Degradasi Karena Kecilnya Gaji

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Degradasi Karena Kecilnya Gaji

Wigan Athletic mesti turun ke League One, kompetisi divisi ketiga Liga Inggris. Ini merupakan titik terendah Wigan dalam satu dekade terakhir. Dalam kurun waktu tersebut Wigan memberi kesebelasan lain banyak pelajaran: jangan ragu-ragu menggaji pemain.

Dalam The Numbers Game karya Chris Anderson dan David Sally, Wigan disebut seperti tertangkap gravitasi setiap musimnya. Kesebelasan yang bermarkas di DW Stadium tersebut promosi ke Premier League untuk musim 2005/2006. Pada musim tersebut, Wigan berhasil mempertahankan diri di peringkat ke-10 klasemen. Namun, sejak saat itu, seperti terdapat gravitasi yang amat kuat, yang membuat Wigan harus berjuang dari zona degradasi setiap musimnya.

Saat Alan Pardew keluar dari zona nyaman bersama Newcastle dan mencoba "melawan gravitasi" bersama Crystal Palace.

“Tidak ada kesebelasan di Premier League yang menghasilkan uang lebih sedikit daripada Wigan Athletic. Tidak ada kesebelasan di Premier League yang memiliki sejumlah kecil sejarah dan penggemar,” tulis David dan Chris.

The Numbers Game mengutip Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam Why England Loses. Keduanya berpendapat kalau uang berpengaruh banyak bagi kesuksesan kesebelasan. “Menurut perhitungan mereka, 92 persen selisih posisi kesebelasan Premier League bisa dijelaskan dari biaya gaji yang dikeluarkan,” tulis David dan Chris.

Memang, kesebelasan dengan biaya gaji yang tinggi tidak melulu akan menjadi juara. Namun, jika melihat dalam waktu yang panjang hal tersebut menjadi luar biasa. Sementara itu, kesebelasan yang “tertarik gravitasi” di papan bahwa disebut David dan Chirs sebagai “football poverty”.

Dengan minimnya dukungan dari penggemar, Wigan berada dalam krisis finansial. Rata-rata suporter yang datang ke DW Stadium berkisar 17 ribuan saja. Beruntung Wigan dimiliki oleh Dave Whelan—yang inisial namanya digunakan sebagai nama stadion—karena masih mau memberikan dana segar kepada The Latics, julukan Wigan, meski dalam bentuk pinjaman.

Papan Bawah Premier League

Capaian Wigan di Premier League memang tidak begitu membanggakan. Hampir sepanjang waktu mereka harus berjuang menghindari zona degradasi. Kenyataanya, pengeluaran Wigan termasuk salah satu yang terendah di Premier League.

David dan Chris menemukan fakta bahwa dalam lima musim terakhir hingga 2013, Wigan menempati peringkat ke-18, ke-15, ke-15, ke-16, dan ke-16. Hal ini tidak jauh beda dengan apa yang dicapai Wigan di liga. Mereka bahkan terdegradasi pada akhir musim 2012/2013.

Setiap musim, terdapat tiga kesebelasan yang terdegradasi dan selalu terlihat ada perbedaan menyangkut uang. “Lebih spesifiknyam ketika kami memeriksa finansial kesebelasan selama 20 tahun dengan data dari Deloitte, kami menemukan bahwa kemungkinan kesebelasan terdegradasi adalah 7,2 persen jika mereka mengeluarkan dana lebih besar untuk gaji dibandingkan rata-rata,” tulis David dan Chris.

Dari perhitungan tersebut, cara terbaik untuk menghindari degradasi adalah dengan mengeluarkan uang lebih banyak untuk gaji. “Bagi kesebelasan yang mengeluarkan (biaya gaji) kecil seperti Wigan, peluang untuk terdegradasi menjadi tinggi sekitar 44 persen pada musim tersebut.”

Memang hal ini terdengar tidak masuk akal. Namun David dan Chris memiliki argumen lain. Menurutnya, mungkin saja satu kesebelasan mengeluarkan biaya gaji jauh di bawah rata-rata. Mereka masih akan bisa bertahan di Premier League, Wigan contohnya yang bertahan hampir tujuh musim berturut-turut. Namun, peluang tersebut akan terus terakumulasi tiap musimnya.

Percaya atau tidak, hal tersebut terbukti benar. Musim 2014/2015 atau satu musim usai degradasi ke Divisi Championship, Wigan langsung terjun bebas ke League One, kompetisi divisi ketiga Liga Inggris.

Pemain Mahal

Tentu saja maksud dari “pengeluaran gaji di atas rata-rata” bukan berarti menggaji Paul Scharner sebesar 200 ribu pounds tiap pekan. Maksud dari hal tersebut adalah mendatangkan pemain dengan potensial yang biasanya bergaji mahal.

Namun, hal tersebut sulit digapai oleh kesebelasan kecil. Selain memiliki daya tawar rendah, mereka juga di atas kertas tidak mampu membayar para pemain mahal.

Kenyataanya tidak demikian. Jika kesebelasan mau mengeluarkan 2,5 juta pounds untuk satu pemain dan bisa mendapatkan empat pemain dengan nilai kontrak total 10 juta pounds satu musim Maka mereka bisa mendapatkan pemain muda Arsenal yang berkisar 30-40 ribu pounds tiap pekannya.

Baca juga: cara Everton dan Tottenham Hotspur tetap bertahan di Premier League dengan merendahkan tujuan kompetisi.

Rata-rata gaji pemain di Liga Inggris berdasarkan Dailymail, rata-rata gaji pemain di EPL berkisar 2,3 juta pounds tiap musim atau 44 ribu pounds tiap pekan. Dengan nilai sebesar ini, kesebelasan kecil bisa saja mendapatkan pemain potensial dari liga lain seperti Bundesliga (28 ribu pounds), Serie A (25 ribu pounds), dan La Liga (23 ribu pounds).

Uang senilai 10 juta pounds tentu bisa didapatkan dengan mudah oleh kesebelasan EPL karena setiap musim minimal mereka bisa mendapatkan 60 juta pounds. Ini bisa meningkatkan daya kompetitif EPL, karena hampir setiap musim, kesebelasan yang promosi dari Divisi Championship kembali terdegradasi.

Disadur dari bab Guerrilla Fooball dalam The Numbers Game karya Chris Anderson dan David Sally. Diterbitkan Penguin Group, London, Inggris.
Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar