Kegagalan UEFA Memerangi Rasisme di Eropa Timur

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kegagalan UEFA Memerangi Rasisme di Eropa Timur

Chelsea memang ditahan imbang tanpa gol oleh Dynamo Kyiv di Stadion Olimpiade Kiev, Rabu (22/10) dini hari WIB, tapi ada momen lain yang membuat pertandingan tersebut mendapat sorotan: Empat orang kulit hitam menjadi korban penganiayaan.

Sebelum membaca berita, kita tentu sulit untuk menemukan siapa korban dan pelaku. Pelaku bisa saja penggemar Chelsea yang pernah melakukan diskriminasi terhadap pria kulit hitam di Paris. Korban pun bisa saja penggemar Chelsea dan pelakunya adalah penggemar Dynamo Kyiv.

Berdasarkan laporan organisasi anti diskriminasi, Fare, penganiayaan tersebut melibatkan penggemar Dynamo Kyiv dengan penggemar kulit hitam yang juga mendukung Dynamo Kyiv. Dalam laporannya, Fare menyaksikan empat orang tersebut diserang oleh sekelompok pendukung Dynamo. Saat berusaha melarikan diri, mereka kembali diserang fans Dynamo lainnya.

Kekerasan ini menjadi perhatian sendiri bagi UEFA terutama terkait pembenahan rasisme. UEFA memang tegas memberi hukuman bagi klub yang suporternya terlibat dalam aksi rasisme. Sebelumnya, pada Maret lalu, UEFA mendenda Dynamo 15 ribu euro dan menutup sebagian tribun mereka sebagai bagian dari sanksi atas perilaku fans Dynamo terhadap pemain Everton.

Eksekutif Direktur Fare, Piara Powar, menyatakan bahwa laporan tersebut telah dikirimkan ke UEFA, “Ini adalah insiden buruk yang merefleksikan realita sepakbola di Eropa bagian tengah dan timur,” ucap Piara dikutip dari The Guardian.

Sejarah Buruk Rasisme di Ukraina

Hukuman untuk mengosongkan tribun bukan cuma diterima Dynamo Kyiv. Kesebelasan negara Ukraina pun memulai babak kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa dengan bertanding di dalam tribun yang kosong. Ini merupakan akibat dari perilaku rasis suporter Ukraina di babak kualifikasi Piala Dunia 2014 saat menghadapi San Marino.

UEFA sebelumnya telah merasakan kekhawatiran saat Ukraina ditunjuk—bersama dengan Polandia—menjadi tuan rumah Piala Eropa 2012. Ukraina, seperti halnya Rusia, masih mendapatkan pengaruh besar dari kelompok ekstrimis kanan.

Saat Piala Eropa 2012, mantan pemain Arsenal, Sol Campbell, berkomentar bahwa penggemar kulit hitam lebih baik diam di rumah ketimbang ikut keriuhan di stadion atau di jalanan. Hal ini juga diamini oleh J, siswa yang juga pesepakbola amatir di Kota Lviv, salah satu kota penyelenggara Piala Eropa. Menurutnya para penonton kerap mempersenjatai dirinya dengan pisang walaupun itu sekadar pertandingan untuk kesenangan di hadapan penonton yang tak banyak.

“Itu pernah terjadi padaku. Sorakan menirukan monyet, komentar rasis, sampai pisang. Aku mencoba untuk mengabaikannya atau menjadikannya lelucon dengan memakan buahnya,” tutur J dikutip The Guardian.

Di negara seperti Ukraina, kekerasan dan diskriminasi terhadap orang asing terutama yang berkulit hitam dan Asia terjadi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Seringkali ditemukan kasus pemukulan secara acak, penyemprotan bubuk cabai, dan serangan secara verbal. Sayangnya, hal tersebut tak mendapatkan respons simpatik dari polisi.

“Sulit untuk menghentikan rasisme di sini karena polisi yang korup dan pihak berwenak tak mau tahu. Kami mencoba untuk tak terlihat,” tutur J yang menyatakan mereka langsung pulang ke rumah usai pulang dari kampus dan menghindari pusat kota serta geng di kota.

Partai yang memerintah di Lviv, Svoboda, kerap dikaitkan dengan kelompok fasis dan neo-Nazi. Salah seorang anggota dewan Andriy Khomytskyy, menyatakan bahwa tidak ada isu terkait rasisme karena minimnya orang asing di Lviv. “Di Kerch (sebuah kota di timur Ukraina), mereka punya masalah karena kehadiran pendatang ilegal dari Tiongkok dan Korea,” tutur Andriy.

Menurut Andriy cara terbaik untuk membatasi insiden rasisme adalah membatasi kehadiran imigran dan memastikan terus berlangsungnya kebudayaan lokal.

Jawaban dari Pemerintah

Berdasarkan investigasi BBC, suporter sayap kanan dari Ukraina dan Polandia kerap memperlihatkan perilaku rasis dan anti semit. Dalam potongan film yang disiarkan BBC pun memperlihatkan fans Ukraina yang menargetkan suporter Asia sebagai target kekerasan.

Di sisi lain, pemerintah Ukraina membantah soal perilaku rasis masyarakatnya. Duta besar Ukraina untuk Inggris, Volodymyr Khandogiy, menyatakan bahwa laporan yang dirangkum dalam BBC Panorama tersebut tidak imbang dan terkesan bias. “Rasisme dan ideologi rasial itu melawan hukum di Ukraina. Penggemar yang meneriakkan apapun yang dekat dengan slogan Nazi, mereka akan ditutuntut,” tutur Volodymyr.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Polandia, Marcin Bosacki, menyebut BBC Panorama sebagai jurnalisme murahan. Marcin menyatakan bahwa banyak opini yang tidak dimasukkan ke dalam liputan sehingga film dokumenter tersebut berat sebelah.

“Anda tahu berapa banyak turis Inggris yang datang ke Polandia setiap tahun? 500 ribu. Dan tahukah Anda berapa banyak laporan yang mereka berikan ke Kedutaan Inggris tentang rasisme dalam tiga tahun terakhir? Nol!,” ucap Marcin dikutip BBC.

Sementara itu, UEFA beralasan penunjukkan Ukraina dan Polandia sebenarnya untuk memberi kesempatan pada kedua negara untuk membuktikan segala tuduhan, terutama terkait rasisme.

“Piala Eropa 2012 memberikan sorotan pada negara penyelenggara dan memberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan dan menghadapi isu sosial,” tutur pernyataan resmi UEFA.

Realita di lapangan sejatinya menunjukkan bahwa masalah rasisme di Ukraina masih belum selesai. Secara luas, hal ini merupakan kegagalan UEFA untuk melawan rasisme, khususnya di Eropa Timur.

Komentar