Suhatman Imam Adalah 'Yoda' Bagi Pelatih Asal Minang

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Suhatman Imam Adalah 'Yoda' Bagi Pelatih Asal Minang

Dalam film kolosal Star Wars, ada salah satu karakter yang memiliki peran besar dalam keberjalanan cerita. Tokoh tersebut adalah Yoda yang merupakan ‘Grand Master’ dari ksatria Jedi, atau dengan kata lain Yoda merupakan master dari semua ksatria Jedi. Yoda adalah guru bagi ksatira-ksatria besar Jedi, seperti Qui-Gon Jinn, Mace Windu, Obi Wan Kenobi dan tentunya Luke Skywalker.

Sepakbola Indonesia sendiri memiliki sosok yang hampir serupa perannya seperti Yoda, ialah Penasehat Teknik Semen Padang, Suhatman Imam.

Kisah dimulai setelah berhasil membawa Semen Padang menjadi juara di Piala Indonesia tahun 1992, Suhatman kemudian ditunjuk oleh asosiasi sepakbola Indonesia, PSSI, untuk menjadi asisten pelatih tim Primavera yang akan diberangkatkan ke Italia. Kala itu PSSI Primavera sendiri berada di bawah asuhan pelatih asal Serbia, Ivan Toplak.

Sebenarnya ide dari mengirim sekumpulan anak muda ke tanah Italia adalah ide dari Suhatman. Sebuah rancangan besar dibuat oleh Suhatman, ide awalnya adalah dengan mengirim tiga sampai empat pemain muda untuk bermain di kompetisi Serie B atau Serie C. Alasan mengapa Suhatman memilih Italia adalah karena saat itu sepakbola Italia terkenal dengan profesionalisme dan kedisiplinan, terlebih kala itu sepakbola Italia sedang sangat populer dan dalam masa keemasanya.

Kemudian PSSI akhirnya memutuskan dibanding hanya mengirim beberapa pemain mengapa tidak satu tim saja sekaligus? Dan akhirnya 16 Juli 1993, 24 anak muda diberangkatkan ke Italia dalam program yang kemudian lebih dikenal sebagai PSSI Primavera tersebut.

Sepulangnya dari Italia, selain karena memang terjadi perbedaan pendapat mengenai kelanjutan Primavera dengan PSSI, Suhatman mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Ia menyadari bahwa secara taktis ada yang bisa dilakukan oleh Indonesia bukan saja untuk mengimbangi, tapi juga bisa menjadi kekuatan besar di sepakbola Asia.

Adalah “Cattenacio” atau pertahanan gerendel ala Italia yang bisa dipakai dalam sepakbola Indonesia. Hal itu menjadi cara agar tim Garuda – julukan kesebelasan negara Indonesia, tidak terlalu banyak kemasukan gol, yang mana hal ini merupakan permasalahan yang sering membuat Indonesia gagal di sebuah turnamen.

Suhatman tahu bahwa tubuh kecil dan ramping milik orang Indonesia memungkinkan mereka untuk berlari lebih cepat. Karena itulah dibentuk sebuah pakem utama, bertahan dengan rapat dan melakukan serangan balik sebagai bentuk penyerangan.

Dan sekembalinya ke Indonesia, Suhatman kembali bertemu dengan kawan lamanya seorang dosen bidang Olahraga, bernama Emral Abus. Mereka berdua kemudian banyak berdiskusi dan bercerita mengenai apa yang didapat Suhatman selama di Italia.

Awalnya ia ingin ilmu yang didapatkannya segera dipraktekan di klub dari tanah kelahirannya, Semen Padang. Namun pekerjaanya sebagai pegawai sebuah bank daerah di Sumatera Barat membuat hal tersebut urung dilakukan.

Suhatman sebenarnya ingin Emral-lah yang merepresentasikan konsep yang ditelurkan oleh dirinya tersebut. Tetapi karena Emral lebih tertarik dalam hal teknis, Suhatman perlu mencari sosok lain. Dan pilihannya akhirnya jatuh kepada Nil Maizar.

Nil yang ditemukan oleh Emral ketika masih bermain di Persepak Payakumbuh, dirasa adalah sosok yang tepat. Apalagi Nil merupakan putra Minang dan juga mantan pemain Semen Padang yang dilatih Suhatman ketika memenangkan Piala Indonesia di tahun 1992.

Karier Nil melesat dengan cepat, mulai dari pelatih kepala tim Semen Padang U-21, lalu asisten pelatih tim senior, hingga kemudian diangkat menjadi pelatih kepala Semen Padang pada 2010. Dan kala itu, Nil meminta manajemen Semen Padang untuk mengangkat Suhatman sebagai Direktur Teknik.

Hasil kolaborasi keduanya adalah membuat Semen Padang menempati peringkat empat Liga Indonesia 2010/2011 padahal baru saja promosi dari divisi utama. Semusim kemudian Nil membawa Kabau Sirah – julukan Semen Padang, menjadi kampiun di Liga Primer Indonesia.

Atas raihannya tersebut, Nil kemudian dipanggil untuk menangani tim nasional Indonesia pada tahun 2012. Suhatman kemudian mengisi kekosongan yang ditinggalkan Nil, sembari ditemani oleh murid barunya Jafri Sastra sebagai asisten. Sebenarnya kala itu ada murid Suhatman lain yang sedang naik daun, yaitu Indra Sjafrie. Namun Indra kemudian lebih banyak menangani tim nasional usia muda.

Dirasa sudah matang, Jafri akhirnya diberi tanggung jawab untuk menangani tim Semen Padang senior pada 2013. Ilmu yang didapatkannya selama berada di bawah arahan Suhatman dipraktekan dengan sangat baik, gelar juara LPI 2013 berhasil dibawa pulang Jafri ke tanah Minang. Ini menjadi catatan luar biasa Jafrie, yang sebelumnya turut serta membawa Semen Padang ke perempat final Piala AFC semusim sebelumnya.

***

Suhatman Imam yang akrab disapa ‘Pak Haji’ ini adalah sosok dibalik kemunculan pelatih-pelatih asal Minang dalam sewindu terakhir. Suhatman seakan adalah Yoda yang kemudian menelurkan ksatria-ksatria Jedi lain.

Final Piala Jenderal Sudirman yang akan digelar nanti. Akan mempertemukan dua murid dari Suhatman, Nil Maizar yang kembali pulang ke Semen Padang akan beradu keahlian dengan Jafri Sastra yang merantau ke Kalimantan Timur untuk menangani Mitra Kukar. Yang pasti siapapun yang memenangkan laga ini akan membuat Suhatman tersenyum bangga. Karena dua muridnya berhasil mencapai prestasi yang luar biasa.

Ngomong-ngomong tentang duel final PJS nanti antara Nil dan Jafrie, apakah mirip dengan pertarungan antara Obi Wan Kenobi dan Anakin Skywalker?

Sumber : Merupakan kompilasi dari wawancara penulis dengan beberapa orang kelompok suporter Semen Padang

Foto : bola

Komentar