Seranjang dengan Maradona

Cerita

by Marini Saragih Pilihan

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Seranjang dengan Maradona

5 Juli 1984 adalah hari yang tak terlupakan buat Napoli. Hari itu, Diego Armando Maradona Franco – pesepakbola urakan asal Argentina yang berbadan gempal -- resmi hijrah ke Italia. Alih-alih bersepakbola di belahan Italia Utara yang jauh lebih makmur, dengan kesebelasan-kesebelasan bergelimang harta, sejarah dan pemain top, Maradona lebih memilih merumput di Italia Selatan.

Agaknya, ia mau menjadi satu dengan segala kesemrawutan yang menjadi ciri khas bagian selatan Italia. Dan sejarah kemudian mencatat: kedatangan Maradona ke selatan Italia itu mengubah peta sepakbola walau hanya untuk sesaat. Dalam sesaat, selatan Italia mengalami dan merasakan pembebasan.

Berbicara tentang Maradona, beberapa tahun lalu saya menemukan blog sepakbola yang eksentrik dan menyenangkan untuk dijelajahi. Namanya In Bed with Maradona. Walaupun menggunakan nama Maradona, blog ini tak melulu membincang Maradona dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Pembicaraan sepakbola di blog ini begitu menarik, karena ia sering kali membicarakan hal-hal yang umumnya malas dibicarakan oleh orang-orang yang menggiati sepakbola dalam bentuk apapun. Jadi, jika punya waktu, sesekali berkunjunglah ke sana.

Dalam bahasa Inggris, frasa �"in bed with�" memiliki dua makna konotasi. Yang pertama: menolong dan menerima pertolongan secara rahasia. Misalnya terdapat pada kalimat: �"The senator isnÂÂÂ’t only person in Washington whoÂÂÂ’s in bed with military equipment manufacturers�". Sedangkan makna �"in bed with�" yang kedua adalah berhubungan seks. Jika digunakan dalam kalimat bisa menjadi seperti: �"In the end, she found her husband in bed with another woman.�"

Tragis ya? Ya sudahlah, namanya juga rumah tangga. Lagipula itu cuma contoh.

Saya tidak paham apa yang membuat Jeff Livingstone, si empunya blog, menggunakan nama tadi. Apapun yang menjadi alasannya, nama itu membuat saya berpikir jika Napoli diumpamakan sebagai manusia maka Diego Maradona adalah pesepakbola yang pernah bersetubuh dengannya.

Bagi Napoli dan sepakbola Italia Selatan, Maradona adalah pahlawan. Sementara buat mereka di Italia Utara, Maradona adalah musuh. Maradona bagaikan ketua komplotan yang berupaya menjungkirbalikkan kekuasaan yang selama ini menjadi milik mereka.

Maradona menjadi besar di Napoli tidak hanya karena ia berhasil menjadi pencetak gol terbanyak. Bukan rahasia kalau sejak dulu Italia Selatan kerap menjadi pihak yang merasa �"direndahkan�" Italia Utara. Wilayah utara dengan Milan dan Turin-nya adalah lambang kekayaan, kemajuan dan kemakmuran Italia. Sedangkan wilayah bagian selatan ibarat pembuangan kaum miskin. Bagi Italia, mereka-mereka yang ada di wilayah selatan hanyalah beban yang membikin susah negara.

Sebagai bagian dari kelompok miskin yang ikut berlaga di ranah kompetisi Serie A, Napoli juga tak pernah menjadi yang nomor satu. Sepakbola memang boleh mengenakan topeng manis dan berkata �"yang penting sudah berusaha�" atau �"klub A memenangkan trofi tetapi klub B memenangkan hati�" – namun pada kenyataannya, pemenang hanyalah mereka yang berada di puncak.

Lagipula sebagai tentulah Napoli merasa jengah jika gagal melulu menjadi yang teratas. Masak ada klub yang dengan senang hati menjadi nomor dua, tiga atau sepuluh? Bagi Napoli, hasrat apalagi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan merengkuh gelar juara Italia?

Barangkali ada banyak yang berpikir kalau tak masalah bila Napoli tak berhasil merebut scudetto asalkan bisa berprestasi atu setidaknya berpartisipasi di kompetisi lainnya yang bergengsi jauh lebih tinggi. Tapi begini: persaingan antara klub-klub Italia Selatan dan Italia Utara bukan hanya menyoal sepakbola. Di sana ada persoalan politis sosio-kultural yang mengakar dan beranak cucu.

