Keadilan bagi Seluruh Kesebelasan Junior Eropa

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Keadilan bagi Seluruh Kesebelasan Junior Eropa

Sudah dua musim berlalu sejak badan otoritas tertinggi sepakbola Eropa (UEFA) resmi menyeleggarakan kompetisi sepakbola antar kesebelasan U19 (UEFA Youth League) di benua biru tersebut. Talenta-talenta talenta berbakatnya pun kini sudah banyak promosi dan berkarir di tim seniornya.

Contoh paling mudah diingat adalah alumni top skor kompetisi ini pada edisi pertama lalu (musim 2013-14) yaitu Munir El Haddadi yang menembus tim utama Barcelona dibawah asuhan Luis Enrique. Bahkan kemudian ia membuat debutnya bersama tim nasional Spanyol senior menggantikan posisi Diego Costa yang saat itu absen karena cedera.

Meski sekarang Munir harus kembali berjuang dengan pemain muda lainnya di skuat utama Barcelona, akan tetapi melesatnya karir Munir di tahun 2014 lalu adalah bukti sahih dari dampak positif kompetisi UEFA Youth League.

Musim selanjutnya, giliran Chelsea U19 yang berjaya di kompetisi UEFA youth league ini. Mengalahkan wakil Ukraina yaitu Shakhtar Donetsk di final, Dominic Solanke dkk., mampu memboyong Trofi Lennart Johannson ini ke ibukota Inggris sebagai pembuktian bahwa bibit sepakbola Inggris masihlah ada dan (masih) terus berkembang. Seperti Munir dan Barcelona, Chelsea juga mengorbitkan Ruben Loftus Cheek ke skuat utama mereka untuk musim ini.

Sepintas, memang tak ada yang salah dengan penyelenggaran dua edisi awal kompetisi ini. Semuanya tampak baik-baik saja bahkan hal ini memberikan keuntungan bagi beberapa pihak. Namun siapa sangka bahwa ada pihak yang merasa tidak mendapatkan “keadilan” dari penyelenggaraan kompetisi ini?

Chelsea U19 juara UEFA youth league musim lalu (sumber: uefa)
Chelsea U19 juara UEFA Youth League musim lalu (sumber: uefa)

Awal Mula Format Kompetisi

Pada awalnya, format kompetisi UEFA Youth League ini sangat mirip dengan UEFA Champions League saat memasuki penyisihan grup. Singkat kata, semua peserta UEFA Youth League saat babak penyisihan grup akan bergantung dimana tim senior mereka akan ditempatkan. Misal, jika tim senior Barcelona, PSG, Ajax dan Apoel misalnya ada dalam satu grup penyisihan, maka tim junior mereka (U19) pun demikian.

Format seperti ini juga disinyalir sebagai upaya menekan biaya perjalanan ketika bertandang ke kandang lawan karena akan berangkat dalam satu waktu karena jadwal penyisihan grupnya akan sama persis.

Jelas, sepanjang perjalanan pertandingan, tidak mungkin kesebelasan senior dan junior yang lolos dari fase kualifikasi grup ini akan sama persis. Probabilitasnya sangat kecil sekali. Misalnya di grup Barcelona, PSG, Ajax dan Apoel pada kategori senior (UCL) yang lolos adalah Barca dan PSG, mungkin saja di kompetisi junior tsb (UYL) yang lolos dari grup tersebut adalah Ajax dan Apoel.

Maka ketika memasuki babak knock-out, kompetisi UYL hanya memainkan satu leg saja, tak seperti UCL yang memainkan dua leg. Jika dalam waktu 90 menit kedua kesebelasan yang bertanding memiliki skor yang sama kuat, maka langsung dilanjutkan ke babak adu penalti, begitu pula pada babak lainnya termasuk final, tak ada babak tambahan waktu.

Peraturan single leg ini tentunya mempengaruhi tempat bermain mereka. Juara grup berhak bermain di kandang sendiri ketika berlaga di babak 16 besar. Selanjutnya penentuan tempat bermain saat perempat final yang masih menggunakan sistem single leg akan ditentukan dari undian. Sedangkan babak semi-final dan final, akan dimainkan di tempat netral yaitu di Colovray Sport Center di Nyon, Swiss.

