Cerita Dinan Javier Soal Sepakbola yang Bukan Menjadi Prioritas Utama dalam Hidupnya

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Cerita Dinan Javier Soal Sepakbola yang Bukan Menjadi Prioritas Utama dalam Hidupnya

Dinan Yahdian Javier adalah bagian dari kesebelasan negara Indonesia U-19 yang menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013 silam. Namanya mungkin tidak setenar Evan Dimas Darmono. Namun, karier Dinan di level klub bisa dibilang membanggakan. Ia turut mengantarkan Mitra Kukar menjadi juara Piala Jenderal Sudirman 2016.

Menempati posisi sebagai pemain sayap, membuat Dinan bukan menjadi pilihan utama pelatih Indra Sjafrie di Piala AFF U-19 pada 2013. Dinan mesti bersaing dengan Maldini Pali dan Ilham Udin yang punya kemampuan mengontrol bola dan kecepatan yang baik. Dari tujuh pertandingan, cuma dua kali Dinan bermain penuh selama 90 menit, dan sekali sebagai starter untuk kemudian digantikan. Sisanya, Dinan bermain empat kali sebagai pengganti.

Namun, hal tersebut tak membuat karier Dinan meredup. Keberhasilannya yang turut membawa Mitra Kukar menjadi juara, menjadikannya sebagai salah satu “alumnus” timnas U-19 yang berhasil meraih trofi dan kesempatan bermain.

Dengan segala capaiannya tersebut, siapa yang sangka kalau ternyata sepakbola hanya dianggap sebagai hobi buat Dinan?

“Pendidikan itu nomor satu,” kata Dinan kepada tim Panditfootball, “Sepakbola itu nomor kesekian.”

Dari Hobi Menjadi Prestasi

Dinan menceritakan kalau sepakbola buatnya hanyalah sebuah hobi. Tentu “hobi” yang Dinan maksud bukanlah “hobi” yang ada di benak Anda macam hobi mengoleksi perangko atau memancing ikan. Soalnya, Dinan hampir melakukan hobinya setiap waktu.

“Setelah sekolah saya (main) sepakbola. Istirahat sekolah saya sepakbola. (Pada akhirnya) Hobi jadi kebiasaan, dari kebiasaan bisa jadi prestasi. Ini yang akhirnya saya lakukan, saya jalani dengan pendidikan beriringan. Tidak pernah saya tinggalkan. Saya sekolah tetap sekolah, belajar tetap belajar, les tetap les; dan waktu sepakbola saya sepakbola,” kata pemain kelahiran 6 April 1995 tersebut.

Dinan saat ini berkuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), dan tengah menjalani semester ketiga. Tentu, profesinya sebagai pesepakbola membuat kuliahnya tidak mulus. “Di UGM sementara ini dibilang agak kacau. Lancar itu hanya semester pertama dan kedua. Semester ketiga bisa dibilang susah,” kata Dinan.

Dinan sadar kalau setelah masuk kuliah, karier sepakbola dengan pendidikan hampir sulit untuk berjalan beriringan. Ia sadar harus fokus salah satu: pendidikan atau karier sepakbola. Meskipun demikian, keinginan Dinan untuk tetap kuliah masih terbuka karena program kerja sama Universitas Negeri Yogyakarta dengan PSSI sebagai bagian dari pengembangan timnas U-19.

Mendambakan UGM

??????????????????

Menjadi mahasiswa UGM adalah salah satu hal yang membanggakan buat Dinan. Soalnya, Dinan memang amat mendambakan masuk UGM sedari kecil.

“Saya tidak kepikiran sepakbola, ya. Saya tidak terpikir menjadi pesepakbola. Saya memang terpikir untuk sekolah. UGM itu bagus, termasuk yang terbaik di Indonesia. Saya ingin masuk ke situ. Di UNY kami mendapatkan beasiswa. Setelah lulus dari timnas U-19 ada beasiswa dari PSSI dan UNY, ya saya manfaatkan, saya ambil itu, meskipun sebelumnya juga saya sudah lulus UGM,” kata Dinan.

Dikutip dari laman UGM, Dinan masuk UGM lewat jalur Penelusuran Bakat Olahraga dan Seni (PBOS). Di UGM, ia memilih jurusan manajemen.

Namun, masuk UGM menghadirkan pilihan yang berat buat Dinan. Dengan status sebagai “mahasiswa normal” yang masuk karena tes, Dinan merasa akan berat baginya untuk menjalani kuliah sembari bermain bola.

“Susah kalau berjalan beriringan antara UGM dengan sepakbola ini,” ucap pemain yang pernah berada di skuat Pelita Jaya U-21 ini.

Berkarier di Luar Sepakbola

??????????????????

Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, membuat Dinan sudah terpikir apa yang akan ia lakukan jika tak bermain bola. “Saya ingin menjadi entrepreneur. Karena di UGM juga saya mengambil Fakultas Ekonomi Bisnis, ambil manajemen, saya dari kecil juga ingin menjadi pebisnis,” ucap Dinan.

Dinan sebenarnya merasa kalau sepakbola bisa berjalan beriringan dengan kegiatan bisnis yang mungkin akan ia kerjakan. Namun, karena sepakbola membutuhkan waktu serta fokus yang luar biasa besar, hal itu menjadi urung dilakukan.

“Kalau sekarang fokus di sepakbola dulu. Kalau ada rejeki dari sepakbola, dialihkan ke bisnis atau investasi untuk masa depan,” tutur pemain yang mengidolakan Luis Suarez dan Boaz Solossa ini.

Masa Depan Sepakbola Indonesia

Kondisi sepakbola Indonesia saat ini tengah tanpa kompetisi. Selain itu adanya ketidakstabilan di tingkat atas, membuat pesepakbola kebingungan soal masa depannya.

“Kami, para pemain kan tidak bisa apa-apa. Kami cuma bisa latihan, kerja keras, itu pun kalau tidak ada liga, tidak ada gunanya. Tidak ada pijakan kami mau ke mana,” ucap Dinan.

Soal kariernya, Dinan mengaku ingin belajar lebih banyak dan tentu bisa bermain di luar negeri, seperti yang dilakukan koleganya, Evan Dimas. “Saya ingin belajar, mencari pengalaman juga, biar ke depannya bisa lebih baik,” tutup Dinan.

Video selengkapnya:



Komentar