Sama seperti tubuh kita yang begitu banyak dibatasi norma sehingga kerap terhalang mencapai kenikmatan ragawi yang juga menjadi kebutuhan dasar sebagai manusia (percayalah, jika tidak demikian Tuhan tidak akan repot-repot menciptakan alat kelamin); �"tubuh�" Napoli juga dikekang norma. Norma yang berlaku di sana adalah: selatan Italia harus tunduk kepada utara. Kekuasaan hanya milik mereka yang maju dan bergelimang harta, kumpulan orang miskin yang cuma menambah beban negara tak pantas berada di atas.

Relasi atau aktivitas seksual, jika dilakukan dengan dasar dan cara yang benar dapat berarti pembebasan. Ia berarti pembebasan yang membikin seseorang dapat memenuhi apa yang menjadi hasratnya. Relasi seksual membutuhkan mitra, ia memerlukan pasangan. Dan Maradona adalah pasangan bagi Napoli dalam relasi seksualnya.

Maradona yang berlaga bersama Napoli dan merebut gelar juara di kompetisi Serie A ibarat sepasang manusia yang mendobrak batasan tabu, norma, adat-istiadat yang selama ini membatasi mereka untuk memuaskan hasrat yang sebenarnya menjadi kebutuhan mereka sebagai manusia. Keberhasilan Napoli di era Maradona merebut scudetto merupakan keberhasilan pertama klub di Italia Selatan. Keberhasilan itu adalah cara sangat keren mempersetankan �"keharusan�" wilayah selatan untuk tunduk kepada wilayah utara Italia. Lewat scudetto yang berhasil direbut pada musim 1986/1987 rasanya Napoli menertawakan segala kekayaan yang dimiliki klub-klub penghuni wilayah utara Italia seperti Milan dengan (AC dan Inter-nya) ataupun Juventus hingga Roma dengan AS dan Lazio-nya.

Lalu, apakah karena keberhasilan perlawanan terhadap �"norma�" di era Maradona membikin Napoli saat ini jauh lebih unggul secara politis jika dibandingkan utara Italia? Saya pikir tidak serta-merta demikian. Sama seperti relasi seksual saya yang tidak bisa membuat saya terlepas selamanya dari ikatan norma, begitu pula dengan Napoli.

Robert Putnam dalam Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy menjelaskan kalau yang menjadi penyebab kekalahan Italia Selatan secara politik-sosial-ekonomi adalah kepemilikan modal sosial. Profesor Universitas Harvard ini juga menerangkan kalau setidaknya, modal sosial memiliki 3 unsur penting: kepercayaan, resiprositas (hubungan timbal-balik atau pertukaran) dan jaringan.

Secara teori, modal sosial adalah hal yang berada di luar kontrol pemerintah. Ia adalah produk sampingan dari agama, tradisi, pendidikan atau bahkan pengalaman historis. Negara hanya bisa berupaya membantu menciptakan modal sosial melalui penjaminan keamanan atau perlindungan hak-hak kepemilikan.

Yang menjadi masalah, wilayah selatan Italia kerap menjadi sarang mafia Italia yang termahsyur itu. Jika tidak percaya - carilah berita tentang mafia-mafia Sisilia ataupun Napoli. Rasanya dengan keberadaan mafia yang tak tertumpas itu, membicarakan upaya menciptakan modal sosial di Italia Selatan bagaikan usaha menjaring angin.

Makanya, atas segala kekangan tersebut rasanya mustahil untuk meyakini kalau pemberontakan Napoli di era Maradona serta-merta menjadikan Italia Selatan sebagai pemenang atas Italia Utara. Namun, jika relasi seksual adalah suatu pengalaman mencapai kepuasan ragawi yang menempatkan seseorang pada ruang dan waktu yang spesifik, maka relasi seksual antara Napoli dan Maradona tersebut juga membuat mereka menikmati pengalaman kemenangan atas segala norma dan aturan.

Walaupun mungkin cuma untuk beberapa saat. Setidaknya selama gelar scudetto belum berpindah tangan Napoli merdeka dari "norma". Tapi merdeka yang sesaat.

Pada akhirnya, kata �"sesaat�" yang mengikuti �"merdeka�" memang menjadikan kemerdekaan tadi tidak nikmat-nikmat amat. Ia ibarat party pooper. Tapi setidaknya, apa yang menjadi hasrat tertinggi sebagai kumpulan manusia yang menggiati sepakbola sudah pernah terpuaskan. Jauh lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?

Foto: simple.wikipedia.com

Komentar