Setelah membaca pemaparan singkat dari peraturan lama kompetisi UYL di atas, apakah ada sebuah kejanggalan?

Barcelona U19 juara perdana UEFA youth league
Barcelona U19 juara perdana UEFA youth league

Ya, kejanggalan tersebut adalah peserta dari kompetisi ini adalah buntut dari apiknya performa dari tim senior. Semisal, jika kesebelasan senior Barcelona menjadi juara liga Spanyol, secara otomatis hal tsb mengantarkan mereka menuju fase grup liga Champions (UCL), maka kesebelasan Barcelona U19 yang (mungkin saja) di liganya sedang melempem akan “kecipratan rezeki” dari para seniornya.

Padahal, jika kita menganggap serta menyamakan persepsi bahwa UYL adalah kompetisi para juara-juara liga junior di negara-negara Eropa seperti layaknya UCL yang mempertemukan para tim-tim juara dan terbaik di setiap negaranya, maka seharusnya peserta UYL pun diseleksi dari juara kompetisi-kompetis antar kesebelasan junior di negaranya masing masing.

Perubahan Format

Kini, UEFA mulai sadar dengan potensi dari kesenjangan yang ditimbulkan dari sistem kompetisi yang mereka cetuskan pada awal mula penyelenggaraannya. Kesebelasan-kesebelasan juara liga domestik pada tingkat junior kini memiliki hak untuk tampil dalam kompetisi tertinggi sepakbola junior di Eropa. Sistem format yang ditawarkan adalah pembagian jalur kualifikasi grup antara "kesebelasan yang mengekor kepada peserta fase grup UCL" dan para "kesebelasan peserta yang memang juara grup di liga domestik-nya masing-masing".

Mereka yang mengekor kepada sistem fase grup UCL, akan bertanding secara normal seperti apa yang sadah dipaparkan pada penjelasan di atas. Sedangkan para kesebelasan juara liga domestik akan bertarung dalam dua ronde yang berformat dua leg untuk menentukan siapa yang akan lolos ke babak play-off.

Babak play-off ini menjadi jalur pertemuan kedua sistem yang berbeda tersebut. Total 32 kesebelasan juara liga domestik yang akan disaring menjadi delapan tim saja nantinya akan bertarung dengan para kesebelasan runner-up fase grup yang mengekor pada UCL.

Pertandingan play-off ini tidak mengizinkan kesebelasan dari negara yang sama akan bertanding dan format kompetisi hanya menggunakan satu leg saja. Kemudian, pemenangnya akan bergabung di babak 16 besar yang formatnya masih sama dengan kompetsi UYL dalam dua musim sebelumnya. Kebijakan UEFA terbaru ini tentu saja menjadi angin segar tersendiri untuk kesebelasan-kesebelasan yang berjuang di liga domestiknya tanpa harus menghawatirkan tim senior mereka berkompetisi di UCL atau tidak.

Grafis singkat format baru UEFA youth league (sumber: uefa)
Grafis singkat format baru UEFA youth league (sumber: uefa)

Spanyol, yang di UYL mengirimkan lima utusannya (Barca, Real, Atletico, Valencia dan Sevilla) karena pengaruh tim senior mereka, kini menambah satu lagi utusannya di UYL musim ini yaitu kesebelasan Villareal karena mereka berhasil menjuarai Copa de Campeones yang menjadi jalan untuk berlaga di kompetisi Eropa. Total enam partisipan dalam satu kompetisi level Eropa adalah rekor tersendiri bagi kompetisi ini.

Selain itu, kesebelasan-kesebelasan yang mayoritas berasal negara-negara yang meiliki koefisien dan peringkat yang rendah inilah yang banyak diuntungkan dengan format dan sistem baru UYL. Hal tersebut secara langsung mempengaruhi pembinaan pemain muda dalan suatu kesebelasan tersebut dengan mengikuti kompetisi junior level tertinggi di Eropa.

Sumber gambar: UEFA

Komentar