Usaha Mengabadikan Keindahan dengan Sewajarnya

Cerita

by Marini Saragih Pilihan

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Usaha Mengabadikan Keindahan dengan Sewajarnya

Keindahan bukan tujuan utama sepakbola. Tapi sepakbola, tanpa keraguan, sering memperlihatkan keindahan-keindahan.

Membicarakan keindahan dalam sepakbola tidak sama seperti mengagumi kemolekan tubuh atau paras seseorang. Membicarakan keindahan sepakbola adalah membicarakan hal ihwal yang sayangnya jarang bisa dinikmati berkali-kali karena memang cuma terjadi satu kali -- bahkan kadang itu pun berlangsung begitu singkat.

David Foster Wallace, penulis Amerika yang bunuh diri pada 2008 di usianya yang baru 46 tahun, pernah menulis esai berjudul Federer as Religious Experience. Esai ini bercerita tentang sensasi-sensasi magis yang dirasakannya saat menyaksikan Roger Federer mengayunkan raket, melakukan servis atau mengepalkan tangan saat berhasil mendapatkan angka.

Jika menulis memang benar-benar bekerja untuk keabadian, maka menulis sepakbola adalah proses mengabadikan keindahan-keindahan tertentu yang, menurut Wallace, bisa saja memunculkan denyar dan getar relijiusitas. Walau pengalama relijus itu tidak seperti kunjungan ke tanah suci atau sakramen baptis, tetapi bisa mendorong seseorang tetap menyaksikan sepakbola tanpa peduli sebanyak apa pertandingan yang sudah ditontonnya.

Keindahan yang menghidupkan impuls-impuls relijiusitas ala Wallace itu tidak perlu berlangsung sepanjang pertandingan penuh, 2x45 menit, bisa terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Sesingkat gerakan Maradona yang serupa Grand-Jete dalam balet beberapa saat sebelum menjebol gawang Inggris pada Piala Dunia 1986 atau selama Gerrard di atas lapangan dalam pertandingan terakhirnya melawan Manchester United.

Keindahan yang diabadikan saat menulis sepakbola bukan hanya keindahan sepakbola masa kini, ia bisa selampau kisah sukses Pro Vercelli di Italia atau setua Bill Shankly ketika berhasil menggubah Liverpool menjadi kota tempat pemenuhan harapan dari Tanah yang Dijanjikan bagi para suporternya.

Dan, tentu saja, keindahan tidak selalu tampak dalam kegembiraan, ia juga bisa hadir dalam keheningan yang muram atau kesedihan yang merawankan hati. Semuram hari di ketika tifosi Inter Milan harus menyaksikan tango terakhir Javier Zanetti di atas milonga lapangan hijau atau serumit memahami kesalahan taktik Pep Guardiola yang membuat anak-anak asuhnya harus angkat kaki dari perhelatan Liga Champions 2015.

Tapi keindahan juga sering menyelinap, beranjak dan pergi diam-diam. Begitulah, kenyataannya saya tidak selalu bisa menemukan keindahan dalam setiap pertandingan . Ada pertandingan yang menurut saya sangat membosankan – bahkan sangat banyak laga yang berjalan membosankan. Terlalu membosankan, sampai-sampai membuat saya memutuskan untuk mengganti saluran televisi atau tertidur bahkan sebelum babak pertama berakhir.

Namun hanya karena saya menganggap suatu pertandingan (atau hal-hal di luar pertandingan yang tetap berkaitan dengan sepakbola) membosankan, bukan berarti hal itu juga membosankan buat orang lain. Amat boleh jadi keindahan yang tak tampak di pelupuk mata saya bisa terlihat begitu jelas bagi orang lain. Dan sebaliknya, keindahan-keindahan sepakbola yang bisa saya nikmati belum tentu bisa dilihat, apalagi dinikmati, orang lain.

Keindahan, seringkali, menjelma relativitas yang sangat gampang membuka perdebatan. Sebab keindahan pada dasarnya memang berwatak taksa, mempunyai wajah yang banyak, kadang kabur, seringkali abu-abu, juga ambigu.

