Pelajaran Luar Biasa dari Legenda Sepakbola dan Bekas Tentara NAZI

Cerita

by Taufik Nur Shidiq Pilihan

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pelajaran Luar Biasa dari Legenda Sepakbola dan Bekas Tentara NAZI

Bernhard Carl Trautmann tumbuh di era Adolf Hitler dan terdampar di Inggris sebagai musuh, seorang tawanan perang. Hal tersebut, toh, tidak mencegahnya pria yang akrab disapa Bert tersebut menjadi pahlawan. Saat menerima penghargaan Order of the British Empire – untuk jasanya menjadi penjaga hubungan baik antara Jerman dan Inggris – di Berlin pada 2004, Ratu Inggris berujar kepadanya: "Ah, Herr Trautmann. Saya ingat Anda. Leher Anda masih sakit?"

"Tumbuh di Jerman pada era Hitler," kata Trautmann, "kita tidak memiliki pendapat pribadi. Kita tidak memandang musuh sebagai manusia. Kemudian, ketika kita mulai menawan musuh, kita akan mulai mendengar tangisan mereka tentang ayah dan ibu. Saat itulah kita akan merasa tersentuh. Ketika kita bertemu musuh, mereka menjadi manusia. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar keraguan tumbuh. Namun rezim Hitler bersifat diktatorial dan kita tidak dapat mengutarakan pendapat. Di angkatan darat Jerman, kita mendapat perintah dan harus menurutinya. Jika tidak, kita ditembak mati.

Bert Trautmann mendaftarkan diri ke angkatan darat pada usia 17 tahun. Sebagai Luftwaffe ia bertugas di Rusia dan Perancis, dan untuk keberaniannya ia mendapat empat medali penghargaan. Selamat dari Rusia dan Perancis toh tidak menjamin keselamatan Trautmann. Tentara Inggris menangkapnya dan ia dijadikan tawanan perang.

Menariknya, Trautmann tidak mengutuk nasibnya. Ketika tentara Inggris menangkapnya, kalimat pertama yang mereka ucapkan kepada Trautmann adalah "Halo, Fritz, nikmatilah secangkir teh". Kisah cintanya dengan Inggris dimulai saat itu juga.

"Saya merasa menjadi orang Inggris," ujar Trautmann mengenai penangkapan itu. "Ketika orang-orang bertanya mengenai hidup kepadaku, aku katakan pendidikanku dimulai ketika aku datang ke Inggris. Aku belajar mengenai kemanusiaan, toleransi, dan kesediaan memaafkan."

Alih-alih mengeksekusi musuhnya, tentara Inggris menjadikan Trautmann tawanan perang dan menempatkannya di Ashton-in-Makerfield, Lancashire. Di sana ia mengisi waktunya dengan bermain sepakbola bersama para tawanan perang lain. Di sana pula sebuah cedera ringan membentuknya menjadi seorang legenda.

Ketika kesebelasan tawanan perang Jerman hendak bertanding melawan Haydock Park, kesebelasan lokal amatir, Trautmann yang bermain di posisi gelandang tengah menderita cedera ringan dan meminta Gunther Luhr, penjaga gawang kesebelasannya, bertukar posisi dengannya. Sejak saat itu tak pernah lagi Trautmann meninggalkan posisi penjaga gawang.

Ketika Perang Dunia II berakhir, Trautmann menolak dipulangkan ke Jerman dan bermain untuk kesebelasan amatir, St Helens. Kebersamaannya dengan St Helens menarik perhatian Manchester City yang sedang mencari pengganti untuk penjaga gawang terbaik sepanjang sejarah mereka (hingga saat itu), Frank Swift.

Bergabung dengan City pada 1948, awal karir Trautmann tidak mudah. Pertama, Swift adalah seorang legenda sehingga wajar jika para pendukung City meragukan siapa saja yang menggantikannya. Kedua, banyak orang Yahudi di Manchester dan mereka menentang kebijakan kesebelasan merekrut seorang Nazi.

