Away Days Rasa Indonesia, Bung!

Cerita

by Ammar Mildandaru Pratama Pilihan

Ammar Mildandaru Pratama

mildandaru@panditfootball.com

Away Days Rasa Indonesia, Bung!

Pergi ke kandang lawan selalu menggairahkan. Ada atmosfir yang tak biasa dibandingkan mendukung di kandang sendiri. Ada bahaya, ada risiko, ada biaya yang mesti dikeluarkan, ada kompromi yang harus dibuat terkait jadwal kerja, sekolah, dll.

Tapi mendukung kesebelasan kesayangan di kandang lawan sangat penting untuk dijalani, terutama untuk mengukur kemampuan dan daya tahan diri sendiri, juga mental. Terbiasa nyaman di rumah sendiri, dalam hal sepakbola di kandang sendiri, bisa berdampak macam-macam: gampang merasa jumawa karena tidak pernah melihat dunia luar yang bisa jadi lebih hebat atau gampang minder karena tak tahu ada dunia luar yang lebih buruk ketimbang dunianya sendiri.

Mendukung kesebelasan di partai tandang, atau yang biasa dikenal sebagai away days, kadangkala memang merupakan ujian bagi loyalitas. Seringkali ini tak ada hubungannya dengan uang. Sebab yang utama adalah: niat.

Sangat banyak, kok, suporter yang punya dana berlimpah. Namun berapa persen yang getol pergi ke kandang lawan? Ya memang butuh niat khusus, ikhtiar tersendiri, juga usaha yang lebih dari sekadar uang untuk pergi ke kandang lawan.

Apalagi jika kita bicara kasus sepakbola Indonesia. Dengan bentang geografis dan kondisi infrastruktur di Indonesia, sebenarnya memang sangat tidak ramah bagi suporter lokal untuk berkeliling ke semua stadion dalam satu kompetisi penuh.

Belum lagi soal standar tata kelola yang belum mengenal kuota untuk kesebelasan tim tamu. Hampir tak ada standar, seringkali kuota untuk suporter tamu merupakan hasil rembukan antar dua suporter. Suporter tamu minta izin, sekaligus minta kuota, dari sanalah kuota untuk pendukung tamu biasanya baru keluar.

Karena kekhasan ala Indonesia inilah kadang, boleh jadi, istilah away days sebenarnya tidak memadai untuk fenomena di tanah air.
Pertama, karena dalam kasus Indonesia sangat biasa itu tak dilakukan hanya sehari dua hari. Bahkan bisa lebih. Kedua, karena dalam kasus Indonesia pergi ke kandang lawan itu seringkali urusannya bukan hanya menyangkut sepakbola.

Dulu, di zaman Perserikatan, mendukung kesebelasan ke luar kota jelas bukan away days. Mereka tidak sehari dua hari di Jakarta, karena perjalanan laut pun bahkan sudah selama itu. Jika mereka berangkat di awal babak 8 Besar, mereka bisa bertahan sampai dua hingga 3 pekan jika kesebelasan kesayangannya lolos hingga partai puncak. Selama berpekan-pekan itu, urusan tentu saja tak hanya sepakbola. Tapi juga berkumpul dengan kerabat, saudara, rekan-rekan, teman lama, atau bahkan sambil mencari kerja.

Di Indonesia, bertandang ke kandang rival yang punya sejarah perseteruan hampir mustahil dilakukan. Namun kenapa di Inggris hal ini bisa dijalankan dan minim ada korban berjatuhan?

Baca  ‘Bubble Matches’ Sensasi Menonton Pertandingan Seperti Kriminal


Inilah yang membuat, misalnya, Herru Joko pernah menolak keras larangan tandang bagi para bobotoh, sebutan untuk para pendukung Persib. Argumentasi yang digunakan Herru, Ketua Viking, jika Bobotoh tak boleh tandang maka kemungkinan bersilaturahmi dan bertemu dengan sesama orang Sunda di perantauan jadi tidak ada lagi.

Herru memberikan contoh: jika Persib bertanding di Papua, itu jadi momen di mana para orang Sunda di Jayapura dan sekitarnya bisa saling bertemu dan berkumpul di Stadion Mandala. Jika mereka tak boleh datang, momentum berserawung dan memperat tali persaudaraan itu jadi hilang.

Itu baru satu aspek. Belum aspek yang lain: replika atau mimikri tindak tanduk per-suporter-an.

Suporter Indonesia pada era awal 2000-an mempunyai ciri khusus yang mungkin juga banyak anda ketahui. Yaitu hampir semuanya memiliki lagu yang bernada sama. Fenomena ini bahkan masih ada hingga sekarang. Hal ini tak lepas dari away days yang dilakukan oleh para suporter.

Polanya adalah jika ada suporter tamu yang datang, dan menyanyikan lagu menarik. Maka pertandingan selanjutnya dipastikan bahwa lagu tersebut akan dinyanyikan oleh suporter tuan rumah. Hanya nama klub atau suporter yang diganti.

Juga bisa menjadi tamasya yang mempereat persaudaraan. Untuk para suporter Indonesia yang tidak punya catatan rivalitas, sangat biasa ada ritual menjemput suporter tamu di perbatasan kota. Kadang bahkan diantar hingga gerbang stadion. Itu berlanjut hingga setelah pertandingan. Biasa juga suporter tamu diantar hingga keluar kota.

Baca juga

Pertandingan Tandang yang Menjadi Budaya


Menjadi Suporter di Tanah Rantau



Di dalam sangat biasa juga ada ritual tukar jersey dan atribut yang dirayakan dengan keliling sentelban stadion saat pertandingan sedang memasuki turun minum. Jangan heran juga jika satu sama lain saling tukar kontak, apalagi yang berbeda jenis kelamin. Biasa, mencari kesempatan dalam sepakbola.

Sangat berbeda jika rivalitas sudah telanjut tumbuh. Ancam mengancam beberapa hari sebelum laga menjadi hal biasa. Kadang sampai ada larang-melarang untuk datang bagi suporter tamu.

Jika sudah begitu, suporter tamu yang tetap nekat bertandang jelas akan menemukan berbagai hambatan. Sepanjang jalan bisa menjadi perjalanan penuh marabahaya, apalagi jika sudah di stadion. Resiko cedera hingga kematian bukan barang langka.

Bahkan ada sebutan “jalur Gaza” sebagai istilah untuk menyebut daerah/wilayah yang menjadi tempat sang rival bermukim. Walau pun tidak berlaga melawan rival tersebut, tetap saja melewati "jalur Gaza" menjadi sebuah piknik yang penuh bahaya. Pemandangan saling melempar hingga bentrok fisik sudah jadi pemandangan jamak.

Komentar