Guntur: Balas Budi Dulu ke PSMS, Baru Pulang ke Persija

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Tidak bisa berbahasa Finlandia.

Guntur: Balas Budi Dulu ke PSMS, Baru Pulang ke Persija

Guntur Triaji muda memiliki cita-cita. Namun ia cukup dewasa untuk mendahulukan apa yang harus ia lakukan ketimbang apa yang ingin ia lakukan. Ia selalu ingat kawan-kawannya walau dipersilakan mendahulukan diri sendiri. Ia juga tidak malu mengakui kehebatan lawan.

Salah satu di mimpi Guntur adalah kembali ke Persija yang dulu dengan berat hati ditinggalkannya. Guntur, di usia yang masih muda, sudah dapat membedakan apa yang ia inginkan dan apa yang ia butuhkan.

“Idealnya kan kita pemain muda itu kan harus banyak jam bermainnya, Mas,” ujar Guntur mengenai alasannya meninggalkan Persija. “Harus, kita harus punya. Karena semakin kita banyak main kita semakin pede, Mas. Walaupun kita di tim besar tapi kalau kita jarang main itu tetap... mental kita tetap nggak bagus, Mas. Tapi walaupun kita main di tim kecil tapi kita jadi pemain inti, kita sering main, jam main kita banyak itu pasti otomatis kemampuan kita akan naik, Mas, seiring dengan mental kita yang lebih baik.”

Kembali ke Persija, walau demikian, tidak akan dilakukannya dalam waktu dekat. Setelah Piala Jenderal Sudirman, setelah tugasnya bersama PS TNI selesai, Guntur berjanji akan kembali ke PSMS untuk membalas budi kepada kesebelasan yang mempercayainya.

“Kalau keinginan (kembali ke Persija), suatu saat nanti mungkin iya Mas tapi kalau untuk sekarang saya pengen setelah ini ke PSMS dulu, saya pengen balas kepercayaan yang sudah PSMS berikan kepada saya, karena ya di PSMS inilah saya bisa, istilahnya bisa muncul kembali Mas. Setelah, ya, setelah waktu dulu habis dari Nike* itu sudah sempat muncul tapi terus agak redup lagi mungkin sekarang jadi ingin fokus di situ dulu, Mas.”

Bukan hanya kepada kesebelasan ia setia. Kepada kawan-kawannya Guntur juga demikian. Ketika saya memintanya memilih lima pemain terbaik Piala Jenderal Sudirman sejauh ini – saya bahkan memberinya kebebasan untuk menyertakan namanya sendiri – ia malu-malu bertanya “boleh pemain PS TNI semua nggak, Mas?”

Tiga nama pertama yang dipilihnya adalah Wanda Syahputra, Legimin Raharjo (yang dipanggilnya dengan sebutan “Bang Legimin” dan ia puji staminanya di usia yang sudah tidak lagi muda), dan Erwin Ramdani.

“Erwin Ramdani itu duet saya dari waktu pertama datang ke PSMS, terus di Piala Kemerdekaan sampai sekarang di PS TNI,” ujar Guntur. “Untuk di gelandang serangnya ada Bang Suhandi. Walau namanya jarang terlihat tapi kontribusinya untuk PS TNI dan di PSMS kemarin juga begitu besar.”

Guntur yang tidak kesulitan memilih empat nama pertama diam selama beberapa lama untuk memilih nama terakhirnya.

“Terus untuk di depan, untuk di depan mungkin... siapa ya? Untuk di depan... mungkin [jeda cukup lama] Dimas Drajat! Dia pemain muda. Dia punya skill. Dia ngotot terus dia punya, dia kuat dia screening bolanya bagus, terus dia juga cetak hattrick kemarin lawan Persela.”

Subjektifkah Guntur dalam pemilihan kelima nama ini? Entahlah. Yang pasti, Guntur tidak hanya memuji kawan sendiri. Ia juga mengakui kehebatan lawan. Yang tersulit yang pernah ia hadapi di Piala Jenderal Sudirman, katanya, adalah Terens Puhiri: “Kemarin tuh... yang paling... si... itu tuh, siapa, Terens, Terens! Dia kan punya kecepatan, jadi kita kerepotan kemarin.”

Guntur boleh bernapas lega karena di delapan besar, PS TNI tak akan lagi direpotkan Terens Puhiri**.

Wawancara sebelumnya: Guntur Triaji, Pemanah yang Belum Lama Pindah ke Sayap Kanan


*Guntur adalah juara nasional Nike The Chance. Pada 2011 ia bersaing di putaran final yang dilangsungkan di London, melawan 99 pemain muda lain dari seluruh dunia. Guntur gugur di penyisihan untuk 32 besar karena, menurutnya, faktor usia (Guntur, saat itu masih berusia 17 tahun, termasuk salah satu yang paling muda), faktor ukuran tubuh, dan faktor cuaca. “Terus di sana kan waktu itu lagi winter jadi kendala itu juga Mas waktu itu. Sampai minus (di bawah nol derajar celcius),” ujarnya.

**Kesebelasan Terens Puhiri, Pusamania Borneo, adalah satu-satunya kesebelasan yang mampu menahan imbang (2-2) PS TNI di waktu normal. Kedua kesebelasan sekarang bergabung di grup yang berbeda. PS TNI, juara Grup C, berada di Grup D sementara Pusamania, satu dari dua peringkat ketiga terbaik, bermain di Grup E.

Komentar