Partai Buruh sebagai Jembatan di Tengah Perseteruan Liverpool vs Manchester

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Partai Buruh sebagai Jembatan di Tengah Perseteruan Liverpool vs Manchester

Liverpool dan Manchester masih berada dalam wilayah yang bertetangga. Soal sepakbola, keduanya tak pernah akur. Baik Liverpool dan Manchester United sama-sama menyombongkan diri soal prestasi. Keduanya adalah dua kesebelasan paling sukses di tanah Britania. Adu ejek antar suporter dua kesebelasan selalu terdengar.

Padahal Liverpool dan Manchester adalah kota yang dicintai oleh Partai Buruh (Labour Party). Keduanya menjadi salah satu basis massa terbesar Partai Buruh di Inggris. Bahkan, Oktober lalu jelang pemilihan umum, Partai Buruh menjanjikan sesuatu yang tak biasa, yang menyangkut keduanya di sepakbola. Partai yang dipimpin Ed Millband tersebut menginginkan suporter memiliki saham di kesebelasan yang dicintainya tersebut.

Love United Hate Glazer


Keluarga Glazer tak mendapatkan sambutan hangat saat mereka membeli Manchester United pada Mei 2005. Mereka tidak mendapatkan apa yang diterima Roman Abramovich ketika membeli Chelsea. Glazer lebih dianggap sebagai parasit karena memanfaatkan MU untuk membayar utang-utang mereka.

Gerakan secara masif pun dimulai. Para penggemar membentuk grup khusus bernama “Love United Hate Glazer” (LUHG) sejak 2006. LUHG dibentuk sebagai perlawanan atas kekuasaan Glazer di United. Mereka bahkan telah memiliki anggota yang tersebar di seluruh dunia.

Mirror menyebut rezim Glazer sebagai “The worst of big-business practice”. Namun, kehadiran Sir Alex Ferguson membuat tidak ada alasan yang begitu kuat untuk menggoyang Glazer. Toh, United masih berada dalam jajaran 20 kesebelasan terkaya versi majalah Forbes, dan piala demi piala tak pernah berhenti mengisi lemari kaca Old Trafford.

Kepergian Fergie memang membuat Glazer goyah. Mereka berkali-kali membuat rekor buruk pada kepemimpinan David Moyes, salah satunya dengan tidak berlaga di kompetisi Eropa. Berdasarkan Transfermarkt, baru pada musim 2014/2015, United menggelontorkan dana di atas 70 juta pounds untuk membeli pemain sejak musim 2008/2009.

Setelah memecat Moyes pada pertengahan musim lalu, United mendatangkan Louis van Gaal yang baru membawa Belanda di peringkat ketiga Piala Dunia 2014. Keluarga Glazer sepertinya tahu benar kalau skuat perlu peremajaan dan tambahan amunisi baru agar gelar juara kembali seperti semula.

Namun, tentangan masih tetap terdengar. Syal hijau-kuning masih tetap terbentang. Suara-suara sumbang membuat keluarga Glazer tidak pernah tenang. Sejumlah penggemar, dalam forum di situs MU, menyatakan salah satu ketidaksukaan mereka adalah karena Glazer yang membawa banyak utang.

Salah satu warisan terbesar Glazer adalah FC United of Manchester, kesebelasan para pembangkang yang didirikan oleh suporter tradisional United. Mereka mengklaim: "Bukan kami yang meninggalkan United, tapi United yang meninggalkan kami."

Tentang FC United of Manchester yang menjadi warisan terbesar Malcolm Glazer di United

[INFOGRAFIS] Warisan Malcolm Glazer di United


Gara-Gara Fasilitas



Di bara daya Manchester, penggemar Liverpool pun geram pada sang pemilik, John Henry dan Tom Werner. Jelang musim 2013/2014, mereka menaikkan harga tiket di Stadion Anfield. Padahal, tidak ada gelar utama yang diraih Liverpool selama dipegang oleh Fenway Sports Group. Hal ini sejalan dengan kenaikan tribun stadion baseball Fenway Park.

Penggemar Liverpool yang tergabung dalam Liverpool Supporters Union, menulis kekesalan mereka. Faktanya, Fenway menaikkan harga tiket, tanpa melakukan modernisasi dan renovasi di Anfield.

“Penggemar di Tribun utama dan Paddock bertahan di fasilitas yang dibangun pada era (Bill) Shankly, dengan tempat duduk yang sempit di Lower Centenary yang sudah ada sejak 1963. Kami menduga tidak ada satu dari beberpaa “pemilik” yang pernah menyaksikan pertandingan dari tribun tersebut, dan tidak ada dari mereka yang menarik sebutan “fasilitas” di Paddock atau Tribun Utama. Jika kami salah, hal memalukan bagi mereka yang setuju harga 815-850 pounds adalah harga yang wajar untuk ‘produk’ seperti itu,” tulis surat terbuka tersebut.


