saja dimulai. Ketika itu Jose Mourinho masih menjadi manajer Chelsea. Sebagai juara musim 2014/2015, Chelsea pun diunggulkan untuk menjadi juara lagi pada musim 2015/2016 ini, meski pada akhirnya The Blues gagal menjadi juara.

Tanda-tanda Chelsea tidak akan menjadi juara musim 2015/2016 sudah terlihat sejak awal kompetisi, bahkan saat pertandingan pertama. Ketika itu, Chelsea sedang menghadapi Swansea City. Di tengah-tengah pertandingan, Eden Hazard terjatuh setelah berduel dengan pemain Swansea. Melihat Hazard yang tergeletak, otomatis tim medis Chelsea, yang saat itu masih dihuni oleh Eva Carneiro, langsung masuk ke lapangan.

Namun, apa yang terjadi? Jose Mourinho kemudian memarahi Eva karena dianggap memperlambat tempo permainan sekaligus membuang-buang waktu. Ia pun akhirnya melarang Eva untuk mendampingi tim Chelsea dalam sisa pertandingan yang akan dilakoni Chelsea, yang pada akhirnya berujung kepada pengunduran diri Eva.



Baca juga: Cerita Staf Medis Chelsea dan Man. United di Pekan Pertama

Ranieri Menangis Usai Leicester City Menang dan Semakin Dekat dengan Gelar Juara

Orang menangis adalah hal yang wajar, dan biasanya tangisan mencerminkan sebuah perasaan yang tulus, dan juga sebuah ekspresi dari kebahagiaan. Setidaknya inilah yang terpancar dari seorang Claudio Ranieri.

Ketika itu, tepatnya pada Minggu (10/4) malam, Leicester City meraih kemenangan atas Sunderland di Stadium of Light dengan skor 2-0. Dua gol Leicester ketika itu dicetak oleh Jamie Vardy, sekaligus membawa The Foxes semakin dekat dengan tangga juara Liga Primer Inggris, saat itu.

Claudio Ranieri pun menangis. Namun, ternyata alasan dibalik tangisannya itu bukan hanya karena Leicester menang, tapi karena di Stadium of Light banyak sekali para lansia yang mengenakan jersey Leicester dan mendukung Leicester. Momen itu begitu emosional bagi The Tinkerman sampai-sampai membuat dirinya menangis.

Setidaknya, sekarang Ranieri bisa membahagiakan para lansia tersebut, karena pada akhirnya ia bisa menyumbangkan gelar Liga Primer Inggris bagi Leicester City pada akhir musim 2015/2016. Congratulations, Ranieri!



Baca juga: Tangisan Claudio Ranieri Saat Leicester City Semakin Dekat Dengan Gelar Juara Liga Primer Inggris

Van Gaal yang Cukup Ekspresif Musim Ini

Seseorang yang biasanya pendiam, terlihat kalem, dan tidak terlalu motah (ekspresif dalam bahasa Sunda) bisa saja tiba-tiba menjadi seseorang yang sangat ekspresif pada suatu hari. Inilah yang terjadi pada seorang Louis van Gaal.

Ia yang biasanya santai dan lebih banyak duduk sembari mencatat, pada pertandingan antara Manchester United melawan Arsenal di Old Trafford tiba-tiba saja menjadi seseorang yang ekspresif. Dalam suatu kejadian, ia menganggap seorang pemain Arsenal melakukan diving, dan ia langsung turun dari bench dan mencak-mencak kepada ofisial pertandingan karena tidak memberikan pelanggaran kepada Arsenal.



Saking lucunya aksi jatuh van Gaal ini, sampai banyak beberapa meme yang menggunakan aksi van Gaal ini. Beberapa meme tersebut dapat anda lihat dalam video di bawah ini.



Bukan hanya saat melawan Arsenal saja van Gaal menjadi ekspresif. Dalam sebuah sesi wawancara usai pertandingan Manchester United melawan Leicester City yang berakhir dengan skor 1-1, van Gaal melakukan sebuah aksi yang aneh sekaligus unik dalam rangka membela pemainnya, Marouane Fellaini. Fellaini memang menjadi sorotan usai laga akibat aksi sikutannya terhadap Robert Huth yang menjambak rambut kribonya.

