Filosofi Pelatih Termuda Akan Buat Bundesliga Semakin Menarik

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Filosofi Pelatih Termuda Akan Buat Bundesliga Semakin Menarik

Pembebastugasan Markus Gisdol dari jabatannya sebagai pelatih kepala kesebelasan utama TSG 1899 Hoffenheim diikuti oleh pengangkatan Huub Stevens, yang akan menduduki posisi lama Gisdol hingga akhir musim ini. Alih-alih kepada salah satu dari mereka atau keduanya, perhatian malah tertuju kepada pelatih kepala Hoffenheim U-19, Julian Nagelsmann. Pria asal Landsberg am Lech ini akan menjadi pelatih kepala termuda dalam sejarah di divisi pertama Bundesliga.

Banyak sumber yang memberitakan sejarah ini mengabaikan fakta bahwa Nagelsmann baru akan resmi menjalankan tugas barunya per 1 Juli 2016. Ramai-ramai pula mereka mengabaikan fakta bahwa pria berusia 28 tahun itu bisa saja batal menorehkan sejarah jika Stevens gagal menjaga Hoffenheim tetap di divisi pertama.

Rasanya, bersama mereka, kita juga perlu mengabaikan semua itu dan memberi selamat kepada Nagelsmann. Kemauannya untuk bangkit dari musibah, keputusannya untuk menolak tawaran melatih di Bayern München demi bertahan di Hoffenheim, telah mengantarnya kepada pekerjaan idaman di dunia kepelatihan. Dan dipercaya menjadi pelatih kepala sebelum lulus sekolah kepelatihan jelas bukan pencapaian yang biasa.

Baca juga tulisan kami tentang pelatih-pelatih muda lainnya di Bundesliga

Markus Weinzierl: Sensasi Terbaru Dunia Kepelatihan Jerman

Pengganti yang Tepat Ternyata Sejak Lama sudah Dekat

Beban Breitenreiter


Karier Nagelsmann sebagai pemain selesai di tingkat U-19 karena cedera lutut yang dideritanya saat membela Augsburg yang melawan Eintracht Frankfurt. Setelah dua tahun proses penyembuhan tidak berhasil membawanya kembali bermain sepakbola, Nagelsmann melanjutkan pendidikan di jurusan manajemen bisnis. Empat semester saja Nagelsmann bertahan sebelum menyeberang ke jurusan ilmu olahraga. Gelar sarjana sekarang sudah di tangannya.

Nagelsmann memulai karier kepelatihannya sebagai pelatih kesebelasan muda FC Augsburg pada 2008, saat masih berusia 21 tahun. Sebelum akhirnya menjabat posisi pelatih kepala Hoffenheim U-19, Nagelsmann pernah menjabat posisi co-trainer di TSV 1860 München U-17 dan Hoffenheim U-17 serta pelatih kepala Hoffenheim U-17.

Promosi-promosi yang diraihnya adalah penghargaan untuk kualitasnya sebagai pelatih. Bukan berarti itu saja yang bisa Nagelsmann banggakan. Dalam dua musim pertamanya bersama Hoffenheim U-19, Nagelsmann dua kali tampil di final nasional; ia menjadi juara di musim pertamanya.

Itu pula barangkali yang membuat manajemen Hoffenheim yakin untuk memberi kepercayaan yang lebih besar kepada Nagelsmann. Orang-orang bisa saja memandang pemberian kepercayaan menjadi pelatih kepala kesebelasan utama kepada Nagelsmann merupakan hal yang wajar dan bukan prestasi yang hebat mengingat Hoffenheim, per musim depan, berencana untuk semakin memaksimalkan pemain-pemain lulusan akademi. Nagelsmann yang sudah sangat mengenal para pemain muda Hoffenheim pun secara otomatis menjadi pilihan utama.

Masuk akal, namun patut diingat bahwa FC Schalke 04 yang secara rutin menambang pemain muda berbakat pun tetap tidak kehilangan jati diri mereka walau ditangani André Breitenreiter yang merupakan orang luar. Rasanya tidak ada hubungan antara memaksimalkan potensi pemain muda dengan mengangkat pelatih kesebelasan muda ke kesebelasan utama.

“Kami sadar bahwa ini adalah langkah berani namun dalam dirinya (Nagelsmann) kami melihat bakat kepelatihan besar sehingga kami ingin memberinya sebuah kesempatan,” ujar Alexander Rosen, direktur olahraga Hoffenheim, saat memperkenalkan Huub Stevens kepada publik. Kesempatan yang dimaksud Rosen hadir dalam wujud kontrak berdurasi tiga tahun untuk Nagelsmann.

“Filosofi saya adalah menekan lawan dekat dari gawang mereka karena jalan menuju gawang tidak begitu jauh jika kita merebut bola dekat dari gawang lawan,” ujar Nagelsmann dalam sebuah wawancara untuk A Football Report pada 2013. “Saya suka cara bermain Villareal dan mereka memiliki cara melatih pemain-pemain muda yang hebat. Saya juga menyukai FC Barcelona dan Arsenal serta bagaimana Arsène Wenger bekerja. Mereka memainkan sepakbola yang sangat baik. Saya rasa gaya bermain Spanyol adalah filosofi yang sama dengan saya dan di Spanyol mereka memiliki pelatih-pelatih pemain muda yang sangat bagus.”

Kemampuan Nagelsmann menangani kesebelasan utama baru akan terbukti musim depan. Satu hal yang pasti, dengan janjinya untuk tidak bertahan di kedalaman, kehadiran Nagelsmann akan menambah daya tarik kepada Bundesliga yang sekarang saja sudah menarik.

Dengan catatan Hoffenheim tidak terdegradasi, tentu saja.

Komentar