Ketika Paolo Guerrero Berhasil Melewati Fobia Naik Pesawat

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Ketika Paolo Guerrero Berhasil Melewati Fobia Naik Pesawat

Kepercayaan Ricardo Gareca, pelatih Peru, kepada Paolo Guerrero sebagai penyerang utama sama sekali tidak luntur kendati ia belum mencetak gol dalam tiga laga di babak grup Copa America 2015. Catatan kemandulan di babak grup Copa America 2015 ini belum apa-apa dibanding catatan buruk Guerreo lainnya: sejak 2012, pendamping Claudio Pizarro di lini depan tersebut baru mencatatkan dua gol pada laga intenasional bersama timnas Peru.

Jelas itu handicap yang melempem bagi seorang penyerang. Tidak heran jika Bolivia sama sekali tidak memberi penjagaan yang ketat pada Guerreo pada pertandingan perempat final Copa America 2015 di Estadio Municipal German Becker, Kamis (25/6). Lini pertahanan Bolivia tampak lebih mewaspadai Pizarro ketimbang penyerang yang kini resmi berseragam Flamengo dari Liga Brasil tersebut.

Rupanya keputusan The Green (La Verde), julukan Bolivia, membiarkan Guerrero bebas tanpa pengawalan itu terbukti keliru. Tiba-tiba saja, Guerrero menjelma menjadi seorang predator menakutkan bagi lini pertahanan Bolivia yang dilatih oleh Mauricio Soria tersebut. Layaknya seekor singa, ia mengunyah lini belakang Bolivia seperti rombongan antelop yang lemah.

Tidak tanggung-tanggung, Guerreo mencetak hattrick yang memastikan Peru berhasil lolos ke babak semifinal Copa America 2015.

Selain mengabaikan Guerrero, Soria juga dianggap melakukan kesalahan taktik. Bolivia melarang siapa pun untuk menonton sesi latihan terakhir mereka sebelum bertanding melawan The Incas (Los Incas), julukan Peru. Rupanya Soria sedang menyiapkan sebuah kejuta. Dan kejutan itu berupa: Bolivia bermain dengan tiga bek.

Formasi tersebut tidak biasa digunakan selama kepelatihan Soria. Terakhir kali formasi tiga bek digunakan Bolivia terjadi pada September tahun lalu kala melawan Ekuador. Saat itu The Green masih dinahakodai Xabier Azkargorta. Hasilnya, mereka harus menelan kekalahan pahit 0-4.

Pada pertandingan melawan Peru pun Bolivia seolah mengulangi kesalahan yang sama di lini pertahanannya. Luis Advncula dan Juan Manuel Vargas yang menjadi dua full-back The Incas selalu berhasil menekan hingga pertahanan The Green. Begitu juga dengan dua gelandang sayap Peru, Jefferson Farfan dan Christian Cueva, begitu menikmati menyisir sisi sayap lawan.

Pertahanan Bolivia pun diperparah karena beberapa bek mereka sering terpancing pergerakan Pizarro. Pergerakan Pizarro itulah yang banyak melahirkan celah kosong yang dengan sempurna bisa dimaksimalkan oleh Guerrero untuk memporak-porandakan kesebelasan besutan Soria tersebut.

Tidak cuma hattrick, pesepakbola bernomor pungggung sembilan Peru itu pun dinobatkan menjadi pemain terbaik pertandingan perempat final melawan Bolivia tersebut. Empat tendangan Guerrero mengarah tepat sasaran (tiga di antaranya menjadi gol). Selain usaha mencetak gol, ia pun memenangkan delapan kali duel udara serta memberikan empat operan kunci kepada rekan-rekannya.

Tiga gol yang berhasil diborong Guerrero di laga perempatfinal memang menjadi pencapaian tersendiri. Sebelum dilanda kemandulan, ia memang salah satu andalan Peru. Bahkan pada Copa America 2011, ketika Peru mengalahkan Venezuela di perebutan tempat ketiga, ia sempat mencetak hattrick. Di Copa America 2011 itulah Guerreo menjadi top skor dengan lima gol.

guerrerro


Guerrero Takut Naik Pesawat

Guerrero tengah menikmati kegembiraan berkat hattrick yang dicetaknya tersebut. Tiga gol itu menambah pundi-pundi gol internasionalnya menjadi 24 gol dari 53 pertandingan. Pencapaian Guerrero itulah yang membuat skuat The Incas semakin percaya diri jelang menghadapi tuan rumah Chile pada semifinal Copa America yang akan berlangsung di Estadio Nacional, Santiago, Senin (29/6) mendatang.

Walau tengah berada di puncak, rupanya mantan pemain Hamburg SV ini memiliki trauma. Guerrero merupakan pesepakbola yang memiliki phobia naik pesawat. Michael Oenning, pelatihnya di Hamburg SV, mengatakan kepada media Jerman tentang ketakutan Guerrero ketika menaiki pesawat.

"Kami tahu tentang rasa takut Paolo (Guerrero) terbang. Dirinya merasakan kesempitan di kursinya dan mengalami kekakuan pada ototnya," ungkapnya dikutip Mental Healty.

Pada 2010 lalu Guerrero pernah tertunda kepulangannya ke Jerman dari Peru setelah berobat cedera lutut karena takut naik pesawat. Walau cederanya sudah pulih ia masih enggan mengarungi perjalanan udara, bahkan sampai kabur empat kali walau sudah berada di bandara.

Guerrero pernah mengungkapkan jika berada di pesawat serasa membuat ususnya terlilit. Bahkan walau sudah minum obat penenang pun tetap tidak bisa membuat ia bersedia lepas landas. "Takut terbang dan ketakutan di pesawat bisa mendatangkan sesuatu dengan perut saya," katanya kepada Kickers.

Dirinya pun menambahkan jika penerbangan dari pertandingan Liga Eropa 2009/2010 dari Prancis merupakan perjalanan yang paling menakutkannya karena ia harus terjebak dalam turbulensi yang serius di dalam kapal terbang. Rupanya, selidik demi selidik, trauma yang mengeram dalam diri pemain setinggi 185 cm ini dipicu oleh kematian pamannya yang tewas dalam kecelakaan pesawat pada 1987 silam.

Kemandulan yang cukup lama yang dialami Guerrero di tim nasional bisalah dikatakan sebagai fase terbang yang melilit perutnya itu. Kini penyerang berpostur besar tersebut sudah mendarat di Cile. Ia sudah tidak lagi berada di ketinggian, dan telah mendarat, juga juga melewati fase jetlag-nya dengan mencetak hattrick.

Kini sudah hampir jelas bagi The Red One (La Roja), julukan Cile, mereka tak bisa lagi membiarkan Guerrero bebas bergerak begitu saja pada partai semifinal nanti. Bolivia sudah merasakan sendiri seperti apa dampaknya.

Simak juga berbagai cerita menarik terkait Copa America di tautan ini

Dari berbagai sumber

Komentar