Messi dan Tuntutan Nama Besar

Cerita

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Messi dan Tuntutan Nama Besar

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Saya sering memikirkan kalimat di atas, saya tidak meragukan kebenarannnya. Saya hanya memikirkannya. Hal yang pertama saya pikirkan adalah: Jika apa yang saya idam-idamkan memang termasuk ke dalam konteks "apapun" tadi, maka ia pasti akan terjadi. Namun bagaimana jika tidak? Bagaimana jika hal yang begitu saya ingini itu bukanlah bagian dari "segala sesuatu"? Karena sebenarnya ia tidak pernah dan tidak akan ada, karena sesungguhnya ia hanyalah angan yang saya inginkan.

Keharusan untuk menulis Messi - si pesepakbola idola dengan gelimangan gelar namun belum pernah memberikan apapun buat negaranya selain kekalahan – membuat saya kembali mengingat perihal tadi. Terkadang sepakbola memang kelewat menyedihkan karena ia tak pernah memperhitungkan gelar yang diberikan dalam level junior. Tapi ya sudahlah, namanya juga patokan.



Copa America Argentina Colombia

Saya sama sekali tidak tahu apa yang ada di dalam kepala Messi. Penulis, pundit atau apapun istilahnya beramai-ramai bilang kalau Messi begitu ingin memberi gelar buat Argentina. Tak satupun gelar juara yang berhasil ia berikan buat Argentina sejak bergabung ke dalam tim nasional pada tahun 2007. Bao Tailiang bahkan mengabadikan "keinginan" Messi tersebut lewat jepretan kameranya pada perhelatan Piala Dunia 2014. Barangkali kita ingat tentang foto yang memperlihatkan bagaimana Messi menatap trofi Piala Dunia dengan pandangan yang begitu membikin kasihan.

Zen Rachmat Sugito pernah mempersoalkan yang mana angan yang mana ingin sewaktu membicarakan Messi. Katanya, menginginkan sesuatu bakal membikin kita mengerahkan seluruh kemampuan untuk meraihnya. Sedangkan mengangankan sesuatu itu tak lebih dari sekadar hasrat yang sebenarnya tak punya daya apapun untuk menggerakkan. Tanyanya, apakah Messi benar-benar sudah bertungkus lumus mengerahkan seluruh kemampuan sepakbolanya untuk memberi gelar juara kepada Argentina?

Saya tidak tahu pasti, karena di mata saya Messi selalu berhasil membuktikan gelarnya sebagai pesohor lapangan hijau.

Seorang teman pernah berbincang dengan saya. Dia bilang, kalau saja Messi mau menjadi seorang nihilis, sepakbola pasti akan lebih menyenangkan buatnya. Dia menjadikan Antonio Cassano sebagai contoh dari sosok bengal yang menganggap gelar juara tak lebih dari angka dan statistik.

Saya ingat bagaimana pendapat Roberto Donadoni perihal keputusan Cassano untuk pensiun lantaran krisis keuangan yang menggerogoti Parma. Ia bilang, keputusan seperti itu menjadikan Cassano seorang pengecut. Namun dibandingkan sebagai tindakan seorang pengecut, saya pikir keputusan Cassano adalah bentuk dari kegigihannya dalam mempertahan kesenangan yang ia dapat dari bersepakbola. Ia tak mau bangkrut karena sepakbola, ia tak mau disusahkan oleh romantisme dan loyalitas, ia tak mau ditundukkan oleh tuntutan.

Tapi pada akhirnya, membicarakan Messi adalah satu hal dan membicarakan Cassano adalah perihal lain – karena Cassano tak pernah menerima warisan dari gelar juara yang berlipat. Menceritakan bagaimana Messi menapak karir itu seperti menyaksikan dongeng ala Disney. Tumbuh dalam keinginan menggebu-gebu untuk menjadi pesepakbola, namun tak didukung oleh kondisi fisik yang sepadan. Konon, pasca penolakan klub lokal Argentina - Newell’s Old Boys - akibat biaya pengobatan yang cenderung mahal, Barcelona menjadi satu-satunya klub yang mau menerima Messi sebagai calon pesepakbola yang kekurangan hormon pertumbuhan.

