Pengalaman Getir Sadiq Khan sebagai Suporter Sepakbola

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pengalaman Getir Sadiq Khan sebagai Suporter Sepakbola

Nama Sadiq Khan sedang menjadi pembicaraan di seluruh penjuru dunia. Kesuksesannya menjadi muslim pertama yang menjadi pemimpin kota London membuat namanya kian berkibar. Di balik hal tersebut, tidak banyak yang tahu kalau pemimpin keturunan Pakistan ini sangat menggemari sepakbola.

Khan mengaku, ketika ia masih menjabat sebagai anggota parlemen London, ia kerap menghabiskan waktu senggangnya dengan bermain sepakbola. Ia pun menjadi pemain tengah reguler di tim sepakbola parlemen.

Bercerita mengenai kegemarannya terhadap sepakbola, belum lengkap jika belum menyinggung klub favorit. Anak dari seorang supir bis ini menjelaskan bahwa ia begitu mencintai Liverpool. Khan beralasan ia menyukai Liverpool karena begitu mengagumi permainan The Reds pada era 1980-an.

“Era 1980-an merupakan saat yang tidak menyenangkan bagi kami yang minoritas untuk menonton sepakbola secara langsung di lapangan. Oleh karena itu saya lebih banyak mengetahui sepakbola lewat siaran televisi maupun program Match of the Day. Pada akhirnya saat itu saya menyukai John Barnes,” ujar Khan seperti dikutip dari Liverpool Echo tahun lalu.

Sepakbola era 1980-an sendiri memiliki makna mendalam bagi Khan. Pasalnya, pada era tersebut, Khan mengaku bahwa sepakbola bukan hanya soal di dalam lapangan saja, tapi juga di luar lapangan. Dan salah satu budaya buruk sepakbola era tersebut adalah rasisme. Khan bahkan tidak luput menjadi korban kasus tersebut.

“Pengalaman menonton sepakbola saya pertama kali begitu buruk. Saat itu, saya bersama dua saudara lelaki saya akan pergi ke Stamford Bridge untuk menonton Chelsea,” ujar Khan mengawali cerita.

“Tapi keinginan menonton (Chelsea) tidak pernah terjadi karena kami malah dihina secara rasial oleh sekelompok orang yang mengenakan sepatu Dr. Martens dan bomber jaket berwarna hijau,” imbuh Khan.

Pengalaman kedua Khan juga tidak terlalu baik. Ia mengaku malah menjadi korban dari suporter klub yang ia bela, Wimbledon. Ia bercerita, “Kejadian tersebut terjadi ketika saya akan menonton Wimbledon di Plough Lane untuk menyaksikan Wimbledon melawan Spurs (Tottenham Hotspur).”

“Suporter Wimbledon mengira saya adalah suporter Spurs dan saya dipanggil dengan nama Yid. Saya sendiri saat itu tidak mengenakan kostum yang mencolok, karena jika Anda mengenakan warna yang menunjukkan dukungan, Anda akan dipukuli. Dan sialnya, saya justru mengalaminya.”

Khan pada akhirnya harus menerima “akibat” karena tindakannya tersebut. Dia harus menerima pukulan dan perkataan kasar dari suporter Wimbledon tersebut.

Kasus-kasus rasial yang diterima oleh Khan pada akhirnya membuat ia ingin mengubah sepakbola. Langkahnya terwujud mana kala ia dipilih menjadi Walikota London menggantikan Boris Johnson. Selain itu, ia juga dipilih menjadi duta anti-rasial bersama kapten Queens Park Rangers, Clint Hill.

“Sebagai penggemar sepakbola, mari kita sama-sama menghilangkan rasisme dari lapangan hijau. Hal ini dilakukan untuk sekaligus mengurangi kejahatan-kejahatan yang sering muncul di sepakbola,” ujar Khan seperti dikutip dari Mirror.

“Setiap orang pasti tidak ingin mendengar ucapan-ucapan bernada rasial. Pasalnya, hal itu memiliki efek psikologis bagi korban,” imbuhnya.

Khan menilai perkembangan sepakbola terutama kasus rasial memang sudah tidak sebanyak 1980-an, tapi ia merasa hal tersebut masih menjadi persoalan.

“Pada 2015 masih banyak kasus kekerasan rasial yang terjadi dalam sepakbola. Memasuki 2016 kita harus mulai berpikir untuk sama-sama menyelesaikan ini,” ucapnya. “Jika kita mampu menyelesaikan kasus ini tentu pertandingan akan menjadi lebih nyaman.”

Khan beralasan dengan membaiknya kasus kekerasan rasial, sepakbola Inggris akan jauh lebih bisa dinikmati. Ia menambahkan, dengan baiknya sepakbola Inggris secara keseluruhan, maka prestasi tim nasional hanya tinggal menunggu waktu.

“Sepakbola bisa menjadi suatu hal yang positif. Sarana untuk perubahan sosial. Jika kita mampu sama-sama membersihkan sepakbola dari hal-hal buruk, saya yakin sepakbola Inggris akan maju,” tutup Khan.

ed: fva

Komentar