Kontroversi Anak Gawang dan Kemungkinan Belajar kepada Ball Boy Tenis

Cerita

by Ammar Mildandaru Pratama Pilihan

Ammar Mildandaru Pratama

mildandaru@gmail.com

Kontroversi Anak Gawang dan Kemungkinan Belajar kepada Ball Boy Tenis

Pertandingan baru dimulai pukul 15.30 tapi sekumpulan anak ini sudah bersiap sejak satu jam sebelumnya. Semuanya memakai peralatan lengkap mulai dari seragam, sepatu sepakbola, hingga pelindung tulang kering. Tak lupa mereka juga melakukan pemanasan di pinggir lapangan, beberapa juga mengolesi balsam di kaki.

Tetapi mereka semua tak sedang bermain sepakbola. Sekitar 10-12 anak tersebut adalah ball boy. Di Indonesia sendiri kita lebih mengenalnya dengan istilah "anak gawang": Sekumpulan --yang biasanya memang-- anak-anak dan berdiri di sekitar gawang atau pinggir lapangan untuk mengurusi bola yang keluar lapangan.

Pemandangan di atas masih teringat betul karena berkaitan dengan rutinitas saya datang ke stadion. Mereka selalu duduk tepat sekitar 4-5 baris di depan tempat favorit saya menonton, begitu juga jam kedatangan hampir selalu sama. Sehingga lewat pertemuan yang bisa terjadi sepanjang musim tersebut membuat saya hafal tingkah polah mereka.

Tidak ada standar khusus dalam merekrut anak-anak tersebut, setahu saya di Indonesia kebanyakan mereka diambil dari sekolah sepakbola lokal tempat kesebelasan tersebut bermarkas. Bahkan di Inggris dengan Liga Primer-nya yang begitu tersohor, standar ini juga belum ada.

Laporan Louise Taylor di The Guardian mengungkapkan para kesebelasan di Inggris memang punya cara berbeda-beda merekrut anak gawang. Mulai dari akademi sendiri, sekolah-sekolah umum, hingga pengumuman di situs seperti yang dilakukan Man City.

Syaratnya juga tak susah-susah amat yang bahkan mayoritas anak akan mampu melakukannya. Bersedia menghadiri setiap pertandingan kandang, enerjik, dapat dengan cepat menangkap dan melempar bola dan bersedia untuk berada di pinggir lapangan dalam segala cuaca, serta mengantongi izin orang tua.

Pekerjaan tambahan juga tak terlalu berat, seperti membawa bendera fair play atau tali untuk pembatas awak media saat pemain memasuki lapangan.

Kendornya persyaratan itu tak jarang memungkinkan beberapa anak gawang kerap berulah ketika menjalankan tugas. Salah satu yang terkenal adalah kasus Eden Hazard saat melawan Swansea pada 2013 lalu. Ketika itu seorang anak gawang yang diketahui bernama Charlie Morgan enggan memberikan bola ke Hazard. Bahkan sang bocah justru memeluk bola tersebut dengan erat. Jika mengacu pada skor yang masih imbang tanpa gol, tujuan Charlie sepertinya untuk mengulur waktu.

Hazard kemudian kesal dengan ulahnya yang tak kunjung memberikan bola. Akibatnya dengan emosional ia menendang anak tersebut. Tindakan yang membuat Hazard harus menerima kartu merah dari wasit. Bagaimanapun tindakan anak gawang jelas salah, tetapi sebagai pemain profesional membalas perbuatan lawan yang diwakili oleh si anak gawang juga tak dibolehkan.

Ada banyak sekali contoh lain ulah-ulah anak gawang di sepakbola yang kebanyakan berupa kontroversi negatif. Jika anda menelusuri di mesin pencari dengan kata kunci "ballboy football" yang tergolong umum tanpa tambahan incident sekalipun.