Bersama Barcelona, Messi bersimbah gelar. Negara yang awalnya menolak, mulai berandai-andai kapan bisa menikmati gelar juga. Nama besar membuat Messi menerima warisan yang terlalu menuntut. Sebagai pesepakbola dengan limpahan gelar juara Liga Spanyol, Liga Champion dan liga-liga lainnya berikut 4 kali terpilih sebagai pesepakbola terbaik dunia, masakan ia tak bisa sekalipun memberi gelar buat Argentina?

Barangkali ini berlebihan, tapi saya pernah membaca sebuah esai yang bercerita tentang kecenderungan negara-negara Amerika Latin untuk berfantasi. Amerika Latin punya Borges, Garcia Marquez dan Eduardo Galeano yang melahirkan sekaligus menghidupkan fantasi-fantasi lewat sastra surealisme. Mereka juga punya Maradona yang dituhankan di ranah sepakbola. Belum lagi Ernesto Che Guevara yang mempersetankan batas-batas negara dalam petualangan dunia politiknya.

Menjadi bagian dari orang-orang yang hidup dengan kecenderungan menyamarkan batas antara kenyataan dan fantasi, agaknya membikin orang-orang Argentina sebagai kawanan yang gemar berangan-angan. Memang, gelar juara Argentina tak hanya berada di pundak Messi. Namun mereka paham seperti apa kisah Messi yang serupa dongeng. Mereka juga mau menghidupkan fantasi tentang gelar juara. Apalagi, pada kenyataannya – Argentina pernah 2 kali menjuarai Piala Dunia pada tahun 1978 dan 1986 serta 2 kali menjadi juara Copa America tahun 1991 dan 1993. Agaknya bukan perkara yang mustahil-mustahil amat.

Namun celakanya, angan-angan yang disublimasikan menjadi kenyataan secara massal pada akhirnya juga membikin Messi berangan-angan. Barangkali ia membayangkan bagaimana rasanya terlepas dari tuntutan seantero Argentina. Kita memang bisa menipu diri sendiri dengan mengakui angan-angan sebagai keinginan – namun jika memperhatikan perbedaan antara "ingin" dan "angan", rasanya bisa dimaklumi mengapa Messi belum mampu memberikan Argentina gelar juara.

Tapi dibandingkan mencari kejelasan antara "ingin" dan "angan" yang ada di dalam kepala Messi, saya lebih memilih untuk memikirkan satu hal. Kalimat yang menjadi pembuka esai ini saya temukan dalam Kitab Pengkhotbah yang ditulis oleh Salomo – nama lain dari Sulaiman.

Kisah lain soal Lionel Messi:

Kekuatan-kekuatan lain dibalik dribling Messi

Mite Messi

Penelitian menunjukan bahwa Messi adalah pemain termahal dunia


Saya ingat apa yang terjadi padanya, tentunya menurut ajaran yang saya percayai (entahlah jika menurut yang kalian percayai). Pada awalnya, ia hanya menginginkan kebijaksanaan. Lalu ia mendapat kekayaan, kekuasaan yang panjang dan kelimpahan. Saya membayangkan bagaimana beratnya hidup dalam kelimpahan. Kelimpahan selalu menuntut orang yang berkelimpahan untuk hidup layaknya orang yang berkelimpahan. Kelimpahan menuntut seseorang untuk memiliki seadanya. Salomo hidup sebagai tuna ingatan akan kebijaksanaan. Dan hal inilah yang pada akhirnya membikin Salomo mati dalam ironi, ia mati sebagai orang bijak yang bodoh.

Saya bukan penggemar apalagi penggila Messi. Namun atas segala tuntutan yang bergandengan dengan nama besarnya, saya pikir saya juga akan ikut menyayangkan jika pada akhirnya Messi menjadi Salomo yang baru.

Komentar