Beda Nasib (Sepakbola) Timur dan Barat Jerman

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Beda Nasib (Sepakbola) Timur dan Barat Jerman

Coba perhatikan gambar di samping ini dengan seksama. Ada yang bisa menebak gambar di kota manakah ini?

Ini adalah gambar kota Berlin pada malam hari yang diambil oleh Chris Hadfield, seorang astronot asal Kanada, dari angkasa. Gambar ini ia publikasikan pada April 2013 lalu lewat akun Twitter-nya.

Pada gambar tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan warna dominan antara area sisi kanan dan kiri. Area kanan yang merupakan daerah eks Jerman Timur, didominasi oleh warna kuning. Sementara sisi kiri, bekas kawasan Jerman Barat, didominasi oleh warna biru.

Perbedaan dominasi warna pada kedua sisi ini memperlihatkan apa yang terjadi di negara Jerman. Kontras warna ini merupakan salah satu bukti bahwa adanya perbedaan infrastrukstur, khususnya perihal penggunaan kualitas lampu jalan, pada kedua area ini: Jerman Barat lebih menyala, sementara Jerman Timur tampak lebih redup.

Soal perbedaan yang terjadi antara “timur” dan “barat” Jerman ini, lewat sepakbola pun kita bisa menjabarkan betapa “timur” terus hidup di bawah bayang-bayang saudara tuanya. Kesebelasan-kesebelasan asal “barat” lebih mendominasi sepakbola Jerman ketimbang kesebelasan-kesebelasan “timur”.

Hingga saat ini, belum ada satu pun kesebelasan asal Jerman Timur yang pernah menjuarai Bundesliga. Bahkan ketika Bundesliga kini disebut-sebut sebagai salah satu model liga tersehat dari segi finansialnya di Eropa, hanya sedikit kesebelasan eks-Jerman Timur yang ikut menjadi besar bersama terus terangkatnya pamor Bundesliga.

Jika menilik lebih jauh, hal ini memang wajar terjadi. Mayoritas dari kesebelasan-kesebelasan yang memiliki nama besar di DDR Oberliga, Liga untuk Jerman Timur, kesulitan untuk mencapai Bundesliga, berkutat di divisi dua atau tiga.

Nama-nama seperti FC Madgeburg, Berliner FC Dynamo, atau Dynamo Dresden tentunya cukup asing di telinga kita. Kesebelasan-kesebelasan ini bukan tak pernah berlaga di Bundesliga, tapi hanya bertahan di kompetisi teratas hanya beberapa musim saja.

Jurang prestasi antara “timur” dan “barat” sudah terlihat sejak Tembok Berlin masih tegak berdiri. Satu-satunya raihan timnas Germany Democratic of Republic (GDR) yang paling diingat hingga saat ini hanyalah saat mereka mengalahkan Jerman Barat pada 1974, tak lebih dari itu.

Tak jauh berbeda dengan raihan kesebelasan lokal Jerman Timur. Sangat sedikit kesebelasan dari “timur’ Jerman ini yang bisa berbicara banyak di kompetisi Eropa. Satu-satunya kesebelasan Jerman Timur yang meraih kejayaan di kompetisi Eropa hanya FC Magdeburg yang memenangi Piala UEFA 1974, mengalahkan AC Milan dengan skor 2-0. Sisanya, hanya berjaya di liga lokal dengan sejumlah catatan tentang kedekatan mereka dengan golongan kiri atau penguasa.

Soal kedekatan dengan penguasa, Berliner FC Dynamo adalah salah satu contohnya. Kedekatannya dengan Stasi, atau polisi rahasia Jerman Timur, membuat mereka menjuarai liga selama 10 tahun berturu-turut pada periode 1979 hingga 1989. Maka tak heran mayoritas gelarnya dicurigai adanya indikasi korupsi, pengaturan pertandingan, intimidasi dan berbagai tindakan tidak etis lainnya.

Peleburan antara “timur” dan “barat’ terjadi setelah hancurnya Tembok Berlin. Namun kesebelasan-kesebelasan timur tetap kesulitan bersaing atau adaptasi dengan gaya hidup, sistem ekonomi, dan cara kerja industri sepakbola kesebelasan barat.

Kedigdayaan kesebelasan barat dari timur terjadi karena kesebelasan timur masih bergantung pada dana yang berasal dari perusahaan-perusahaan negara. Hal ini pula yang memunculkan sebutan factory teams untuk kesebelasan eks Jerman Timur.

Bagi pemain, peleburan ini pun memberikan perubahan tersendiri dalam karir mereka. Jika sebelumnya para pemain dari “timur” dilarang menyebrang ke “barat”, setelah peleburan para pemain pun bisa dengan leluasa untuk hijrah ke kesebelasan “barat”.

Dan ternyata, para pemain terbaik kesebelasan “timur” pun memilih menyebrang. Di antaranya Matthias Sammer, Michael Ballack, Robert Enke, Rene Adler Toni Kroos. Kesebelasan barat yang memiliki kekuatan finansial tentunya membuat para pemain berbakat ini bisa menyulap karirnya lebih bersinar.

Namun seperti yang terlihat pada gambar Hadfield di atas, area timur lambat laun bisa bersinar, sedikit demi sedikit. Dan hal ini terjadi juga bagi kesebelasan-kesebelasan kesebelasan “timur” yang juga mulai bangkit dan memunculkan namanya.

Hertha Berlin menjadi satu-satunya kesebelasan “timur” yang berkompetisi di Bundesliga saat ini. Sementara kesebelasan lain macam Dynamo Dresden, Hansa Rostock, atau Union Berlin sudah banyak yang berinvestasi pada infrastruktur atau renovasi stadion. Dalam beberapa musim ke depan, tampaknya kesebelasan-kesebelasan ini pun akan membuat kesebelasan “barat” bertandang ke “timur” pada kompetisi Bundesliga.

Komentar