Real Madrid v Juventus - UEFA Champions League Semi Final Second Leg Evra menjadi korban kenakalan anak gawang Real Madrid yang mengulur waktu di semifinal Liga Champions 2015


Di Indonesia sendiri tindakan seperti di atas bukannya tak ada, setidaknya dua kali saya melihat langsung ulah anak gawang yang tidak sepatutnya dilakukan. Pertama adalah saat menonton ISL 2008 di salah satu stadion di Jawa Timur.

Ketika itu seorang anak gawang sedang menerima bola dari rekannya, bukannya menangkap ia malah mencoba mengontrol bola menggunakan kaki. Tak cukup hanya itu dengan sedikit trik juggling bola tersebut justru ia mainkan yang sayangnya gagal. Bola akhirnya terlempar ke dalam lapangan, tak jauh memang karena masih di sekitar pinggir lapangan tetapi sudah melewati garis tepi.

Si anak gawang tentu panik dan langsung berlari mengambil bola. Untung saja wasit tidak melihat kejadian tersebut karena dapat mengakibatkan pertandingan dihentikan sementara. Aturan sepakbola memang melarang orang yang tidak berkepentingan memasuki lapangan walau kondisi bola mati sekalipun kecuali atas izin wasit.

Kedua adalah insiden yang sering dilakukan anak gawang, yaitu mengulur waktu dengan menahan beberapa bola beberapa saat pasca keluar lapangan. Saya tak terlalu ingat lawan ketika kejadian itu, yang jelas pemain yang akan melakukan lemparan ke dalam hampir berkelahi dengan si anak gawang karena ulahnya tadi.

Ballboy di Sepakbola vs Tenis

Jika di sepakbola ballboy atau anak gawang punya banyak kontroversi, tidak demikian dengan di tenis. Ballboy di tenis dipilih secara ketat dengan serangkaian tes dan pelatihan yang panjang. Turnamen tenis paling tua di dunia Wimbledon yang berlangsung saat ini di London, Inggris, juga melakukan hal serupa.

Menurut Daily Mail, setidaknya ada 700 nama yang mendaftar tahun ini dan hanya 250 yang kemudian terpilih. Pelatihannya sendiri sudah berlangsung sejak Februari lalu, meliputi kesiapan fisik, peningkatan skill, dan prosedur pertandingan.

Seorang anak dapat dilatih berdiri diam dengan sedikit mungkin gerakan selama beberapa waktu. Jangankan punya kesempatan memainkan bola, untuk melempar ke temannya saja harus ada teknik sendiri. Kapan bola tersebut boleh dipantulkan dan tidak, misalnya, juga harus dilakukan lengkap dengan kode gerakan tubuh.

Ballboy di tenis juga punya pekerjaan tambahan untuk melayani sang petenis, yang juga tak boleh dilakukan sembarangan. Bahkan untuk sekadar memberikan handuk saja ada tata caranya tersendiri, agar sang petenis dapat mengusap keringat dalam satu gerakan saja.




Sepakbola barangkali perlu sedikit berkaca pada cara tenis memilih dan melatih para "anak gawang" mereka. Agar kejadian-kejadian kontroversial yang terkadang mengganggu jalannya pertandingan dapat diminimalisir. Tetapi akibatnya bisa jadi sepakbola justru kehilangan ciri khasnya karena akan berlangsung dengan kaku atau meminjam istilah populer: tidak merakyat.

Hanya saja yang patut disesalkan adalah cara curang yang dilakukan si anak gawang agar tim idolanya dapat memenangkan pertandingan. Karena bisa jadi para anak-anak tersebut atau juga mungkin anda yang pernah merasakan punya mimpi suatu saat membela tim kebanggaan.

Menjadi anak gawang terkadang memang sudah menjadi pencapaian tersendiri bagi seorang anak. Berdiri di pinggir lapangan dan berada begitu dekat dengan sang idola. Tetapi jika kemudian cara curang sudah ia lakukan sejak usia dini, apa jadinya kelak jika sang anak benar-benar berlaga bukan di pinggir namun di tengah lapangan dan tentu akan disaksikan anak gawang lain calon penerusnya nanti?

Komentar