Merindukan Derby della Madonnina

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Merindukan Derby della Madonnina

Liga Italia Serie A pekan ke-31 akan menyajikan laga derby yang sangat terkenal di seluruh dunia: Derby della Madonnina. Sebagaimana derby sekota lainnya, derby yang mempertemukan dua kesebelasan asal kota Milan ini, AC Milan dan Internazionale Milan, kerap berlangsung panas dan bertensi tinggi.

Namun derby duo Milan pada musim ini mungkin tak akan seperti derby-derby Milan beberapa musim sebelumnya. Keduanya kini tertatih di papan tengah klasemen Serie A, Milan peringkat 9 dan Inter 10. Bukan tak mungkin laga di kota Turin yang mempertemukan pemuncak klasemen, Juventus, dan Lazio, yang kini berada di peringkat dua, lebih dinanti-nanti ketimbang derby della madonnina.

Pudarnya pamor derby Milan bukan sekadar karena Rossoneri dan Nerrazuri berada di papan tengah atau karena keduanya tak bertarung untuk scudetto, melainkan karena nama besar dan kualitas AC Milan dan Inter yang memang menurun.

Jika melompat ke masa lalu, lini tengah Milan sempat dihuni oleh pemain berkelas macam Manuel Rui Costa, Clarence Seedorf, Gennaro Gattuso, Andrea Pirlo dan Ricardo Kaka untuk memanjakan Hernan Crespo dan Andriy Shevchenko. Inter tentunya takkan gentar karena lini serang mereka pun dihuni pemain berkelas seperti Adriano dan Christian Vieri yang mendapat suplai bola-bola matang dari Dejan Stankovic, Juan Veron, Alvaro Recoba, Kily Gonzalez dan Esteban Cambiasso. Perang bintang eperti inilah yang menjadikan derby Milan begitu dinantikan.

Berbeda dengan saat ini, di mana kedua kesebelasan dihuni oleh pemain-pemain terbaik ‘kelas dua’. Milan nantinya akan mengandalkan Giacomo Bonaventura, Sulley Muntari, Marco van Ginkel, dan Andrea Poli. Sedangkan Inter, akan bergantung pada Mateo Kovacic, Hernanes, Freddy Guarin, dan Marcelo Brozovic.

Dari sini terlihat, tak bisa dipungkiri bahwa selera kedua kesebelasan ini dalam merekrut pemain telah berubah. Dari duet sekelas Rui Costa-Kaka, kini (hanya sekelas) Bonaventura-Van Ginkel. Dari duet Stankovic-Veron, sekarang (hanya) Hernanes-Kovacic. Bahkan jika dulu kharisma Paolo Maldini dan Javier Zanetti menjadi daya tarik tersendiri, kali ini Ignazio Abate dan Andrea Ranocchia yang menjadi pemimpin masing-masing tim, dua pemain, yang setidaknya menurut saya, tak/belum layak menjadi kapten kesebelasan penuh historis seperti AC Milan dan Inter.

Pada suatu hari, di kota Milan.....
Pada suatu hari, di kota Milan.....

Mungkin banyak yang akan berpendapat derby Milan kali ini akan tetap menarik. Tentu saja hal tersebut tak sepenuhnya salah. Namun rasanya, tingkat keseruan derby Milan kali ini tak akan sepanas derby Milan beberapa musim yang lalu.

Baca juga sejarah rivalitas AC Milan dan Internazionale Milan di sini.

Ya, jangan lupakan pula sikap Milanisti dan Interisti pada kesebelasan pujaannya masing-masing sekarang ini. Alih-alih kedua kesebelasan akan beradu chant atau memanaskan suasana pertandingan, kedua pendukung  tampaknya akan lebih tertarik mengkritisi para pelatihnya masing-masing dan bagaimana kesebelasan pujaannya bermain.