Di sinilah tulisan sepakbola bisa memainkan perannya. Ia bisa menjadi jalan untuk menceritakan, untuk menguak segala macam keindahan yang pada awalnya tidak berhasil saya (dan juga kalian) tangkap. Menikmati sepakbola dalam bentuk teks, saya dibawa kembali kepada pertandingan dan momen kelampauan dengan sensasi berbeda. Keindahan-keindahan yang secara kasat mata tidak bisa terlihat lagi, namun tetap bisa dinikmati – dan dalam ujudnya yang sublim bahkan dapat menyentuh hal-hal yang begitu pribadi.

Kalau boleh bercerita, minggu-minggu pertama saya tinggal di Bandung, saya banyak mengisinya dengan memahami bagaimana mereka – Pandit Football Indonesia – menggiati proses menulis sepakbola. Hal pertama yang saya dapatkan ialah keyakinan bahwa tulisan sepakbola memang memberikan ruang yang luas bagi para pelakunya. Saya belajar tentang sudut pandang yang dapat digunakan untuk menentukan dan mengokohkan ide dasar tulisan. Seketika, tulisan sepakbola memberikan saya banyak kesenangan.

Namun kesenangan itulah yang lama kelamaan membuat saya menjadi liar.

Jika bertolak dari esai Wallace di atas, maka keindahan sepakbola yang bisa dieksplorasi dari berbagai sudut pandang tadi memang berhasil menghidupkan impuls-impuls relijiusitas. Bukan pengalaman relijius yang menenangkan, tapi lebih menyerupai kesenangan yang kelewat menggebu-gebu. Alih-alih memantapkan pemahaman akan sepakbola, kesenangan ini justru mengajarkan saya bahwa ke-sepakbola-an sepakbola adalah penjara yang mengekang tulisan sepakbola.

Tapi bagi mereka, tulisan sepakbola tetap harus menjadi tulisan sepakbola. Dan keharusan seperti ini yang membuat saya sempat membangkang beberapa saat, bahkan kecenderungannya masih ada sampai sekarang. Namun apa-apa yang berlebihan memang tidak awet, dan cepat atau lambat, ia memang harus kembali kepada yang wajar, kepada yang secukupnya.

Saya masih percaya keindahan sepakbola harus diabadikan bukan hanya karena terlalu sulit untuk diulang, tetapi juga karena tiap orang memang berhak mengabadikan hal yang indah-indah. Barangkali itu semacam kompensasi yang menyenangkan – untuk sejenak saja - atas segala kepayahan dan kerumitan hidup yang gemar mememaksakan dan mendesakkan dirinya kepada kita.

Namun, menikmati keindahan sepakbola bukan berarti menjadi rakus, bukan berarti menikmati "keindahan-keindahan" yang sebenarnya tidak indah. Yang menakjubkan dari keindahan, barangkali, karena jarangnya ia hadir di pelupuk mata kita. Rakus akan keindahan bisa mendesak kita untuk terus merengkuh keindahan setiap saat dan setiap waktu – pada saat kita seharusnya tidak butuh-butuh amat. Inilah keindahan yang telah menjadi rutin, keindahan yang akhirnya menjadi hal jamak, umum, dan tak lagi istimewa. Banalitas keindahan.

Dan semoga di kanal ini, saya dan kalian semua bisa menjadi kawan – walau tak akrab-akrab amat – yang mengambil waktu sejenak untuk mengabadikan keindahan sepakbola dengan sepantasnya, dengan secukupnhya, biarpun setelahnya masih ada jam-jam kerja dan tumpukan tugas yang tidak terlalu mudah untuk dinikmati.

"Beauty is truth, truth beauty,` – that is all / Ye know on earth, and all ye need to know," begitulah John Keats menutup sajaknya yang misterius itu, Ode on a Grecian Urn.

Salam.

Komentar