Reformasi dan Juru Selamat Australia di Piala Dunia

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Tidak bisa berbahasa Finlandia.

Reformasi dan Juru Selamat Australia di Piala Dunia

Pada 1974, tim nasional sepakbola pria Australia lolos ke Piala Dunia untuk kali pertama. Keikutsertaan Australia hanya sejauh fase grup, namun tidak perlu rasanya pencapaian tersebut dipermasalahkan. Selain karena Piala Dunia Jerman Barat adalah Piala Dunia pertama Australia, ada masalah lain yang lebih parah ketimbang ketidakmampuan meloloskan diri dari fase grup, yaitu ketidakmampuan untuk kembali lolos ke Piala Dunia.

Dalam tujuh edisi setelah Jerman Barat 1974, Australia selalu gagal lolos ke Piala Dunia. Peruntungan mereka berubah pada 2006. Kesuksesan tersebut mereka capai bukan karena Piala Dunia tahun itu digelar di Jerman, di negara tempat Australia menjalani Piala Dunia pertama mereka, namun berkat sebuah reformasi olahraga yang dikenal dengan nama Crawford Report.

Sejak Crawford Report menyudahi korupsi dan menyembuhkan kebobrokan sepakbola Australia, tak pernah lagi Socceroos gagal lolos ke Piala Dunia.

Crawford Report, yang diambil dari nama David Crawford selaku pimpinan dari setiap laporan terbuka mengenai reformasi olahraga Australia, bukanlah melulu tentang sepakbola. Laporan ini membeberkan segala hal mengenai kondisi olahraga Australia dan cara-cara memperbaikinya.

Khusus untuk sepakbola, laporan ini dipublikasikan pada 2003 dengan nama Report of the Independent Soccer Review Committee.

Kegagalan Australia lolos ke Piala Dunia 2002 menjadi dorongan untuk pembentukan komite independen yang bertujuan menyelamatkan sepakbola Australia. Akhirnya pada 2003 dibentuklah sebuah komite bernama Independent Soccer Review Committee oleh Rod Kemp selaku Menteri Olah Raga Australia dan The Parliament of the Commonwealth (Parlemen Australia, badan legislatif Australia), yang berisikan Johnny Warren, Bruce Corlett, Kate Costelo, Mark Peters, dan David Crawford di posisi pimpinan komite.

Praktik korupsi, konflik kepentingan, dan buruknya kualitas manajemen di badan tertinggi sepakbola Australia (Soccer Australia) adalah alasan utama pembentukan Independent Soccer Review Committee.

Indikasi kebobrokan Soccer Australia sendiri tampak dalam beberapa bentuk, di antaranya adalah kegagalan tim nasional lolos ke Piala Dunia dan Piala Konfederasi karena tidak memiliki cukup biaya untuk mendanai perjalanan para pemain yang berkarir di Eropa untuk pertandingan persahabatan internasional dan OFC Nations Cup (kompetisi tertinggi di Benua Oseania); karena para pemain utama tidak banyak menghabiskan waktu bersama tim nasional, performa kesebelasan di kualifikasi Piala Dunia menjadi buruk.

Selain itu, dorongan pembentukan Independent Soccer Review Committee juga berasal dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Australian Broadcasting Corporation mengenai konflik kepentingan dan kebobrokan manajemen di tingkat pimpinan di Soccer Australia. Hasil investigasi ini ditayangkan secara luas dalam acara Four Corners.

Independent Soccer Review Committee tidak hanya memiliki kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan memberi rekomendasi, namun juga untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan untuk memperbaiki kualitas sepakbola Australia; bahkan jika itu berarti reformasi yang dijalankan dengan membubarkan Soccer Australia.

Sempat ada usaha untuk mengganggu dan membatalkan proses reformasi, namun kerja sama yang baik di semua tingkatan – termasuk di tingkat negara bagian – memastikan mulusnya pekerjaan Independent Soccer Review Committee. Australian Sport Commision juga memainkan peran penting dengan mengeluarkan ancaman penghentian pemberian dana kepada Soccer Australia jika mereka menolak bekerja sama selama penyelidikan dilakukan.

Pada akhirnya, satu per satu pimpinan di Soccer Australia mengundurkan diri dengan sendirinya. Soccer Australia dinyatakan sudah tidak mungkin lagi diperbaiki sehingga dibentuklah badan baru bernama Australian Soccer Association yang kemudian berubah nama menjadi Football Federation of Australia (FFA) pada 2004 dengan Frank Lowy sebagai pimpinannya.

FFA dinilai bersih dari praktik korupsi dan dinilai sukses menjalankan tugas mereka. Salah satu indikasinya adalah kestabilan finansial dan keberhasilan tim nasional lolos ke tiga edisi terbaru Piala Dunia.

Australia juga beralih dari benua Oseania menuju benua Asia (AFC) pada masa jabatan Lowy, dengan sorotan utama pada keberhasilan mereka menjadi tuan rumah Piala Asia 2015, sekligus keluar sebagai juara baru Asia.

Sedangkan di level domestik, keberhasilan reformasi sepakbola Australia diiringi oleh kedatangan sponsor ternama untuk A-League, kompetisi tertinggi di liga sepakbola Australia.

Komentar