Eastern AA Menjadi Juara Bersama Pelatih Perempuan Berusia 27 Tahun, Chan Yuen-ting

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Eastern AA Menjadi Juara Bersama Pelatih Perempuan Berusia 27 Tahun, Chan Yuen-ting

Jika Anda melihat klasemen Liga Primer Hong Kong, mungkin tidak ada yang aneh. Eastern AA, memuncaki klasemen sementara dengan 38 poin sudah dipastikan juara karena tinggal menyisakan satu pertandingan dan di bawahnya, Kitchee SC, terpaut tiga poin adalah hal yang wajar. Tapi, jika Anda melihat siapa orang di balik keberhasilan Eastern AA menjuarai Liga Primer Hong Kong, mungkin Anda akan terkejut.

Sosok di balik keberhasilan Eastern AA menjuarai kompetisi tersebut tidak lain adalah Chan Yuen-ting. Ia adalah seorang perempuan dan masih berusia 27 tahun. Status perempuan yang melatih pria terlebih masih berusia muda ini lah yang membuat nama Chan menjadi perbincangan apalagi di skuat Eastern banyak pemain (dibaca:pria) yang lebih tua darinya. Ia pun mendapatkan gelar pelatih perempuan pertama yang meraih gelar Liga Primer Hongkong, sekaligus gelar pelatih termuda, bahkan dunia.

Nama Chan mulai meroket Desember 2015 lalu. Saat itu, Eastern resmi memilih Chan sebagai pelatih baru mereka. Dipilihnya Chan memang mengagetkan banyak pecinta sepakbola Hong Kong. Keraguan akan kemampuannya tak bisa dielakkan kala itu.

Usut punya usut, Chan dipilih karena ia sudah kenyang pengalaman dalam dunia sepakbola. Ia pun sempat bermain untuk Timnas Perempuan Hong Kong pada 2008 hingga 2013. Usai pensiun dari lapangan hijau pada 2013, Chan memilih melanjutkan karier di dunia kepelatihan.

Bakatnya di dunia kepelatihan ternyata lebih terlihat ketimbang saat menjadi pemain. Keberhasilan membawa Sun Pegasus U18 mendapatkan tiga trofi musim lalu bisa menjadi contohnya. Oleh karena itu, tak terlalu mengherankan ia mendapatkan lisensi kepelatihan AFC A dalam setahun.

Prestasinya di Sun Pegasus membuat banyak orang kaget. Tidak lama kemudian, Lai Tung-kwong, yang menjabat Presiden Eastern AA melantik Chan untuk menangani tim tersebut terhitung mulai Desember 2015. Keputusan Eastern memilih Chan sendiri tidak banyak dikritik. Keberanian memilih Chan justru banyak didukung karena Lai menunjukkan kebebasan gender dalam sepakbola.

“Saya pikir langkah ini merupakan suatu kemajuan bagi Eastern. Karena bagi saya, Chan adalah pelatih yang luar biasa,” ujar Mark Sutcliffe, CEO federasi sepakbola Hong Kong (HKFA) kepada Offside. “Saya 100% mendukung langkah yang dilakukan oleh Eastern ini.”

“Dalam opini saya, pengangkatan Chan merupakan suatu langkah maju bagi sepakbola di Hong Kong. Dengan adanya Chan, membuktikan bahwa tidak ada jarak dalam sepakbola Hong Kong,” imbuh Sutcliffe yang sudah menjabat CEO HKFA sejak 2012 ini.

Keputusan Lai nyatanya dapat dibuktikan oleh Chan. Eastern yang musim lalu berada di peringkat kedua berhasil dibawa ke puncak klasemen sementara, dengan rekor hanya sekali kalah dan sekali seri dari sembilan partai.

Kesuksesan Chan tidak hanya membuatnya sebagai pendobrak perbedaan gender dalam sepakbola, tapi juga sebagai pembuktian dari Chan untuk kedua orang tuanya. Pasalnya, Chan mengaku meski ia sejak kecil menyukai sepakbola, tapi kedua orang tuanya tidak pernah suka jika melihat Chan menendang bola.

“Saya menyukai sepakbola sejak kecil. Tapi saya mulai belajar ketika memasuki secondary school (usia SMP di Indonesia). Salah satu hal yang menyebabkan saya menyukai sepakbola adalah keberadaan David Beckham,” ujar Chan kepada South China Morning Post. “Penampilan David Beckham saat itu di Liga Primer Inggris mampu menyihir banyak gadis di sini."

Kecintaan Chan pada sepakbola pun semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Ia bahkan dihadapkan dengan pilihan sulit ketika akan memasuki bangku universitas. Alasannya, orang tua Chan tidak setuju jika ia memilih bermain bermain sepakbola.

Chan mengakui sempat berbeda pendapat dengan orang tuanya mengenai pilihan studi ketika memasuki universitas. Chan mengaku orang tuanya tidak menyetujui pilihan untuk menjalani karier di sepakbola, karena mereka tidak melihat masa depan yang menjanjikan jika ia bermain sepakbola.

“Mereka sangat berharap jika saya menjadi seorang guru, ketimbang bermain sepakbola. Tapi, saya merasa kesukaan terhadap sepakbola akan lebih terasa jika saya dapat melanjutkan karier di sepakbola,” ujarnya.

“Prestasi-prestasi yang saya buat dalam sepakbola membuat mereka (kedua orang tua Chan) kini bangga. Mereka kini telah mendukung jalan saya di sepakbola,” ucap Chan.

Keberhasilan membawa Eastern menjuarai Liga Primer tentu menjadi sebuah hal yang membanggakan bagi Chan. Tapi, ia merasa keberhasilan ini belum apa-apa karena masih ada jalan lebih berliku ke depannya.

“Menjadi juara bersama Eastern adalah langkah pertama bagi karier sepakbola saya,” ujarnya.

“Saya tentu saja ingin terus belajar ke kompetisi-kompetisi lain yang lebih maju. Seperti Korea Selatan yang memiliki kompetisi sepakbola profesional atau bahkan Jepang yang berhasil menjuarai Piala Dunia Perempuan,” tukas Chan.

Melihat gelar yang sudah Chan buat, hal ini langsung menjadi cambukan bagi sepakbola Hong Kong untuk lebih baik. Sutcliffe menjelaskan bahwa HKFA akan memperbaiki sistem kompetisi, utamanya kompetisi untuk perempuan, demi membentuk bibit-bibit seperti Chan.

Komentar