Beruntung Trautmann mendapat pembelaan dari seorang pemuka agama Yahudi Manchester bernama Dr. Altmann. Seroang individu, kata Dr. Altmann, tidak bisa disalahkan atas dosa negaranya.

"Berkat Altmann, setelah satu bulan semuanya baik-baik saja," ujar Trautmann. "Kemudian aku mengunjungi komunitas Yahudi dan berusaha menjelaskan semuanya. Aku berusaha memberi pengertian mengenai situasi orang-orang di Jerman pada 1930an. Aku bertanya jika mereka berada di situasi yang sama, di bawah kepemimpinan diktator, bagaimana reaksi mereka? Dengan berbicara seperti itu, orang-orang mulai mengerti."

Dan terus bermainlah Trautmann untuk Manchester City. Dalam perjalanannya, Trautmann yang bertubuh tinggi besar namun sangat ramah menjadi sosok yang disegani di lapangan. "Sebagai seorang penjaga gawang, Bert memiliki segalanya," ujar Joe Corrigan, eks penjaga gawang City. "Ia lincah, cerdas, berwibawa dan berani, dan seorang legenda dari sudut mana saja ... ia menulis kata pengantar untuk otobiografiku – kata-kata yang ditulisnya masih membuat aku merinding."

Seperti Corrigan, manajer legendaris Manchester United, Sir Matt Busby, juga mengakui kehebatan Trautmann. "Jika ia melihat mata kalian," ujar Busby kepada para pemainnya pada suatu kesempatan sebelum Manchester Derby di tahun 1950an, "ia akan tahu ke mana kalian mengarahkan bola."

Trautmann menjalani 545 pertandingan bersama City dan selama itu ia menjalani karir yang gemilang. Puncak karirnya, bagaimanapun, ia rasakan pada 1956. Saat itu Trautmann menjadi pemain asing pertama yang meraih penghargaan pemain terbaik versi Football Writers` Association dan bermain di final Piala FA-nya yang kedua; satu pertandingan yang membuatnya masih dikenang hingga saat ini.

Bert Trautmann1

Tujuh belas menit sebelum pertandingan melawan Birmingham City tersebut berakhir, Trautmann terbang memotong umpan yang masuk ke area pertahanan City. Di saat yang bersamaan, penyerang Birmingham Peter Murphy berusaha menyambut bola. Lutut Murphy menabrak leher Trautmann dan sang penjaga gawang tidak sadarkan diri karenanya.

Setelah penanganan medis, Trautmann meneruskan permainan walau ia mengaku sangat kesakitan dan tidak dapat melihat dengan jelas. Ia harus menopang lehernya dengan tangan dan tidak dapat menoleh. Namun Trautmann berhasil mempertahankan keunggulan 3-1 dan akhirnya menjadi juara.

Tiga hari setelahnya, lewat pemeriksaan sinar-x, diketauhi bahwa Trautmann menderita patah tulang leher dan sebuah kejutan dapat membuatnya terbunuh. "Aku sangat beruntung," ujarnya. "Ahli bedah berkata aku bisa saja mati atau lumpuh."

Trautmann tidak mengalami salah satu atau kedua nasib buruk itu. Ia tetap hidup dan menjalani hari-hari yang lebih tenang dan menyenangkan di masa tuanya. Pemerintah Jerman mengirimnya ke negara-negara dunia ketiga seperti Birma, Tanzania, Liberia, Pakistan, dan Yaman untuk mengajar.

"Aku mengajari orang untuk menjadi pelatih sepakbola," ujar Trautmann. "Namun mereka semua mengajariku banyak hal tentang hidup, tentang toleransi, dan perbedaan pendapat." Karena itulah pesan Trautmann kepada orang-orang adalah agar mereka banyak-banyak travelling agar banyak mendapat pelajaran hidup.

Trautmann yang lahir di Bremen pada 22 Oktober 1923 meninggal tepat dua tahun lalu hari ini, 19 Juli, di La Llosa, Valencia, Spanyol.

Komentar