Nostalgia Sebuah Musim yang Serba Nyaris untuk Persija

Cerita

by Aun Rahman 31189 Pilihan

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Nostalgia Sebuah Musim yang Serba Nyaris untuk Persija

Meraih lebih dari satu gelar juara dalam satu musim selalu merupakan hal yang sulit. Karena setiap kompetisi baik liga reguler ataupun turnamen yang diadakan di sela-sela liga, memiliki tantangan yang berbeda. Termasuk yang terjadi di kancah sepakbola nasional.

Terhitung hingga saat ini hanya ada satu tim yang mampu mengawinkan dua gelar sekaligus di sepakbola Indonesia. Sriwijaya FC hingga saat ini menjadi satu-satunya tim yang berhasil meraih double winner. Hal tersebut terjadi pada tahun 2008, setelah mereka berhasil mengalahkan PSMS Medan di final Liga Indonesia, dan Persipura Jayapura di ajang Copa Indonesia.

Jauh sebelum Sriwijaya FC, sudah ada kesebelasan yang hampir saja melakukan hal yang ‘nyaris’ serupa. Sayang usaha tersebut tidak membuahkan hasil, karena klub tersebut gagal memenangkan dua final, baik Liga Indonesia maupun Copa Indonesia. Klub tersebut adalah Persija Jakarta. Mereka nyaris meraih double winner pada musim 2005.

Pupusnya Ambisi Mengulangi Kejadian di Tahun 2001

Menatap Liga Indonesia edisi kesepuluh, Persija Jakarta datang dengan skuat yang bisa dibilang lengkap dan mumpuni. Meskipun ditinggal Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy yang hijrah ke Malaysia, kehadiran bintang-bintang muda seperti Hamka Hamzah dan Agus Indra Kurniawan dipadukan dengan para penggawa senior seperti Charis Yulianto dan Ortizan Solossa membuat tim tetap kuat. Belum lagi tambahan tenaga dari legiun asing berkualitas seperti Urbain Roger Batoum dan Lorenzo Cabanas.

Bermain di Wilayah Barat, Persija harus bersaing dengan banyak kekuatan tradisional sepakbola Indonesia seperti PSIS Semarang, PSMS Medan, Persita Tangerang, Arema, dan sang rival abadi Persib Bandung.

Empat kemenangan dari lima laga awal liga membuat tim berjuluk Macan Kemayoran tersebut melaju kencang.  Sempat ditahan imbang Arema dan Persekabpas Pasuruan, Persija kembali ke jalur kemenangan setelah menang tipis di kandang Persikota Tangerang, Stadion Benteng.

Kemenangan tanpa tanding atas rival berat Persib Bandung pada 4 September 2005, karena sang lawan mengundurkan diri. Dengan Hasil tersebut Persija memastikan melaju ke babak delapan besar sebagai peringkat pertama Wilayah Barat. Tidak ada halangan berarti karena Persija terus melaju hingga partai puncak.

Lawan yang sudah menunggu Persija di partai final adalah Persipura Jayapura yang menjadi penguasa di Wilayah Timur. Final yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno pada 25 September 2005 tersebut seakan menjadi final ideal, karena masing-masing kesebelasan merupakan peringkat pertama di wilayah masing-masing, dan juga berhasil melaju dari babak delapan besar juga sebagai pemimpin klasemen.

Starting line-up Persipura dan Persija di Final Ligina X
Starting line-up Persipura Jayapura vs Persija Jakarta di Final Ligina X

Semua sepertinya akan berjalan sesuai harapan, Agus Indra Kurniawan berhasil membawa Macan Kemayoran unggul pada menit ke sepuluh. Delapan menit kemudian bocah ajaib Boaz Solossa berhasil menyamakan kedudukan untuk Persipura, Skor 1-1 menutup babak pertama.

