Hubungan Ayah dan Anak dalam Hidup Tiga Agüero

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Hubungan Ayah dan Anak dalam Hidup Tiga Agüero

“Di barrio tempatku tinggal waktu masih bocah,” ujar Sergio Agüero berkisah, “Ada lapangan sepakbola tepat bersebelahan dengan rumahku.”

Jangan bayangkan lapangan sepakbola dengan ukuran yang memenuhi standar internasional, lengkap dengan dua gawang dan garis-garis pembatas lapangan. Agüero tumbuh di daerah kumuh.

Jalanan di sekitar rumah masa kecil Agüero berdebu di musim panas dan becek di musim hujan. Agüero hidup dalam kemiskinan namun ia tetap merasa bahagia karena sepakbola.

“Ini cerita yang sangat unik dan tidak biasa karena aku hanya perlu berjalan keluar dari rumahku dan sampailah sudah aku di lapangan dan bermain sepakbolalah aku,” lanjutnya. “Aku selalu mencintai sepakbola. Aku dapat berada di sini, kurasa, berkat kerja keras yang kulakukan dan setiap waktu yang kuhabiskan bermain sepakbola saat berusia lima tahun.”

Agüero menceritakan kisah di atas di sela-sela peluncuran bukunya, Born to Rise, tahun lalu. Buku tersebut mengisahkan perjalanannya, seorang anak miskin Argentina yang menjadi bintang sepakbola di Eropa.

Jauh sebelum Agüero merasa perlu membukukan kisah suksesnya, ia memetik keberhasilan kecil. Di usia 15 tahun 35 hari, Agüero mematahkan rekor Diego Maradona sebagai pemain termuda di Liga Argentina. Agüero tidak langsung menyadari hal besar yang ditorehkannya waktu itu.

“Saat itu semuanya tidak begitu berkesan, semuanya terjadi begitu cepat,” ujar Agüero. “Aku berlatih selama empat hari dengan kesebelasan utama dan aku bermain dalam pertandingan. Jadi aku tidak benar-benar peduli. Saat itu hal seperti ini normal. Aku harus bermain, itu saja. Setelah beberapa lama waktu berlalu, aku melihat ke belakang dan ya, itu ternyata pencapaian besar.”

Meskipun sudah menjadi pemain besar, namun Aguero tak lupa asal. Ia tidak lupa di mana ia dilahirkan. Tidak lupa di mana ia mulai belajar mengolah si kulit bundar. Dan tempat itu adalah sebuah klub Argentina bernama Independiente.

Sebagaimana Agüero awalnya tidak begitu menaruh peduli kepada pencapaian besarnya, ia juga terkesan biasa saja ketika berbicara mengenai Maradona, dewa sepakbola Argentina sebelum eranya; era sahabatnya, Lionel Messi. Agüero lebih menaruh hormat dan rasa bangga terhadap seorang pemain divisi ketiga bernama Leonel Agüero; ayahnya sendiri.

“Kenangan-kenanganku mengenai dirinya adalah ketika ia sudah berusia 32, atau 33 tahun dan aku ingat jelas-jelas melihatnya memiliki kualitas yang sangat baik,” ujar Agüero. “Dari apa yang orang-orang ceritakan tentangnya, yang tak kuingat, ia berbakat.”

Memang Leonel Agüero lumayan berbakat, namun ia menyudahi karir profesionalnya di usia 27 tahun. Alasannya sederhana: agar Sergio kecil dapat berkembang.

“Ia mengantarku ke mana saja, dari satu lapangan ke lapangan lainnya. Rasanya biasa saja bagiku, ada dirinya di sampingku. Namun ketika aku sudah dewasa aku menyadari bahwa tidak semua ayah dapat melakukan apa yang ia lakukan. Aku memiliki keberuntungan yang tak pernah ia dapatkan.”

Keberuntungan lain yang tidak dirasakan Leonel, barangkali, adalah memperistri putri seorang legenda sepakbola. Agüero merasakannya. Pada 19 Februari 2009, Agüero dan istrinya, Giannina, resmi menjadi orang tua sementara Diego Maradona mendapat cucu pertamanya. Benjamin namanya. Seolah tidak cukup memiliki ayah dan kakek bintang besar, ayah baptis Benjamin tidak kalah hebat: Lionel Messi.

Aguero adalah pemain hebat, tak ada yang meragukan hal ini. Apalagi bagi Manchester City sekarang, ia menjadi sosok penting yang berlabel pahlawan. 

Bukan tanpa alasan Agüero memilih Messi sebagai ayah baptis dari putranya. Keduanya adalah sepasang sahabat yang tidak dapat dipisahkan. Agüero dan Messi mulai berbagi kamar sejak Piala Dunia U-20 di Belanda tahun 2005, dan sejak saat itu tak pernah lagi keduanya rela ditempatkan di kamar yang berbeda.

Sempat, ketika Agüero dan Messi sudah sama-sama menjadi bagian dari Tim Nasional Senior Argentina, seorang pelatih kebugaran tim nasional menyarankan keduanya tidur di kamar yang terpisah. Messi kemudian secara khusus meminta agar Agüero kembali menjadi teman sekamarnya.

“Jangan khawatir, kami hanya teman,” tulis Agüero dalam bukunya. “Jika ia tidur aku harus mengendap-endap ke kamar kecil dan menghentikan getaran telepon genggamku agar tidak membangunkannya. Ia seperti saudaraku sendiri.”

Agüero sudah bercerai dengan Giannina sehingga hubungannya dengan Maradona tidak seerat semula. Namun dengan Messi, ikatan persahabatan yang ada tetap erat seperti sedia kala. Kalaupun ada hal-hal lain yang tidak berubah, itu adalah fakta bahwa Maradona tetap kakek Benjamin dan Messi tetap ayah baptisnya. Dengan demikian, besar sekali tekanan untuk menjadi pemain sepakbola bagi Ben kecil. Namun Agüero tidak mau memaksa.

“Jika benar gen berperan besar, maka ia akan menjadi pemain yang cukup baik,” ujar Agüero. “Namun kita lihat saja bagaimana nanti karena ia sangat menyukai roller skating dan bermain hoki.”

Jadi apakah kelak Ben kecil, biarlah waktu yang menjawab.

Komentar