Investasi Lewat Akademi Manchester City

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Investasi Lewat Akademi Manchester City

Hanya perlu dua tahun bagi Manchester City untuk membangun sebuah akademi sepakbola yang begitu megah dengan luas 80 hektar. Di dalamnya, terdapat 16 lapangan sepakbola dengan ukuran standar FIFA. Satu lapangan dibuat di dalam ruangan, dan satu lapangan lagi dikelilingi oleh tribun berkapasitas lima ribu kursi.

Akademi Manchester City atau City Football Academy berada dalam lingkungan “Etihad Campus” yang terletak di tenggara Stadion Etihad. Dulunya, kawasan tersebut hanyalah kompleks pabrik yang tidak terawat. Kawasan timur Manchester memang berbeda dengan wilayah di bagian barat. Mayoritas bangunan yang berdiri dikhususkan untuk industri.

Selepas diakuisisi oleh Abu Dhabi United Group (ADUG) pada 2008, Manchester City memulai perubahan yang begitu besar. Utamanya terlihat dari komposisi pemain dan kondisi finansial kesebelasan. Hanya perlu tiga tahun bagi Manchester City untuk bisa merengkuh gelar Liga Inggris pertama mereka setelah lebih dari 43 tahun.

Penghasil Pemain Muda

Dengan digulirkannya aturan Financial Fair Play (FFP), City kini tak bisa lagi sembarangan membeli pemain dengan banderol mahal. Salah-salah, mereka tidak diperbolehkan mengikuti aktivitas transfer.

Salah satu cara yang dilakukan City adalah dengan membangun sebuah akademi yang tujuan akhirnya adalah menyuplai pemain muda ke tim utama.

Ada dua tim di Manchester City yakni tim U-18 dan tim U-21 atau disebut “Elite Development Squad”. Dua tim tersebutlah yang kini berlatih dan menggunakan 16 lapangan yang tersedia di City Football Academy.

Fasilitas Lengkap


Center Training Facility yang melingkupi dua lapangan dan akomodasi untuk pemain.

Manchester City memindahkan kantor mereka ke “Arena”, yakni stadion dengan kapasitas lima ribu orang yang terletak di kawasan City Football Academy. Kantor tersebut terletak di tribun timur yang menyatu dengan ruang staf dan dewan klub.

Di area tengah akademi, terdapat “Central Training Facility” (CFT). CFT merupakan bangunan besar yang melingkupi dua lapangan sepakbola. Bedanya, satu lapangan berada di dalam ruangan, dan satu yang lain beratapkan langit.

Di CFT dibangun kamar-kamar untuk pemain dan orang tua mereka. Fasilitas CTF memang lengkap karena dilengkapi dengan gym, boot room, hingga teaching lab.

Di kawasan tersebut, nyatanya benar-benar berdiri kampus untuk pemain maupun masyarakat Manchester. Di sisi selatan akademi, berdiri Connel Sixth Form College, Manchester Institute of Health and Performance, dan East Manchester Academy. Para pemain di Akademi Manchester City sendiri diwajibkan untuk bersekolah.

Menguntungkan Bagi Manchester

Manchester City kerap berada dalam bayang-bayang Manchester United, baik dalam hal prestasi maupun sejarah. Sebelum diakuisisi oleh ADUG, tidak ada prestasi menonjol yang ditorehkan Manchester City selama empat dekade terakhir.

Ini yang membuat City seperti “di-anak-tiri-kan”. Dengan lokasi di timur Manchester, seolah-olah membuat City “jauh dari peradaban”. Wilayah industri hanya menghasilkan polusi yang mengakibatkan turunnya kualitas udara kota.

Apa yang tengah dibangun oleh Manchester City sebenarnya tidak berhenti dengan pembangunan Akademi Manchester City saja. ADUG bahkan berencana membuat sebuah “kota baru” di timur Manchester. Hal ini dilakukan tidak lain untuk mendekatkan brand Manchester City bagi masyarakat Inggris, dan masyarakat Manchester khususnya.

Pembangunan yang berkelanjutan itu diharapkan bisa selesai pada 2027. Nantinya akan dibangun kawasan pemukiman di sekitar wilayah Stadion Etihad dengan 830 rumah yang akan dibangun, dan mencapai enam ribuan pada akhirnya.

Sementara itu, dalam waktu dekat ini, ADUG akan meningkatkan jumlah kursi di Stadion Etihad. Nantinya, Stadion Etihad diharapkan mampu menampung 62 ribu penonton dari jumlah saat ini yang hanya mencapai 48 ribu kursi.

Mengalahkan Dominasi Manchester United


Momen yang tidak akan pernah dilupakan Manchester City: 93:20. (Sumber gambar: Dailymail.co.uk)

Hal pembeda antara City  dan MU adalah brand yang mereka miliki. Manajemen MU mengklaim kalau mereka memiliki pendukung terbanyak, bukan cuma di Inggris, tapi juga di dunia. Mudah bagi MU untuk membuat stadion penuh dengan penonton saat mereka tur Asia. Lain halnya dengan Manchester City, karena jumlah suporter, khususnya di luar negeri, tidak sebanyak MU.

Untuk mengalahkan dominasi MU tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Pasalnya, MU memiliki sejarah panjang puluhan tahun, yang sekali lagi, tidak dimiliki oleh Manchester City.

Dengan rencana pembangunan yang berkelanjutan tersebut, setidaknya bisa tertanam bagi masyarakat Manchester khususnya di wilayah timur terkait apa yang sudah dilakukan oleh City.

Pun dengan gengsi pemain dan kompetisi. MU dikenal memiliki skuat akademi yang berbakat dan potensial. Salah satu alasannya, menurut Paul Scholes, tidak lain karena bakat-bakat terbaik Manchester dan Inggris, berdatangan ke akademi MU. Kasarnya, tidak dilatih sekalipun, mereka sudah memiliki bakat yang tumbuh secara alami.

Ini yang coba didobrak oleh Manchester City. Mereka menawarkan akademi dengan cara yang lain: fasilitas yang lengkap mulai dari lapangan, mes, sampai sarana pendidikan.

Mungkinkah Manchester City bisa mengalahkan dominasi MU? Rasanya memang agak sulit, dan hal tersebut bisa terjawab 10 hingga 20 tahun mendatang, bukan saat ini. Namanya juga investasi.

Komentar