Dari sanalah keraguan akan tensi tinggi pada derby Milan kali ini muncul. Jadi, saya sarankan, jangan terlalu berekspektasi tinggi pada laga AC Milan dan Inter Milan kali ini. Derby della Madonnina edisi ke-214 ini, diprediksi tak akan sepanas Derby Milan seperti di bawah ini:

(1984) AC Milan 2-1 Internazionale

Sebagai kesebelasan besar, bukan berarti Milan tak pernah menghuni papan bawah Serie A. Pada Serie A musim 1984-1985, Milan berada di peringkat terbawah jelang hadapi Inter pada pekan ke-7. Milan yang sebelumnya terdegradasi karena kasus Totonero 1980, pengaturan skor yang menyebabkan Milan dan Lazio ke Serie B, belum pernah menang atas Inter sejak 1978.

Menyangkut harga diri Milan, laga derby ini pun menjadi magnet pendukung Milan. Bayang-bayang kekalahan menyelimuti pendukungnya karena Inter dihuni oleh penyerang asal Jerman, Karl-Hanz Rumenigge.

Pertandingan baru berjalan 10 menit, gol yang dicetak Alessandro Altobelli sempat membuat pendukung Milan yang memadati Stadion San Siro (Stadion Giuseppe Meazza bagi pendukung Inter) terdiam. Namun pada menit ke-33, mantan kapten AS Roma, Agostino Di Bartolomei, berhasil menyamakan kedudukan.

Pertandingan berjalan alot hingga 10 menit awal babak kedua. Namun kombinasi Franco Baresi dan Pietro Vidris yang diakhiri sundulan Mark Hateley yang tak mampu dibendung kiper Inter, Walter Zenga. Skor 2-1 pun menjadi hasil yang memuaskan bagi kubu AC Milan beserta pendukungnya.



(1989) AC Milan 0-1 Internazionale

Jika derby Milan musim ini mempertemukan pelatih berpengalaman, Roberto Mancini, dan pelatih yang baru merasakan ketatnya Serie A, Filippo Inzaghi, derby Milan pada musim 1988-1989 mempertemukan dua pelatih terbaik Italia: Arrigo Sacchi dan Giovanni Trapattoni.

Pada musim tersebut, Trapattoni sukses mengantarkan Nerazzuri meraih kampiun Serie A. Sedangkan Sacchi, menjadikan Milan sebagai jawara Eropa setelah merengkuh trofi Liga Champions UEFA.

Adu taktik antara dua legenda Italia ini berlangsung seru. Milan yang dihuni pemain berkelas seperti Mauro Tassotti, Frank Rijkaard, Franco Baresi, Paolo Maldini, Carlo Ancelotti, Roberto Donadoni, dan Marco van Basten melawan Inter yang diperkuat Walter Zenga, Giuseppe Baresi, Giuseppe Bergomi, Lotthar Matthaus, dan Aldo Serena.

Pertandingan ini berakhir dengan skor tipis 0-1 untuk skuat biru hitam lewat gol yang dicetak Aldo Serena, bomber Inter yang pernah merumput bersama AC Milan.



(2004) AC Milan 3-2 Internazionale

Jelang pertemuan kedua AC Milan melawan Internazionale pada Serie A musim 2003-2004, Rossonerri tengah berada di puncak klasemen pada pekan ke-22. Di bawahnya, AS Roma terus menguntit dengan selisih lima poin. Milan tentunya tak boleh kalah melawan Inter karena pada hari berikutnya, Roma hanya berhadapan dengan AC Siena yang berada di peringkat 13.

Namun semuanya berjalan tak sesuai dengan yang diharapkan para pendukung Milan. Inter yang berstatus sebagai tamu justru unggul dua gol terlebih dahulu melalui Stankovic dan Cristiano Zanetti. Inter unggul 0-2 saat turun minum.

Pelatih Milan, Carlo Ancelotti, kemudian memasukkan John Dahl Tomasson untuk menggantikan Rui Costa setelah istirahat babak pertama. Dan pemain asal Denmark tersebut langsung mencetak gol 10 menit setelah ia berada di lapangan yang disaksikan oleh 80 ribu pasang mata ini.

