Timor Leste, Filipina dan Hal-hal yang Perlu Dicermati dari Ranking FIFA

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Timor Leste, Filipina dan Hal-hal yang Perlu Dicermati dari Ranking FIFA

Dalam ranking FIFA yang dirilis pada Rabu (9/4) kemarin, Indonesia masih belum beranjak dari peringkat  150-an atau tepatnya di peringkat ke-159. Kejutan muncul karena Timor Leste, negara yang baru merdeka 2000 silam, berada di peringkat ke-152 setelah mengalami lonjakan 33 peringkat.

Tentu saja tidak sedikit yang menganggap kalau peringkat FIFA tidak mencerminkan kekuatan sepakbola yang sesungguhnya dari sebuah negara. Dengan perhitungan yang (dianggap) rumit, peringkat FIFA hanya dianggap sebagai bonus belaka. Toh, di atas lapangan Indonesia tidak (belum) pernah kalah dari Timor Leste. Ya, kan?

Namun, benarkah demikian?

Memahami Tugas BTN

Peringkat FIFA merupakan akumulasi dari hasil pertandingan internasional selama empat tahun terakhir. Terdapat empat komponen yang dihitung dalam penentuan poin. Komponen pertama adalah hasil pertandingan.

Tiga komponen lainnya tidak akan berarti jika pertandingan berakhir dengan kekalahan. Pasalnya, kemenangan akan diberi tiga poin, dan hasil seri diberi satu poin, sedangkan kekalahan mendapat poin nol. Komponen selanjutnya adalah pentingnya pertandingan, kekuatan lawan, dan kekuatan konfederasi.

Untuk perhitungan lebih jelasnya bisa dibaca di sini.

Di Indonesia, pengaturan jadwal pertandingan internasional menjadi salah satu tugas Badan Tim Nasional (BTN). Mereka berwenang memilih tanggal dan lawan yang akan dihadapi. Dalam setahun, FIFA sendiri setidaknya hanya memberi lima pekan jadwal untuk pertandingan internasional, di luar kompetisi resmi seperti kualifikasi kompetisi konfederasi atau Piala Dunia.

Negara di Asia Tenggara “beruntung” karena Piala AFF dihelat dua tahun sekali yang dihitung sebagai pertandingan resmi FIFA. Setiap tahun, biasanya selalu ada pertandingan kualifikasi, mulai dari pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 yang mulai digelar tahun ini, dan kualifikasi Piala Asia 2019 yang kemungkinan digelar tahun depan. Namun, masih selalu ada celah untuk pertandingan persahabatan. Di sinilah kebecusan BTN sebagai penyusun jadwal kesebelasan negara Indonesia terlihat.

Cermat Memilih Lawan

Sebelum menyusun jadwal, penting untuk dilihat apa tujuan pertandingan persahabatan tersebut. Apakah hanya untuk memenuhi jadwal internasional FIFA, atau mau meningkatkan peringkat negara di ranking FIFA.

Kalau sekadar memenuhi jadwal internasional, pertandingan menghadapi Suriah atau negara sejenisnya bisa menjadi pilihan. Namun, jika ingin meningkatkan peringkat, BTN mestilah cermat.

Berdasarkan ilusi Anda, mungkinkah Indonesia mengalahkan Cape Verde, Uganda, Rwanda, Sierra Leonne, Benin, dan Siprus? Kalau mungkin, sudah semestinya BTN memilih lawan seperti yang disebutkan di atas karena mereka berada di peringkat 100 besar FIFA. Tentu, jika Indonesia bisa menang, poin yang didapat akan lebih tinggi ketimbang hanya menang atas Myanmar.

Menarik saat BTN lebih memilih Kamerun yang berada di peringkat ke-48 ketimbang Cape Verde yang ada di peringkat ke-37. Kalau tujuannya agar Indonesia bisa “belajar” dari negara yang lebih maju soal sepakbola, itu belum tentu benar. Di Piala Afrika 2015, Kamerun cuma jadi juru kunci grup D, lho! Tidak perlu membanggakan diri hanya karena kalah satu gol dari negara yang menjadi juru kunci di Piala Afrika.

Dalam pertandingan internasional, BTN harus cermat memikirkan untung-rugi. Pertama, untung-rugi dalam pengaruh di peringkat FIFA. Kedua, untung-rugi soal lawan bertanding. Pertanyaannya adalah untuk apa kita bertanding melawan Myanmar yang di atas lapangan juga tidak jago-jago amat, kok. Selain itu, kita hanya terpaut tujuh peringkat (saat itu) dengan Myanmar.

