Pola-pola dalam Transfer Jackson Martinez

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pola-pola dalam Transfer Jackson Martinez

Ada sejumlah hal menarik dalam transfer Jackson Martinez dari Porto ke Atletico Madrid. Martinez seperti mengikuti sejumlah pola pemain yang dijual Atletico. Jika ini benar, maka tak lama lagi kita akan menyaksikan Martinez bertanding di Liga Inggris.

Transfer Martinez memang mengejutkan. Penyerang Kolombia ini awalnya dikabarkan hampir merapat ke AC Milan. Namun, Martinez malah berkostum putih-merah milik Atletico.

Kepindahan ini pun tidak main-main karena kabarnya Atletico membayar klausul buy-out dalam kontrak Martinez senilai 35 juta euro. Salah satu alasan yang membuat Martinez pindah ke Atletico adalah kehadiran Diego Simeone. Selain itu faktor Atletico yang bermain di Liga Champions digadang-gadang menjadi alasan lain.

Namun, tahukah Anda jika transfer Martinez ini sudah membentuk pola yang hampir mirip dengan striker-striker sebelumnya: Berasal dari Amerika Selatan, pernah bermain di Portugal, lalu ditransfer ke Liga Primer Inggris dengan banderol mahal.

Membentuk Pola Spesifik

Sebelum Martinez, kita mengenal nama Sergio Aguero. Penyerang asal Argentina tersebut mengawali karir di Independiente sejak 2003. Pada 2006, ia hijrah ke Spanyol dengan nilai transfer 23 juta euro. Angka tersebut amatlah besar untuk pesepakbola berusia 18 tahun. Jumlah tersebut pun memecahkan nilai rekor transfer Atletico.

Pada 2011, Aguero ditransfer ke Manchester City senilai 45 juta euro, angka yang juga amat fantastis. Uang penjualan Aguero ke City dipergunakan untuk membeli striker Kolombia, Radamel Falcao.

Falcao sebelumnya bermain untuk kesebelasan Argentina, River Plate, dan kesebelasan Portugal, FC Porto. Kepindahan Falcao ke Atletico kembali memecahkan rekor pemain termahal Atletico karena ditransfer senilai 40 juta euro.

Atletico tak berlama-lama menahan Falcao. Hebatnya, mereka melepas Falcao dengan nilai yang lebih fantastis: 60 jute euro ke AS Monaco.

Setelah Falcao, lalu muncul nama Diego Costa. Penyerang kelahiran Brasil tersebut sebelumnya merumput di kesebelasan Portugal, Braga. Costa kemudian ditransfer penuh ke Atletico Madrid pada 2010. Sebelumnya, Costa pernah dibeli Atletico Madrid pada 2006, tapi tidak bermain sama sekali dengan nilai 1,5 juta euro dan hanya mendapatkan 50% dari hak ekonominya. Kepindahannya pada 2010 tidak disebutkan berapa angka pastinya. Berdasarkan Transfermarkt, Atletico mesti membayar Real Valladolid senilai 5,7 juta pounds.

Costa pun tak lama di Atletico. Ia hanya merumput tiga musim. Costa kemudian ditransfer ke Inggris setelah Chelsea membayar klausul buy-out senilai 32 juta pounds.

Ada kesamaan antara Aguero, Falcao, dan Costa. Ketiganya sama-sama lahir di Amerika Selatan. Aguero dan Falcao pernah bermain di klub Argentina. Falcao dan Costa pernah bermain di klub Portugal.

Aguero, Falcao, dan Costa ditransfer dengan nilai yang lebih besar daripada nilai saat pembelian. Ketiganya pun kini (pernah) bermain di Liga Inggris. Martinez punya formula yang mirip. Ia lahir di Kolombia; berkarir di Liga Kolombia dan Liga Portugal.

Falcao dan Costa terlibat dalam sistem kepemilikan pihak ketiga (third party-ownership/TPO), sementara Aguero tidak diketahui. Namun, dalam tulisan kami sebelumnya pernah dinyatakan bahwa hampir 90 persen pemain di Amerika Selatan terlibat dalam praktik TPO. Umumnya “tempat penampungan” mereka adalah Liga Portugal.

