Kisah Muslim Kosovo yang Jadi Pesepakbola dan Akhirnya Menjadi Ibu

Cerita

by Zakky BM Pilihan

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kisah Muslim Kosovo yang Jadi Pesepakbola dan Akhirnya Menjadi Ibu

Lahir di salah satu daerah di Kosovo, Fatmire Alushi Bajramaj dan keluarga kecilnya mengalami langsung konflik antar bangsa di Eropa Tmur yang sedang panas-panasnya. Kekerasan, kematian, serta pembantaian mungin menjadi makanan sehari-hari Fatmire kecil dan hal itu jugalah yang membuat keluarganya hijrah menuju Monchengladbach, Jerman.

Rakyat Kosovo, yang mayoritasnya berasal dari Albania dan beragama Islam, selama ratusan tahun menjadi sasaran kebencian orang-orang Serb. Setelah Yugoslavia bubar, muslim Kosovo menjadi korban pembantaian dan pembersihan etnis oleh Serbia. Butuh pengorbanan yang luar biasa, dan kematian yang tak terhingga, sampai akhirnya Kosovo bisa memerdekakan diri dari Serbia pada 17 Februari 2008.

Jerman yang menjadi favorit bagi banyak imigran di Eropa (selain Prancis tentunya), merupakan tempat yang paling ideal untuk mengembangkan bakat sepakbola sejak kecil. Sudah banyak pemain imigran yang sukses menimba ilmu sepakbola sedari kecil. Namun, ayah Fatmire sendiri-lah yang melarang dan memintanya untuk melupakan segala tentang sepakbola. Padahal, ayahnya adalah seorang pesepakbola professional di Kosovo.

Fatmire yang lahir pada 1 April 1988 tetap bergeming. Ia tetap bermain sepakbola secara sembunyi-sembunyi dan mau tak mau berbohong pada ayahnya tentang hal ini. Tapi, sepandai-pandainya tupai, akhirnya terjatuh juga. Akhirnya, ia ketahuan juga oleh mata kepala ayahnya sendiri, ayah yang akhirnya menyadari bakat besar yang dimiliki oleh buah hatinya.

Sebagai keluarga yang terlahir sebagai muslim, gelandang serang yang kini bermain untuk Paris Saint Germain ini mengaku bangga dengan agamanya. Ia mengungkapkan, "Seorang muslim yang baik harus menjadi orang yang baik, bermanfaat bagi sesama dan untuk saling menghargai antar manusia,�" katanya, dikutip dari laman ESPNW.

Memang, ia bukanlah seorang muslimah yang amat-sangat religius. Namun, itu tak mengurangi intensitas kekhusyukannya ketika ia pergi ibadah ke mesjid. Fatmire mengungkapkan bahwa ia menemukan kedamaian yang luar biasa ketika berada di dalamnya.

Kini ia merasakan puncak perjalanan karir seorang pesepakbola perempuan yang ia bangun sedari remaja. Berbagai gelar di kancah klub, dari tingkat regional sampai tingkat Eropa, pernah ia rasakan. Belum lagi bersama tim nasional Jerman ia sudah merasakan rasanya menjadi kampiun Eropa dan Dunia. Maka tak heran jika ia kini bermain di PSG sebagai pemain dengan gaji tertinggi di kesebelasannya dan menjadi salah satu pemain bergaji tinggi di Eropa.

Kepindahannya ke Paris pada musim panas 2014 lalu, sedikit banyak menyedot perhatian media massa di sana. Bahkan harian terbesar Prancis, Le Parisien sampai memuat halaman depan dengan gambar dan berita kepindahannya dari Jerman ke Prancis. Sambil memegang kostum PSG, foto Fatmire tersebut merupakan pesepakbola perempuan pertama yang muncul di halaman depan harian Prancis tersebut.

ItÂÂ’s a dream start. Namun, baru saja Fatmire setengah tahun di Prancis, ia sudah mampu membuat keluarganya di Jerman menjadi panik tak karuan. Apa pasal? Yap, penembakan yang terjadi di kantor harian Charlie Hebdo membuat seisi kota Paris menjadi mencekam. Ayahnya yang tak ingin putrinya menjadi sasaran amukan massa (karena memang keturunan muslim) dan ia terus menerus mengingatkan anaknya untuk jangan dulu beraktivitas dan keluar dari rumah.

Fatmire dan Sepercik memori Tentang Piala Dunia Perempuan

Sebagai pemain yang pernah mencicipi gelar juara Dunia dan juara Eropa dua kali, Fatmire tak luput dari tekanan saat bermain di ajang sebesar Piala Dunia Perempuan. Ini semua dimulai ketika ia dan tim nasional perempun Jerman bermain di Piala Dunia Perempuan tahun 2011 lalu.

Berstatus juara bertahan Piala Dunia Perempuan 2007 dan juara bertahan Piala Eropa 2009, Jerman dibebankan ekspetasi yang tinggi oleh para pendukungnya. Apalagi dengan status tuan rumah, maka tak heran jika dirinya kerapkali tertekan di depan puluhan ribu penonton dan media massa yang memadati stadion ketika Jerman berlaga. Hasilnya? Jerman bermain buruk dan tersisih di perempat-final.

Partai final yang di gelar di Frankfurt antara Amerika Serikat dan Jepang saat itu nyatanya tak membuat Fatmire tertarik pergi ke stadion. Ia masih terpukul atas tersingkirnya Jerman saat itu. Yang ada di bayangannya, ia bermain di final dengan disaksikan segenap kerabat dan keluarganya untuk mempertahankan titel juara Dunia. Nyatanya, itu hanya angan belaka.

Piala Dunia Perempuan tahun ini sebetulnya adalah kesempatan Fatmire untuk menuntaskan kepenasarannya pada 2011 lalu. Namun, kodratnya sebagai perempuan, membuat ia harus menutup rapat-rapat cita-citanya bermain untuk Jerman kali ini.

Ya, Fatmire sedang hamil anak pertamanya dari hasil pernikahannya di 2013 lalu dengan Enis Alushi seorang pesepakbola keturunan Kosovo juga yang kini membela St. Pauli. Apa boleh bikin, Fatmire harus menepi dulu dari lapangan hijau. Ia harus merawat baik-baik janin yang ada di rahimnya. Mimpi dan ambisinya sebagai pesepakbola harus disisihkan demi sesuatu yang lebih besar: anak di rahimnya.

Toh, jika nantinya Fatmire resmi mempunyai anak dan berkesempatan untuk membesarkannya, ia akan menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku baik sebagai muslim, pesepakbola dan sebagai seorang ibu yang patut ditiru bagi anak-anaknya kelak.

Sumber gambar: http://espn.go.com

Tulisan diolah dari berbagai sumber





Komentar