Keanehan lainnya terjadi pada tahun lalu saat Indonesia jauh-jauh ke Spanyol hanya untuk bertanding menghadapi Andorra (204) dan Kuba (109). Apa yang harus dipelajari dari sepakbola dua negara tersebut? Apa pula keuntungan dari kemenangan atas dua kesebelasan tersebut? (Indonesia hanya menang atas Andorra).

Biarlah kita melawan negara seperti Myanmar, Suriah, dan sejenisnya dalam pertandingan kualifikasi Piala Asia atau Piala Dunia karena akan dikalikan tiga poin. Sayang jika pertandingan persahabatan—yang hanya dikalikan satu poin—harus dilewatkan begitu saja. Mau menang 30-0 sekalipun, tidak akan berpengaruh terhadap perhitungan poin.

Belajar dari Filipina

Sebelum Piala AFF 2014 digelar, Filipina secara mengejutkan berada di atas Indonesia. Argumen yang sama kembali terdengar: Ah, di atas lapangan Filipina selalu keok. Benar. Di atas lapangan, di Piala AFF 2010 misalnya, dua kali kita mengalahkan Filipina di semifinal. Pada Piala AFF 2012, Filipina juga kandas di babak semifinal—bukan oleh “kita”, karena “kita” tidak lolos dari babak grup.

Jadi, saat itu, ketika ranking FIFA Filipina melonjak di atas Indonesia, pecinta sepakbola Indonesia masih bisa bersikap santai -- dalam arti tetap yakin itu tak berdampak apa-apa di atas lapangan jika harus berduel dalam sebuah kompetisi.

Namun, Piala AFF 2014 menjadi tamparan keras bagi “kita” yang dihantam empat gol tanpa balas oleh Filipina. Di sini, peringkat FIFA memberi gambaran bahwa memang benar ada yang salah dari kesebelasan negara Indonesia tercinta. Dan bahwa ranking FIFA, hingga batas tertentu, bisa dijadikan cermin dalam soal tata kelola sepakbolanya, minimal pengelolaan timnasnya.

Filipina adalah negara yang mau belajar. 20 tahun lalu, siapa yang sangka kalau mereka bisa masuk empat besar Piala AFF? Filipina adalah lumbung gol bagi kekuatan tradisional di Asia Tenggara macam Singapura, Malaysia, dan Thailand. Namun, sepakbola di negeri jajahan Spanyol tersebut kian berkembang dari tahun ke tahun.

Ini pula yang ditakutkan dari melonjaknya Timor Leste dalam peringkat FIFA. Secara matematis, lonjakan tersebut karena Timor Leste bertanding dalam kualifikasi Piala Dunia 2018, dan dua kali mengalahkan Mongolia.

Tim junior Timor Leste bisa dibilang mengejutkan terutama generasi tim U-16 pada 2010. Dalam kompetisi Piala AFF U-16 2010 yang digelar di Indonesia, mereka mengalahkan Indonesia dalam perebutan peringkat ketiga. Sementara pada Piala AFF U-19 2013 yang mayoritas pemainnya berasal dari tim peringkat tiga pada 2010, Timor Leste juga menempati peringkat ketiga.

Bukan tidak mungkin Timor Leste dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan bisa mengalahkan Indonesia di level senior.

Mungkinkah Indonesia melampaui Belanda dalam peringkat FIFA? Kalau Timor Leste sih sudah, tinggal Portugal yang harus mereka kejar. Untuk mendapatkan poin dalam ranking FIFA sebuah negara haruslah konsisten dan jarang menuai kekalahan. Apalagi jika pertandingan tersebut dalam rangka Piala Dunia, atau sebatas kualifikasinya saja.

Namun, kehebatan suatu negara tampaknya akan percuma jika tidak ada tata kelola yang jelas dari badan yang memang berwenang untuk itu. Penjadwalan pertandingan persahabatan yang hanya didasarkan "asal ada" membuat tidak ada keuntungan yang begitu berarti bagi timnas.

Kehadiran kesebelasan besar seperti Belanda dan Uruguay tidak lebih sebagai hiburan belaka karena kita tahu Indonesia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Seharusnya, pengalaman bertanding melawan negara yang kuat dijadikan bekal bagi Indonesia untuk terus membenahi sepakbola. Setelah dikalahkan Uruguay dan Belanda, Indonesia masih saja dikalahkan Kamerun yang jadi juru kunci di Piala Afrika 2015.

Jadi, memang, ada yang bisa diabaikan begitu

Sumber foto: ligaindonesia.co.id

Komentar