Dugaan Kepemilikan Pemain oleh Pihak Ketiga

Untuk lebih jelas tentang kepemilikan pemain oleh pihak ketiga bisa dibaca di sini:

Kepemilikan Pemain Pihak Ketiga Tak Membuat Klub Jadi Kaya Raya

Kepemilikan Pemain Pihak Ketiga Memang Bikin Ruwet


Salah satu yang mencolok dari sistem ini adalah para pemainnya dibanderol amat mahal. Tujuannya untuk membeli hak ekonomi pemain yang dimiliki oleh pihak ketiga.

Praktik ini makin lama makin sulit untuk diendus karena bisa saja ada kebohongan dalam nilai transfer antara satu kesebelasan dengan kesebelasan lainnya. Misalnya, Porto dan Atletico memiliki jaringan yang sama. Untuk meningkatkan nilai pemain, maka para pemain yang ditransfer pun nilai transfernya ditinggikan untuk menjaga nilainya tetap tinggi di pasaran.

Kecurigaan atas praktik tersebut memang didasari dari tingginya nilai jual sang pemain. Selain itu, untuk menjaga agar nilai pemain tidak turun, ia “dipindahkankan” ke kesebelasan lain seperti yang terjadi pada Radamel Falcao.

Kris Voakes, koresponden Goal menyakini bahwa Atletico tidak memiliki 100% hak kepemilikan Falcao, meskipun Atletico menyatakan hal yang sebaliknya. Saat itu, Porto pun dikabarkan hanya memiliki 100 persen kepemilikan untuk enam pemain. Selain itu, hak ekonomi Falcao pun kabarnya tidak dimiliki oleh satu perusahaan TPO melainkan lebih dari satu.

Hal ini diperkuat dengan dijualnya David de Gea ke Manchester United dan Aguero ke Manchester City. Penjualan tersebut tak lain untuk menekan utang Atletico yang kian meningkat. “Pada Agustus 2011, mereka secara mengejutkan setuju dengan transfer 40 juta Euro untuk pemain Kolombia,” tulis Kris, “Ada hal yang meragukan—dalam hal daya saing murni olahraga—terdapat praktik TPO yang mengelilingi Atletico.”

Untuk pembahasan lebih komprehensif bisa dibaca rangkaian tulisan kami tentang kepemilikan pemain pihak ketiga di About The Game.

Hal serupa juga dirasakan menimpa transfer Martinez ke Atletico. Atletico dianggap sebagai alat bagi TPO untuk menjual Martinez dengan harga yang jauh lebih tinggi di kemudian hari.

Keanehan ini terasa karena sebelumnya Atletico menjual Mario Mandzukic ke Juventus dengan nilai 19 juta euro. Mengapa Atleti menjual Mandzukic yang sudah dikenal karena pengalamannya dengan harga yang jauh lebih rendah dibanding seorang striker yang belum teruji kemampuannya?

Pertanyaan yang sebenarnya pun muncul, benarkan Atleti menyerahkan uang senilai 35 juta euro kepada FC Porto? Atau malah Atleti tak mengeluarkan uang sama sekali?

Selain itu, dipilihnya Atleti sebagai pelabuhan selanjutnya Martinez pun terbilang aneh, karena AC Milan-lah kesebelasan yang begitu ngotot untuk mendatangkannya. Bahkan, CEO AC Milan, Adriano Galiani, datang secara khusus ke Portugal bersama ketua Doyen Sports, Neilo Lucas. Namun, bukan tidak mungkin jika Martinez pindah ke Milan, maka hak ekonominya akan sepenuhnya dikuasai Milan dan ini tentu saja tidak menguntungkan bagi perusahaan TPO yang memiliki mayoritas hak ekonomi miliknya.

Dari semua keanehan tersebut, kepindahan Martinez membuat kita bisa yakin bahwa suatu saat nanti, dalam waktu yang dekat ini, Martinez akan berlaga di Liga Inggris, atau pindah ke Real Madrid atau Barcelona dengan nilai transfer tinggi. Tunggu saja.

Sumber gambar: fifa.com

Komentar