Andrea Bocelli, Ranieri dan Cara Italiano Merayakan Kejayaan dengan Elegan

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Andrea Bocelli, Ranieri dan Cara Italiano Merayakan Kejayaan dengan Elegan

Suasana kandang Leicester City, King Power Stadium, begitu riuh Sabtu (8/5) malam WIB atau siang waktu Inggris. Pada hari tersebut, Piala Liga Primer akan diserahkan kepada Leicester City, juara kompetisi level teratas di Inggris tersebut pada awal pekan lalu.

Keriuhan ini di King Power memang terbilang telat. Pasalnya, pendukung dan pemain Leicester sudah lebih dulu berpesta awal pekan lalu setelah rival terberatnya untuk menjadi juara, Tottenham Hotspur, hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan Chelsea.

Meski demikian, bukan berarti pesta di stadion tidak terasa. Stadion tersebut terlihat penuh sesak dengan suporter yang membawa kertas berwarna putih dan biru. Tidak hanya itu, dari siaran televisi yang diambil oleh drone yang terbang di atas King Power, masih terlihat lautan manusia di luar stadion kendati pertandingan akan digelar beberapa menit lagi.

Pertandingan Leicester vs Everton tadi malam sendiri dimulai dengan tidak biasa. Sebelum laga digelar, Manajer Leicester, Claudio Ranieri, terlihat menggandeng salah seorang penyanyi tenor legendaris asal Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan akan menyumbangkan lagu.

Bocelli sendiri memasuki lapangan dengan menggandengkan tangannya ke Ranieri. Riuhnya penonton yang hadir di King Power pun menyambut masuknya Bocelli ke lapangan. Keriuhan ini bahkan sampai membuat Ranieri meminta penonton untuk sedikit diam karena ia akan memperkenalkan Bocelli kepada suporter Leicester.

Arahan Ranieri untuk menyuruh diam akhirnya didengarkan suporter Leicester. Suasana stadion yang dibuka pada 2002 ini pun sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih khidmat. Kekhidmatan bahkan semakin terasa kala lagu Nessun Dorma yang dibawakan oleh Bocelli memasuki klimaks-nya.

Suasana khidmat yang terbangun di King Power sedikit demi sedikit berubah menjadi keharuan. Kejadian ini dimulai mana kala Ranieri melepas jaket yang dikenakan oleh Bocelli, yang sekaligus memperlihatkan kostum kandang Leicester untuk musim depan yang dipakai oleh Bocelli.

***

Bocelli, penyanyi tenor Italia, sendiri sudah dipilih sejak lama untuk menjadi penyanyi di laga penutup Leicester. Ranieri bercerita kepada The Guardian bahwa Bocelli sendiri yang menghubunginya.

“Dia (Bocelli) yang pertama menghubungi. Saya tidak ingat, mungkin antara sebulan hingga dua bulan yang lalu. Saat itu dia berkata cukup senang dengan apa yang ditampilkan oleh Leicester dan ingin bernyanyi di sini (King Power).”

“Saya jawab; tentu saja. Saya lalu memberikan semua informasi dan harapan tersebut kepada klub dan mereka semua menyetujuinya.”

Bocelli mengiyakan bahwa ia lah yang pertama kali mengajukan diri untuk tampil di laga terakhir Leicester musim ini, yang beruntungnya, bertepatan dengan penganugerahan juara Leicester. Ia pun mengaku beruntung bisa menghubungi Ranieri, yang nomor teleponnya ia dapatkan dari Javier Zanetti.

“Saya cukup beruntung bisa berada di King Power saat pertandingan terakhir Leicester musim ini. Karena meski saya seorang tuna netra, saya memiliki semangat yang cukup tinggi terhadap sepakbola sejak masih kecil,” ujar Bocelli.

Menurut beberapa sumber, semangat Bocelli terhadap sepakbola telah ditunjukkan sejak ia kecil. Bocelli kecil bahkan sering mengikuti beberapa pertandingan resmi sepakbola untuk anak-anak.

Mimpinya untuk terus bermain sepakbola pada akhirnya harus dikubur kala ia berusia 12 tahun. Dalam sebuah pertandingan sepakbola anak-anak yang diikutinya, ia mengalami pendarahan otak karena benturan di kepala. Upaya medis untuk menyelamatkan Bocelli berhasil, namun ia harus kehilangan penglihatan karena benturan dan pendarahan otak itu.

Sejak saat itu, Bocelli harus meninggalkan kebiasaannya bermain sepakbola. Menurut pengakuan Bocelli, semenjak tidak mampu melihat, orang tuanya langsung memintanya beralih hobi ke bermain musik klasik.

Huruf Braille juga tidak bisa dilepaskan dari keseharian Bocelli sejak kehilangan penglihatannya. Bukan hanya untuk belajar ilmu-ilmu dasar, Braille juga digunakan untuk memelajari teori-teori mengenai musik.

Kemampuannya dalam bermusik terus meningkat setiap tahunnya. Kemampuan bermusik Bocelli pada akhirnya dilihat oleh Luciano Pavarotti, salah satu pemusik klasik asal Italia. Pavarotti lalu mengajak Bocelli untuk bermain di kelompok orkestranya.

“Semangat saya ternyata beriringan dengan apa yang ditunjukkan oleh Leicester musim ini. Apa yang mereka tampilkan di lapangan menunjukkan bahwa kerja keras bisa membuat semua orang kecil mampu menjadi orang besar,” imbuhnya.

“Mereka juga membuktikan pernyataan banyak orang mengenai ada jalan untuk setiap keinginan,” tutupnya

Perjalanan Bocelli dan Leicester City memang terbilang mirip. Pelajaran moral yang bisa didapatkan dari mereka tentu saja adalah setiap kerja keras pasti akan terbayarkan.

****

Pemilihan Bocelli dan lagu Nessun Dorma untuk membuka pesta juara Leicester memang spesial. Bagaimana tidak, We Are The Champions milik Queen kerap menjadi lagu iringan untuk tim juara. Belum lagi Leicester berada di tanah Inggris, tanah kelahiran Queen, yang biasanya kesebelasan-kesebelasan Inggris punya soundtrack-nya sendiri yang diisi oleh band-band Britania Raya.

Musik dan sepakbola memang intim. Dalam hal Inggris, beberapa band-band Inggris yang populer di seantero jagat bahkan punya ikatan tersendiri dengan beberapa kesebelasan, setidaknya personil-personilnya.

Mungkin, beginilah cara seorang Italia -- dalam hal ini Ranieri- mencoba merayakan kemenangannya. Tidak se-rock n roll Inggris memang, tapi cukup membuktikan bahwa Italia punya caranya tersendiri untuk membuktikan diri di luar tanah mereka. Dengan cara elegan, dengan cara yang klasik dan -- boleh jadi-- berkelas.

Komentar