Haruskah Kau Kembali Dikirimi Ancaman Mati, Jupp?

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Haruskah Kau Kembali Dikirimi Ancaman Mati, Jupp?

“(Dipecat Real Madrid setelah menjadi juara Champions League 1997/1998) tidak begitu menggangguku. Titik terendah kedua dalam karirku terjadi pada 2007, ketika aku mendapatkan ancaman mati untuk kegagalanku di kota kelahiranku, Mönchengladbach, dari segala penjuru.”

Jupp Heynckes begitu profesional sehingga ancaman mati dari seisi kota Mönchengladbach (ia memang melebih-lebihkannya ketika mengisahkan kejadian tersebut kepada der Spiegel, namun biarlah) ia tempatkan pada posisi kedua dalam daftar titik terendah dalam karirnya. Namun, tetap saja: ancaman mati adalah ancaman mati.

Bagaimana ancaman mati tersebut bisa mengarah kepadanya? Apa dosanya kepada kotanya sendiri? Membicarakan ancaman mati yang dialamatkan kepada Heynckes, mau tidak mau, adalah memahami konteks penuh darinya.

Heynckes lahir di Mönchengladbach tepat tujuh puluh tahun lalu. Ia menghabiskan dua belas dari lima belas tahun karirnya sebagai pemain profesional bersama kesebelasan kebanggaan kota: Borussia Mönchengladbach. Bersama Mönchengladbach pula ia memulai karirnya sebagai pelatih. Semasa bermain, Heynckes menikmati empat gelar Bundesliga serta masing-masing satu gelar DFB-Pokal dan UEFA Cup. Sebagai pelatih di Mönchengladbach, Heynckes tak mampu mempersembahkan apa-apa.

Kata “menikmati” dan “mempersembahkan” sengaja dipilih karena begitulah Heynckes memandang kejayaan dalam sepakbola: pemain mendapatkan kejayaan dari kesebelasan dan pelatih kepala, sementara pelatih kepala memberikan kejayaan kepada kesebelasan dan para pemain.

Heynckes selalu menurunkan para pemain terbaik untuk setiap pertandingan. Jika seorang pemain dirasa tidak mampu memberi pengaruh positif, ia tak akan memainkannya. Mario Mandžuki? sempat kesulitan menerima hal ini. Terlebih lagi karena pilihan Heynckes untuk menjadikannya pemain cadangan membuat Mandžuki? kehilangan peluang untuk meraih kejayaan pribadi.

“Aku merampas darimu peluang untuk menjadi pencetak gol paling sukses di liga. Namun tahukah kau apa yang telah kuberikan padamu? Kau menjadi juara (Liga) Jerman! Kau menjadi juara Champions League dan DFB-Pokal,” kata Heynckes pada Mandzukic. Pada Juni 2013, Mandžuki? mengirim pesan singkat kepada Heynckes. Ia berterima kasih atas semua gelar yang Heynckes berikan.

Mundur 34 tahun dari musim terakhir--dan tersuksesnya--sebagai pelatih, Heynckes muda memulai karirnya di dunia kepelatihan sebagai asisten pelatih Mönchengladbach. Ketika Udo Lattek meninggalkan Mönchengladbach, Heynckes naik ke posisi pelatih kepala.

Heynckes, di musim pertamanya sebagai pelatih kepala, berhasil membawa Mönchengladbach tampil di final UEFA Cup 1980. Ia tidak mempersembahkan apa-apa karena Mönchengladbach kalah dari Eintracht Frankfurt. Musim 1983/84, Heynckes kembali dekat dengan gelar juara. Namun ketatnya persaingan musim itu membuat Mönchengladbach hanya berhasil menduduki peringkat ketiga walaupun memiliki raihan angka yang sama dengan VfB Stuttgart dan Hamburger SV. Di musim yang sama, Mönchengladbach kalah adu penalti melawan FC Bayern München di final DFB-Pokal.

Hingga meninggalkan Mönchengladbach pada 1987 untuk kembali menggantikan Lattek--kali ini di Bayern--Heynckes tidak berhasil mempersembahkan gelar apapun. Seolah tidak ditakdirkan sukses bersama Mönchengladbach, Heynckes langsung menjadi pemenang DFL-Supercup 1987 bersama kesebelasan barunya. Musim berikutnya, Heynckes mempersembahkan gelar juara Bundesliga.

Heynckes kemudian kembali mempersembahkan juara Bundesliga dan DFL-Supercup pada 1990. Ia memberi sumbangan dua trofi kepada Real Madrid; Supercopa de España 1997 dan Champions League 1998. FC Schalke 04 kemudian dibawanya dua musim berturut-turut menjadi juara Intertoto Cup pada 2003 dan 2004.

Mei 2006, sembilan belas tahun setelah meninggalkan Mönchengladbach, Heynckes kembali sebagai sosok yang lebih berpengalaman. Seorang pemenang yang telah meraih delapan gelar juara. Heynckes siap memperbaiki masa lalunya. Ia siap memanfaatkan kesempatan keduanya sebaik mungkin. Namun alih-alih menjadi juara, Heynckes mengundurkan diri pada Januari 2007.

Empat belas pertandingan tanpa kemenangan membuat Mönchengladbach berada di zona degradasi. Rangkaian hasil buruk itulah yang mengundang ancaman mati terhadap Heynckes yang menjadikannya sebagai alasan untuk mundur.

“Aku menerima tiga ancaman mati dalam beberapa bulan belakangan,” ujar Heynckes kepada Rheinische Post, “Ancaman-ancaman tersebut begitu serius sehingga aku harus menerima perlindungan dari polisi-polisi yang menyamar di Bochum dan Cottbus. Pekan lalu ancaman-ancaman ini mencapai tingkat yang mengkhawatirkan sehingga aku sudah tidak dapat lagi meminta istriku untuk menghadapinya.”

Heynckes tak hanya mengundurkan diri. Ia menolak pesangon dan mengembalikan mobil yang diberikan pihak kesebelasan dalam kondisi mulus dengan tanki bahan bakar yang terisi penuh.

Dua tahun setelah Heynckes meninggalkan Mönchengladbach, Bayern memintanya menjadi caretaker. Memasuki musim 2009/10, Heynckes dipercaya menjadi pelatih kepala Bayer Leverkusen. Pada 2011, ia menempati posisi yang sama di Bayern. Musim 2011/12, Heynckes kalah di dua final. Namun di musim berikutnya, Heynckes membawa Bayern meraih semua gelar yang tersedia: DFB-Supercup, DFB-Pokal, Bundesliga, dan Champions League.

Akhir yang manis untuk kebersamaan Heynckes dan Bayern. Namun, bukan tak mungkin kesuksesan tersebut mengusik mereka yang pernah (maupun mereka yang tidak pernah) mengirim ancaman mati kepada Heynckes: apakah Heynckes memang tidak pernah memberi yang terbaik kepada Mönchengladbach, kesebelasan yang katanya sangat ia cintai?

Komentar