Begini menonton langsung di Anfield (Sumber: syscrapercity.com)

Sejumlah penggemar pun setuju dengan kegelisahan tersebut. Tribun utama Anfield sudah terlampau kuno jika dibandingkan dengan stadion kesebelasan top lain. Beberapa dari mereka menganggap kalau FSG tidak mengerti caranya mengelola sebuah kesebelasan. Pada Oktober 2010, FSG juga membeli Stadion Anfield satu paket dengan Liverpool, sehingga pengelolaan Anfield ada di tangan FSG, bukan pihak ketiga.

Jika para suporter tradisional Man United kemudian mendirikan FC United of Manchester, para suporter tradisional Liverool FC ini kemudian mendirikan AFC Liverpool. Seperti halnya FC United, kesebelasan AFC Liverpool ini juga merupakan kesebelasan para pembangkang yang tak suka, juga tak sudi, akuisisi kesebelasan kesayangannya membuat pendukung tradisional seperti mereka jadi terasingkan dari Anfield.

Melawan Kapitalis

Awal Maret lalu, Suporters Direct, perkumpulan suporter-suporter olahraga di Inggris, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan sikap, semacam manifesto, yang mencoba menghentikan penetrasi gila-gilaan dari industri olahraga di tanah Britania. Mereka menyampaikan delapan tuntutan terkait kepemilikan kesebelasan di Inggris yang tren-nya makin menjauhi nilai-nilai tradisi dan relasi yang intens antara kesebelasan dan para pendukungnya (baca 8 Poin Manifesto Perlawanan Suporter Inggris).

Ada satu hal yang membuat penggemar Liverpool dan Manchester United satu tujuan -- dan semangatnya mirip dengan 8 Poin Manifesto Suporter Inggris di atas. Mereka sama-sama ingin mengusir para pemilik dari Amerika, “Si Kapitalis”. Stereotip yang saat ini ada di benak penggemar adalah pemilik asal Amerika hanya menekankan bisnis ketimbang sejarah dan kelangsungan kesebelasan itu sendiri. Belum lagi jika mereka punya klub olahraga lain seperti yang dimiliki keluarga Glazer dan FSG.

Di Inggris, Manchester dan Liverpool adalah salah satu basis massa besar bagi Partai Buruh. Konstituen di dewan kota pada 2011 lalu, Partai Buruh menjadi mayoritas dengan menempatkan 75 konstituen, sedangkan Partai Konservatif hanya 20. Lima anggota parlemen Inggris yang berasal dari Manchester, empat di antaranya merupakan anggota Partai Buruh, dan satu anggota Partai Liberal Demokrat.

Pun dengan Liverpool yang parlemennya dikuasai oleh Partai Buruh sejak 2010. Partai Buruh juga mendominasi dengan 62 kursi sedangkan Partai Liberal Demokrat 22 kursi. Uniknya, salah satu partai terbesar di Inggris, Partai Konservatif tak mendapat satupun kursi.

Ini pula yang membuat Paul Burnell, dalam tulisannya di BBC, menjelaskan mengapa penduduk Liverpool tidak menyukai mantan Perdana Menteri Britania, Margaret Thatcher. Tentu, Margaret adalah seorang anggota Partai Konservatif, yang tidak diacuhkan di Merseyside. Saat memimpin Britania, tingkat pengangguran di Merseyside naik, dan pemerintah memotong pelayanan publik.

Liverpool dan Manchester sama-sama wilayah penting bagi Partai Buruh. Wajar karena sebenarnya dua kota tersebut saling melengkapi: Manchester kota industri, dan Liverpool kota pelabuhan. Keduanya juga merupakan dua kesebelasan terbaik di Inggris dengan sederet prestasi di Britania dan Eropa.

Namun, kenyataannya pendukung Liverpool FC dan Manchester United tidaklah akur. Ejekan selalu terdengar meski pertandingan tidak digelar. Saat keduanya bertemu pada akhir pekan, keesokan harinya kantor dan sekolahan akan ramai dengan ejekan tentang siapa yang kalah.

Adanya kesamaan antara Manchester dan Liverpool semestinya membuat mereka bisa bahu membahu melakukan perubahan besar. Ada dua hal yang menjadi tujuan utama dari penggemar Liverpool dan Manchester United sebagai bagian dari Partai Buruh.

Pertama, memenangkan Partai Buruh dalam pemilihan umum mendatang. Kedua, mengusir pemilik modal yang bertentangan dengan sejarah, budaya, kultur, dan tujuan awal kesebelasan. Namun, mereka bisa melakukannya lebih mudah asalkan tujuan pertama bisa tercapai.

Ya, Partai Buruh menjanjikan kalau suporter bisa mendapat tempat di jajaran manajemen kesebelasan dan memiliki saham atas kesebelasan yang mereka cintai. Ini tentu sejalan dengan tujuan kedua yang ingin “mengusir” para pemilik modal. Untuk mencapai tujuan, ternyata tak selamanya politik harus ditendang jauh-jauh dari sepakbola.

Go Go Labour, You’ll Never Walk Alone

 Baca juga: Lima Kejahatan Ekonomi di Sepakbola

Sumber gambar: The Guardian

Komentar