Jupp Heynckes, Si Pengubah Watak Pemain Bayern

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Jupp Heynckes, Si Pengubah Watak Pemain Bayern

"Sepanjang karirku sebagai pelatih," ujar Jupp Heynckes, "aku tidak pernah memiliki bos. Presiden (kesebelasan) dapat merekrut dan memecatku. Namun itu tidak menjadikan mereka bosku, bahkan di Real Madrid pun tidak." Arogan? Jelas bukan.

"Aku selalu memiliki rasa tanggung jaswab yang kuat sehingga aku memperlakukan profesiku seperti seorang pengusaha," ujarnya. Dalam beberapa hal, pria bernama lengkap Josef Heynckes ini memang seorang pengusaha. Sejak 2010, Heynckes mendapat 217 euro setiap bulan tanpa harus bekerja.

Menjadi satu dari sepuluh bersaudara dari seorang pandai besi, Heynckes terbiasa hidup serba terbatas. Kondisi tersebut membuat Heynckes belajar untuk menjadi sosok yang mudah bergaul. Heynckes tidak mengakui hal ini, tapi bukan tak mungkin ia juga belajar berinvestasi dari kehidupannya yang sulit. Keterbatasan selalu melahirkan kreativitas, bukan?

Di usia yang masih sangat muda--22 tahun--Heynckes menarik diri dari program pensiun pemerintah dan mendaftarkan diri pada program asuransi untuk mendapatkan dana pensiun mulai usia 65 tahun. "Saat itu, aku disebut mengambil langkah tepat," kenangnya.

Penilaian yang terbukti tidak salah. Heynckes sudah mendapatkan uang pensiun bahkan sebelum ia berhenti bekerja. Memasuki usianya yang ke-65, Heynckes masih aktif bekerja sebagai pelatih kepala di Bayer Leverkusen. Setelah Leverkusen, masih ada Bayern München. Ia berinvestasi sekaligus mengambil keuntungan sebanyak mungkin. Seorang pengusaha, memang, Heynckes itu.

Namun bukan dengan prinsip-prinsip ekonomi dan gaya hidup pengusaha Heynckes yang membawa Bayern meraih empat gelar dalam semusim: kemenangan di pertandingan DFL-Supercup 2012 diiringi oleh keberhasilan menjadi juara DFB-Pokal, Bundesliga, dan Champions League. Rahasia keperkasaan Bayern sepanjang musim 2012/13 ternyata sesederhana untuk bekerja lebih keras saja. Dari siapa? Itu pertanyaannya.

Setelah kalah di final DFB-Pokal dan Champions League musim 2011/2012, Heynckes berbicara kepada para pemainnya: "Dengar, jika kita tidak sadar bahwa kita harus bekerja sebagai tim, dan jika kita semua tidak bekerja lebih keras dari sebelumnya, dan jika kita tidak memiliki hasrat yang lebih besar untuk sukses, tahun depan kita akan kembali tidak memenangi apa-apa."

Apa yang keluar dari mulut Heynckes saat itu membuat Bayern menjadi kesebelasan yang lebih baik. Indikasinya jelas: Heynckes mampu membuat Franck Ribéry dan Arjen Robben rela membantu pertahanan. Ribéry yang ia hadapi adalah Ribéry yang sama dengan Ribéry yang tidak dipilih menjadi kapten Tim Nasional Perancis karena arogan dan tidak mau berkorban.

Ribéry berubah. Robben berubah. Semua pemain Bayern berubah. Mereka bekerja begitu keras sehingga bertanding melawan kesebelasan lain dalam pertandingan kompetitif terasa lebih mudah ketimbang bermain melawan sesama pemain Bayern di sesi latihan.

Bisa jadi Heynckes meminta para pemainnya memaksakan diri karena ia ingin mengakhiri karirnya dengan catatan manis. Agar ia dapat memenuhi masa pensiunnya dengan ketenangan yang selalu ia cari. Bisa jadi ia egois; memaksa para pemain bekerja keras karena tidak mau mengakhiri karirnya di Bayern dengan kegagalan seperti di Borussia Mönchengladbach yang membesarkan namanya.

Namun siapa peduli? Kerja keras Heynckes dan para pemain Bayern, toh, terbayar oleh empat gelar dalam satu musim. Semua menang, semua senang.

Komentar