Untuk membela pemainnya itu, van Gaal mengatakan dalam wawancara kepada wartawan "Saya kira aksi Fellaini itu adalah reaksi alamiah yang dilakukan saat seseorang menjambak rambut. Apa yang akan anda lakukan kalau saya menjambak rambut anda?" ujar van Gaal sambil mempraktikkan gerakan tangan seperti akan menjambak rambut.

Van Gaal, oh, van Gaal.



Baca juga: Diving Van Gaal dan Kenyataan Seseorang yang Ekspresif

Juan Mata Tunjukkan Sisi Kemanusiaannya

Masih dalam pertandingan yang sama, tepatnya saat pertandingan Man. United melawan Norwich City, ketika manajernya justru terlihat seperti orang yang banyak gaya, Juan Mata tidak mengikuti gaya manajernya itu. Sebagai seorang pemain, ia memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Bahkan, ia rela gajinya dipotong karena merasa bahwa bayarannya sebagai pemain terlalu tinggi.

Di Carrow Road, ia pun menunjukkan sisi kemanusiaannya sebagai pemain. Saat ada seorang suporter yang ingin berfoto dengannya, meskipun suporter tersebut adalah seorang difabel, ia tetap dengan setia melayani permintaan penggemarnya itu dan berfoto bersama. What a man!



Baca juga: Sisi Humanis Seorang Juan Mata. Rela Gaji Dipotong dan Dukungan Kepada Difabel

Battle of the Bridge

Sebagaimana halnya sebuah medan pertempuran, lapangan sepakbola pun tak ubahnya seperti medan tarung yang mempertemukan dua tim sepakbola yang mengejar sebuah kemenangan. Namun, apa yang terjadi pada saat laga antara Chelsea melawan Tottenham Hotspurs benar-benar pertempuran dalam artian sesungguhnya.

Spurs yang memang sedang mengejar Leicester City terlihat bermain kalap di Stamford Bridge. Beberapa kali mereka melakukan pelanggaran yang memancing amarah para pemain Chelsea sehingga kerap kali terjadi kejadian adu jotos antara pemain Spurs dan Chelsea. Adu jotos yang tentunya menyita perhatian adalah antara Danny Rose dan Willian serta Moussa Dembele dan Diego Costa.

Total sembilan kartu kuning untuk Spurs dan tiga kartu kuning untuk Chelsea keluar dari saku wasit. Rekor ini menjadikan Spurs sebagai tim terbanyak pengoleksi kartu kuning dalam satu pertandingan, dengan total sembilan kartu. Pertandingan berakhir dengan skor 2-2, dan The Lilywhites pun gagal menjadi juara.



Baca juga: Koboi-Koboi di Stamford Bridge

Selamat Tinggal, Boleyn Ground

Musim ini, West Ham menandai pertandingan terakhirnya di Boleyn Ground Stadium, atau sering juga disebut sebagai Upton Park Stadium saat menghadapi Manchester United pada 10 Mei 2016 yang berkesudahan 3-2 untuk kemenangan West Ham. Pertandingan yang diakhiri dengan derai air mata karena mereka akan meninggalkan rumah yang lama, yang sudah mereka tempati sejak 1904.

Namun, bersamaan dengan kepergian mereka ke stadion yang baru musim depan, yang bernama Olympic Stadium, mereka juga meninggalkan jejak buruk, yakni penyerangan terhadap bus tim Manchester United sesaat sebelum pertandingan dimulai di wilayah Green Street yang dilakukan oleh sekelompok hooligan West Ham.

Sebuah memori yang indah (kemenangan dramatis atas MU) sekaligus memori yang mengesakkan (penyerangan terhadap bus MU)

***

Inilah deretan-deretan momen-momen menarik yang terjadi selama gelaran Liga Primer Inggris musim 2015/2016. Adakah momen-momen di atas menjadi momen yang berkesan bagi anda? Atau adakah momen yang menarik versi anda sendiri?

Komentar