Sejarah Mengunggulkan Spanyol di Final Europa League

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sejarah Mengunggulkan Spanyol di Final Europa League

Dua finalis Europa League pada musim ini sama-sama berpeluang besar meraih gelar juara. Dalam pertandingan yang dihelat di Stadion Narodowy w Warszawie tersebut, Dnipro Dnipropetrovsk untuk pertama kalinya akan menghadapi Sevilla pada Kamis (27/5) dini hari WIB. Partai tersebut sekaligus merupakan pertemuan pertama kedua kesebelasan.

Jika menang, Dnipro bukan cuma merasakan gelar juara tingkat Eropa untuk kali pertama. Lebih dari itu mereka juga akan menjadi kebanggaan untuk kelas pekerja kota Dnipropetrovsk. Sebuah kesebelasan kecil yang tidak memiliki pemain bintang (satu, jika Yehven Konoplyanka dihitung sebagai bintang) memenangi kejuaraan besar dengan modal semangat. Di era sepakbola modern yang mendewakan uang sebagai kekuatan, ini akan menjadi cerita yang sangat manis. Namun, Sevilla, sebagai juara bertahan dipastikan tidak akan membiarkan cerita tersebut lahir begitu saja.

Pelatih Sevilla, Unai Emery, memiliki kepentingan sendiri. Ia perlu menyamai prestasi Juande Ramos yang membawa Sevilla menjadi juara UEFA Cup dua musim berturut-turut pada 2006 dan 2007. Ia memiliki kesempatan besar dan ia tak ingin melepasnya begitu saja. Lain hal, Sevilla juga sangat membutuhkan kemenangan ini untuk menjadi yang terbaik dan membawa kebanggan Spanyol ke puncak.

Sevilla saat ini--bersama dengan Inter Milan, Juventus, dan Liverpool--memiliki tiga gelar juara UEFA Cup/Europa League. Jika mereka mampu kembali menjadi juara, Sevilla akan menjadi kesebelasan pertama yang mampu menjuarai UEFA Cup/Europa League sebanyak empat kali. Catatan tersebut akan menempatkan Spanyol di tempat yang sama dengan Italia (negara dengan jumlah gelar juara UEFA Cup/Europa League terbanyak). Saat ini Spanyol yang memiliki delapan gelar juara tepat berada di belakang Italia.

Sejarah mendukung usaha Sevilla untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut. Pertama, mereka sudah tiga kali mencapai final UEFA Cup/Europa League dan selalu keluar sebagai pemenang. Kedua, belum pernah ada kesebelasan Spanyol yang kalah di final UEFA Cup/Europa League dari kesebelasan asal negara lain. Ketiga, Sevilla tidak pernah kalah melawan kesebelasan asal Ukraina.

Dnipro sendiri bukannya tanpa dukungan sejarah. Tiga kali sudah kesebelasan asal Ukraina tampil di final kejuaraan tingkat Eropa. Tiga kali juga mereka keluar sebagai juara. Salah satunya, final European Cup Winner’s Cup 1986, hingga kini masih menjadi satu-satunya final kejuaraan Eropa yang melibatkan kesebelasan Spanyol dan Ukraina. Saat itu Atletico Madrid kalah tiga gol tanpa balas dari Dynamo Kyiv yang dilatih oleh Valeriy Lobanovskyi, pelatih legendaris asal Ukraina yang memulai karir kepelatihannya bersama Dnipro.

Dukungan sejarah menempatkan Sevilla dan Dnipro di posisi sama kuat. Namun Sevilla memiliki keunggulan karena mereka memiliki pemain asal Kolombia--Carlos Bacca--sementara Dnipro tidak. Kesebelasan yang memainkan pemain berkebangsaan Kolombia di final UEFA Cup/Europa League selalu keluar sebagai pemenang.

Terlepas dari takhayul, Bacca memang pemain tepat untuk melawan Dnipro yang bermain rapat. Di pertandingan yang diprediksi minim peluang, Bacca berpotensi menjadi pembeda karena ia efektif. Selama 685 menit bermain di Europa League musim ini, Bacca mencetak lima gol dari delapan tembakan tepat sasaran saja.

Sementara Emery akan mengandalkan Bacca, pelatih Dnipro, Myron Markevych, memiliki Konoplyanka. Pemain yang sudah sejak lama diincar Liverpool dan Tottenham Hotspur ini adalah ancaman bagi Sevilla. Sepanjang gelaran Europa League musim ini ia menjadi pemain yang paling banyak dilanggar: 45 kali. Sebagai pembanding, pemain terdekat dengannya hanya 26 kali dilanggar.

Menghentikan Konoplyanka adalah pekerjaan utama Sevilla ketika tidak memiliki bola, dan melanggarnya bukan pilihan. Jika dibiarkan, Konoplyanka mengancam lewat open play. Jika dilanggar, Sevilla terancam kebobolan lewat tendangan bebas Ruslan Rotan.

Baca juga: Apa Pentingnya Liga Malam Jumat?

Komentar