A-League: Kompetitif Meski Tanpa Degradasi

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

A-League: Kompetitif Meski Tanpa Degradasi

Sejak tahun 2004, A-League (atau memiliki nama resmi Hyundai A-League) mengambil peran National Soccer League (NSL) sebagai divisi tertinggi dalam liga sepakbola profesional pria di Australia. Dengan jumlah peserta yang hanya mencapai sepuluh kesebelasan saja, A-League yang berjalan di bawah pengawasan Football Federation Australia (FFA) dijalankan dengan sistem setengah kompetisi.

Dalam satu musim, ada dua gelar juara berbeda dan karenanya hak untuk berlaga di kejuaraan tingkat Asia dapat diperebutkan lewat dua cara.

Regular Season

A-League dimulai Bulan Oktober dan berakhir pada Mei di tahun berikutnya. Kejuaraan yang musim ini diikuti oleh sembilan kesebelasan yang berbasis di Australia dan satu kesebelasan yang berasal dari Selandia Baru ini terbagi menjadi Regular Season dan Finals Series.

Regular Season berakhir pada April dan berlangsung selama 27 pekan. Setiap kesebelasan berhadapan dengan lawannya sebanyak tiga kali dalam satu musim. Jumlah pertandingan yang ganjil ini membuat A-League menerapkan aturan khusus untuk peran tuan rumah.

Jika Kesebelasan A menjamu Kesebelasan B sebanyak dua kali di musim ini, maka di musim selanjutnya Kesebelasan A hanya boleh menjamu Kesebelasan B sebanyak satu kali; sebagai gantinya, Kesebelasan B menjamu Kesebelasan A sebanyak dua kali.

Sistem ini tidak menyimpan masalah karena hingga saat ini A-League belum mengenal degradasi sehingga setiap musim, lawan yang dihadapi selalu sama. Sangat logis.

Sama seperti liga-liga lainnya, sebuah kemenangan di A-League dihargai tiga angka; satu angka diberikan untuk setiap kesebelasan jika pertandingan di Regular Season berakhir imbang. Kesebelasan peraih angka terbanyak di Regular Season berhak menyandang status Premier (juara Regular Season) serta mendapatkan trofi bernama Premier’s Plate dan hak untuk bermain di AFC Champions League.

Selain itu, Premier dan lima kesebelasan di bawahnya berhak melaju ke Finals Series yang berlangsung selama tiga pekan.

Walaupun tempat yang dapat diperebutkan untuk Finals Series mencapai enam posisi dari sepuluh kesebelasan, kesebelasan-kesebelasan A-League tetap harus mengerahkan kemampuan maksimal demi meraih posisi terbaik; peringkat akhir di Regular Season mempengaruhi peruntungan di Finals Series.

Peringkat sebuah kesebelasan, sebagaimana telah disebutkan, ditentukan oleh jumlah angka yang berhasil mereka kumpulkan. Jika ada dua atau lebih kesebelasan yang memiliki raihan angka sama, maka peringkat ditentukan oleh – secara berturut-turut – jumlah selisih gol dan jumlah gol yang dicetak ke gawang lawan.

Jika jalan keluar tidak ditemukan lewat cara tersebut, maka penentuan peringkat akan didasarkan kepada jumlah angka yang diraih oleh kesebelasan-kesebelasan yang terlibat dari pertandingan antara satu sama lain (head-to-head), jumlah selisih gol dari pertandingan antara satu sama lain, dan jumlah gol yang dicetak ke gawang lawan dalam pertandingan antara satu sama lain.

Kemudian jika cara ini juga tidak dapat menjadi jalan keluar, maka akan dilihat kesebelasan mana yang memiliki jumlah kartu merah paling sedikit. Jika masih juga tidak ditemukan pemenang, maka dilihatlah kesebelasan mana yang memiliki lebih sedikit kartu kuning. Dan jika tak juga ditemukan pemenang lewat cara itu, maka coin toss menjadi jalan terakhir.

Baca juga: Sepakbola Sebagai cara Imigran Beradaptasi di Australia

Final Series

Setelah ditemukan enam (awalnya empat) kesebelasan teratas Regular Season, dimulailah Finals Series; putaran final dengan sistem gugur yang mulai diperkenalkan pada 2006.

Dua penghuni peringkat teratas di Regular Season mendapatkan hak untuk langsung berlaga di semifinal, sementara penghuni peringkat ketiga hingga keenam harus mengalahkan lawan masing-masing untuk mencapai semifinal.

Kesebelasan penghuni peringkat ketiga berhadapan dengan kesebelasan penghuni peringkat ke enam untuk menantang penghuni peringkat pertama di semifinal pertama. Kesebelasan penghuni peringkat ke empat, sementara itu, berhadapan dengan kesebelasan penghuni peringkat ke lima agar dapat bertanding melawang kesebelasan penghuni peringkat ke dua di semifinal dua.

Setiap pertandingan dijalankan satu kali di kandang kesebelasan penghuni posisi yang lebih baik. Dengan cara ini, penghuni peringkat ke tiga dan ke empat mendapatkan keuntungan sebagai tuan rumah.Begitu pula dengan penghuni peringkat pertama dan ke dua yang, tak hanya langsung lolos ke semifinal, juga berhak menjadi tuan rumah.

Dua kesebelasan yang tersisa kemudian berlaga di partai puncak yang dinamai Grand Final. Seperti putaran-putaran sebelumnya, status tuan rumah Grand Final diberikan kepada kesebelasan yang memiliki posisi lebih tinggi. Namun FFA berhak menentukan tempat pelaksanaan pertandingan jika kesebelasan tuan rumah dinilai tidak memiliki stadion yang sesuai standar yang ditentukan FFA.

FFA berhak menentukan tempat pelaksanaan pertandingan Grand Final berdasarkan kapasitas stadion, ketersediaan tempat, kepentingan penyiaran, keamanan, pemasaran, dan pertimbangan finansial.

Selain mendapatkan piala bernama A-League Trophy, pemenang pertandingan Grand Final berhak menyandang status juara bernama A-League Champion dan berhak bermain di AFC Champions League.

Sistem kompetisi yang ada membuat setiap kesebelasan A-League memiliki keharusan bermain maksimal di setiap pertandingan walaupun liga yang mereka ikuti tidak mengenal degradasi.

Pendekatan seperti ini adalah pendekatan yang mirip dengan sistem kompetisi di Amerika Serikat. Secara tidak langsung, Final Series dapat diartikan sebagai playoff. Jika sistem ini disejajarkan dengan MLS, maka Australia sudah sukses memainkan bisnis dan sepakbola yang sejalan.

Tidak ada promosi-degradasi? Sejauh ini, sih, tidak masalah. Karena toh tim yang bermain juga hanya sepuluh biji.

Komentar