Jika Tak Bisa Lagi Tendang Penalti, Taylor Akan Pilih Pensiun

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Jika Tak Bisa Lagi Tendang Penalti, Taylor Akan Pilih Pensiun

Burnley semakin terbenam di posisi juru kunci klasemen sementara Liga Primer Inggris. Dari 34 pertandingan, kesebelasan yang musim lalu berlaga di divisi Championship ini hanya menorehkan lima kemenangan dan 11 hasil imbang.

Burnley sendiri sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperbaiki peringkatnya. Akhir pekan lalu, 25 April 2015, Burnley menjamu Leicester City yang juga sama-sama sedang berjuang terhindar dari zona degradasi. Namun kesebelasan berjuluk the dingles ini gagal meraih poin setelah kalah dengan skor tipis 0-1.

Namun kekalahan ini sebenarnya bisa saja dihindari jika saja Burnley mampu unggul lebih dulu. Pada menit ke-59, skuat besutan Sean Dyce ini mendapatkan hadiah tendangan penalti. Namun Matthew Taylor gagal mengeksekusinya dengan baik karena tendangannya hanya membentur mistar gawang. Gol Leicester sendiri tercipta satu menit setelah eksekusi tendangan penalti ini.

Pasca pertandingan, polemik pun muncul di kubu pendukung Burnley. Banyak yang berpendapat bahwa seharusnya tendangan penalti tersebut diambil oleh penyerang terbaik mereka yang juga merupakan spesialis eksekutor tendangan penalti, Danny Ings.

Ditambah lagi, Taylor sendiri bukan pemain yang kerap menghuni daftar susunan pemain pada musim ini. Musim ini, pemain berusia 33 tahun tersebut hanya bermain sebanyak enam kali dengan empat kali starter. Hal ini terjadi karena ia beberapa kali menderita cedera, bahkan harus naik ke meja operasi pada Agustus tahun lalu.

Lantas apa yang membuatnya memberanikan diri mengambil tendangan penalti? Catatan tendangan penalti Taylor sendiri sebenarnya tak terlalu buruk. Selama karirnya, yang dimulai sejak 1999, Mirror mencatatkan, sebelum melawan Leicester, tujuh dari delapan kali eksekusi penalti Taylor berhasil merobek jala lawan.

Namun dari catatan tersebut, terakhir kali ia mengeksekusi penalti adalah sembilan tahun yang lalu, ketika ia masih membela Portsmouth. Meskipun begitu, Taylor tetap percaya diri mengambil tendangan penalti tersebut karena melihat Ings yang belum lagi mencetak gol sejak Februari. Bahkan ia sempat bertanya pada Ings yang baru sekali mengeksekusi penalti pada musim ini.

“Saya berkata pada Ings, ‘kamu mau menendangnya? Saya akan senang untuk mengambilnya’. Lalu Ings berkata silahkan saja,” ujar Taylor mengutip dari Mirror. “Lalu kami sedikit berdiskusi, saya pun berkata jika ia ingin melakukannya, saya tak masalah.”

Karena Ings tak ingin melakukannya, maka Taylor-lah yang mengeksekusi tendangan penalti tersebut. Saat tendangannya gagal, ia pun terlihat sangat kecewa sambil berlutut dan menutupi wajahnya. Ia tentu lebih kecewa karena satu menit setelah eksekui penalti tersebut Leicester mencetak gol kemenangan.

Ekspresi Taylor saat gagal mengeksekusi penalti. (via: reuters)
Ekspresi Taylor saat gagal mengeksekusi penalti. (via: reuters)

“Saya memiliki firasat bahwa tendangan tersebut tak akan menjadi gol,” ujar Kasper Schmeichel, kiper Leicester City. “Bukan karena saya memiliki kepercayaan diri untuk menahannya, hanya saja perasaan saya mengatakan bahwa tendangannya tak akan menjadi gol. Dan ternyata benar saja yang terjadi sesuai dugaan. Kemudian kami mendapatkan kesempatan itu [menciptakan gol].”

Taylor pun berdalih bahwa sebenarnya tendangannya sudah cukup baik dan penuh perhitungan. Hanya saja beberapa saat sebelum menendang bola tersebut, ia sedikit terpeleset dan membuat arah bola tak sesuai yang ia harapkan. “Sebenarnya tendangan itu akan menjadi penalti yang bagus, tapi kaki pijakanku terpeleset.”

Menjadi eksekutor penalti sendiri bagi Taylor adalah merupakan tujuannya bermain sepakbola. Ia percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengeksekusi setiap tendangan penalti. Kegagalan tersebut tak akan membuatnya menyesal dan berhenti menjadi eksekutor penalti.

“Tak masalah. Saya masih cukup besar, cukup berpengalaman, dan cukup buruk untuk menerima kritikan tersebut,” ujar Taylor ketika ditanyai mengenai tendangan penaltinya tersebut. “Saya akan senang untuk mengeksekusinya kembali. Karena jika saya tak ingin lagi melakukannya, saya akan berhenti bermain sepakbola. Saya menikmatinya karena saya tahu saya memiliki kemampuan untuk mengeksekusinya dengan baik.”

Taylor tentunya boleh-boleh saja mengambil penalti-penalti Burnley di kemudian hari. Namun yang perlu diingat, ia pun perlu sadar bahwa kini Burnley terpaut lima poin dari Leicester City yang satu trip berada di atas zona degradasi. Dan ini sedikit atau banyak terjadi karena kegagalan penaltinya tersebut. Kegagalan Taylor ini pun membuat Burnley melanjutkan catatan gagal mencetak gol dalam lima pertandingan terakhir.

Oleh karena itu, pada sisa pertandingan Burnley musim ini, Taylor tampaknya perlu menahan egonya jika dalam beberapa pertandingan ke depan Burnley mendapatkan tendangan penalti. Bagaimanapun, asa untuk tetap lolos dari jurang degradasi perlu tetap dijaga agar tetap bisa berlaga di kompetisi teratas Liga Inggris pada musim depan.

foto: reuteurs

Komentar