Gol tersebut menjadi pelecut semangat Maldini cs. Semenit kemudian, Kaka berhasil menyamakan kedudukan. Dan puncaknya, saat lima menit jelang pertandingan usai, Seedorf mengantarkan tiga poin bagi Milan setelah tendangannya tak mampu dihentikan Francesco Toldo.

Atas kemenangan come-back yang luar biasa ini pendukung Milan bersuka cita. Pasca pertandingan usai, flare pun menyala dari tribun Curva Sud. Kemenangan yang sedikit banyak sangat menolong Milan karena pada akhir musim Milan sukses menjuarai Serie A.



(2005) Internazionale 0-3 AC Milan

Tak hanya di Serie A, derby Milan pun beberapa kali digelar pada ajang Liga Champions. Namun pertemuan yang paling tak terlupakan keduanya di kejuaraan paling bergengsi di Eropa ini terjadi pada musim 2004-2005.

Keduanya bertemu pada babak perempat final. Leg pertama berakhir dengan skor 2-0 untuk kemenangan AC Milan. Inter yang pada leg kedua berstatus sebagai tuan rumah pun dituntut memenangi pertandingan dengan skor lebih 2-0. Namun gol Shevchenko pada babak pertama membuat Milan semakin unggul dengan agregat 3-0.

Otomatis Inter wajib mencetak empat gol pada babak kedua untuk bisa melangkah ke babak semi-final. Harapan muncul saat Cambiasso mencetak gol beberapa menit setelah turun minum. Namun wasit asal Jerman, Markus Merk, menganulir gol tersebut.

Atas insiden tersebut, pendukung Inter mulai melakukan aksi-aksi yang mengganggu pertandingan. Bahkan kemudian, kiper Milan, Nelson Dida, mendapatkan lemparan flare tepat mengenai punggungnya. Merk pun memutuskan untuk menghentikan laga ini.

Milan pun dinyatakan menang 3-0 (WO) karena ulah para pendukungnya tersebut. Sedangkan Inter, mendapatkan hukuman bertanding empat pertandingan tanpa penonton di kompetisi Eropa plus denda sebesar dua ratus ribu euro.



(2005) Internazionale 3-2 AC Milan

Jika derby Milan pada 2004 berakhir manis bagi AC Milan lewat gol di penghujung waktu Seedorf, derby Milan pertama pada musim 2005-2006 berakhir membahagiakan bagi Internazionale. Kemenangan 3-2 bagi Inter saat itupun seolah membalaskan dendam mereka pada kekalahan 2004.

Laga ini pun tak kalah dramatis dan penuh dengan kontroversi. Kedua kesebelasan saling berbalas gol sejak babak pertama. Gol penalti Adriano, yang dihasilkan dari handsball Alessandro Nesta, pada menit ke-23, dibalas gol penalti Andriy Shevchenko, yang dihasilkan dari handsball Stankovic, pada menit ke-38.

Inter kembali unggul melalui kaki Obafemi Martins. Sempat bertahan lama dengan skor 2-1, tandukkan Jaap Stam memanfaatkan eksekusi tendangan bebas Andrea Pirlo pada menit ke-85 membuat skor kembali imbang. Saat pertandingan tampak akan berakhir dengan skor 2-2, sundulan Adriano memanfaatkan sepak pojok pada babak tambahan waktu berhasil mengoyak jala Milan yang dikawal Dida untuk ketiga kalinya, pendukung Inter bersorak pada akhir pertandingan.

Pada akhir musim, Inter finish di urutan kedua dan Milan di urutan empat. Namun Inter yang diasuh Roberto Mancini ini berhak meraih gelar juara Serie A setelah sang pemuncak klasemen, Juventus, terlibat dalam skandal calciopoli.



Derby-derby Milan di atas hanyalah sebagian contoh betapa panas dan bertabur bintangnya derby della madonnina di masa lalu. Lantas, apakah panasnya derby Milan kali ini akan seperti derby-derby Milan di atas? Semoga saja....

Komentar