Lima menit paruh kedua dimulai, Francis Wewengkang berhasil membuat Persija kembali unggul. Panggung yang seharusnya menjadi milik para pemain muda skuat Persija yang kala itu ditangani oleh Arcan Iurie, justru pada akhirnya menjadi tempat para bintang muda Persipura untuk unjuk kebolehan. Korinus Fingkrew yang masuk pada menit ke 70, membuat tim berjuluk Mutiara Hitam kembali menyamakan angka menjadi 2-2 tepat delapan menit sebelum pertandingan waktu normal berakhir.

Ian Louis Kabes yang kala itu masih berusia 19 tahun kemudian menjadi pahlawan tim dengan berhasil mencetak gol kemenangan pada menit ke-101. Asa yang sudah dibangun, seluruh harapan yang ada kemudian pupus. Bukan Persija Jakarta yang berpesta di Gelora Bung Karno malam itu, akan tetapi tamu yang datang dari jauh, Persipura Jayapura.

Gagal di Liga, Gagal di Final Copa

Persija yang gagal mendaratkan trofi Liga Indonesia, mendapatkan kesempatan untuk meraih gelar pada musim tersebut. Copa Indonesia edisi pertama menjadi incaran Macan Kemayoran untuk mengobati luka setelah takluk di final Liga Indonesia.

Maju ke partai puncak setelah mengalahkan PSMS Medan di babak semifinal, Persija mengusung optimisme tinggi untuk membawa pulang trofi. Pasalnya mereka selalu meraih hasil positif sepanjang gelaran Copa Indonesia. Sayang harapan tersebut kembali pupus, karena di partai final yang digelar pada 19 November 2005 tersebut, Persija kembali tersungkur.

Lawan Persija di final kala itu adalah Arema yang diperkuat oleh duet penyerang asing Franco Hitta dan Emeleu Serge. Serupa dengan yang terjadi di final Liga Indonesia, Macan Kemayoran unggul terlebih dahulu melalui Aldo Fatecha pada menit ke-12.

Setelah menyamakan angka melalui lesakan Franco Hitta, Arema justru berbalik unggul melalui gol luar biasa dari Firman Utina.  Menerima sodoran dari Francis Yonga, Firman menggiring bola dan melakukan solo run, hingga akhirnya menceploskan bola ke gawang Mukti Ali Raja.

Selalu berhasil menyamakan kedudukan melalui Roger Batoum dan Kurniawan Dwi Yulianto. Persija akhirnya harus kembali memupus harapan untuk juara. Firman Utina menjadi bintang pada pertandingan tersebut. Berhasi mencetak angka pada menit ke-55, Firman kembali menyarankan gol pada babak perpanjangan waktu sekaligus mencetak hat-trick nya di final Copa Indonesia edisi pertama tersebut.

***

Ada tren yang serupa dalam dua kegagalan Persija di tahun 2005 ini. Pertama, Persija selalu unggul terlebih dahulu, namun kemudian kubu lawan selalu berhasil membalikan keadaan. Kedua, para pemain muda selalu menjadi kunci kemenangan kesebelasan lawan ketika menaklukan Persija. Di final Liga Indonesia, Boaz dan Ian Kabes menjadi pahlawan, sementara di final Copa, Firman Utina muda yang membuat Persija bertekuk lutut.

Pasca berlaga di dua final sekaligus di tahun 2005, Persija belum lagi meraih prestasi terbaik. Gelar juara yang berhasil mereka raih dalam satu dekade terakhir hanyalah tiga kali menjadi juara turnamen pro-bono, Trofeo Persija. Di kancah Liga Super dalam empat tahun ke belakang, Macan Kemayoran selalu kesulitan untuk menembus peringkat empat besar klasemen.

Bisa jadi kegagalan di tahun 2005 meninggalkan kepedihan yang cukup mendalam untuk Persija Jakarta. Tidak gampang, tentu saja, menelan kegagalan dua kali berturut-turut kala trofi sudah di depan mata. 2005 ialah sepucuk nostalgia tentang sebuah musim yang serba nyaris bagi Macan Kemayoran.

Sumber : detiksports, rsssf, ligaindonesia.co.id

Komentar