Sepakbola adalah Olahraga Sosialis

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Sepakbola adalah Olahraga Sosialis

Dalam Industri, kolektivitas menjadi agung jika ia menghasilkan keuntungan. Kolektivitas hanya bicara soal uang. Dalam konteks keuntungan, kolektivitas adalah gabungan dari ambisi masing-masing individu.

Legenda Liverpool, John Barnes, mengungkapkan kegelisahannya soal korporasi di sepakbola yang meminggirkan nilai-nilai alami dari olahraga itu sendiri. “Sepakbola adalah olahraga sosialis,” tegas Barnes dalam wawancara dengan Soccer Issue.

Maksud olahraga sosialis yang dimaksud Barnes adalah masih adanya kolektivitas bukan hanya saat pertandingan, tapi lebih ke nilai-nilai yang dianut oleh atlet itu sendiri.

Dalam sebuah pertandingan, bagi Barnes, prinsip-prinsip sosialisme muncul dalam keharusan membangun kolektivitas. Memang benar bahwa beberapa pemain bintang mendapatkan penghargaan yang lebih (dari sisi uang maupun popularitas) dibandingkan pemain lainnya.

Barnes mencontohkan Messi. Bahkan walau pun anda seorang Messi, katanya, tetap harus bekerjasama dengan seorang bek kanan yang masuk di menit 70. Sebelas pemain harus bekerja dalam sebuah sistem yang berjalan serentak dan serempak. Bakat memang dibutuhkan, dan kadang bisa mengubah hasil pertandingan dengan dribling yang aduhai, tapi gol yang dicetak tetap tak ada artinya jika lawan juga bisa mencetak gol sama banyaknya karena lini belakang yang keropos.

Belum lagi jika bicara soal tradisi dan sejarah sebuah kesebelasan yang seringkali lahir untuk mewakili sebuah komunitas/masyarakat tempat ia lahir, tumbuh dan bermarkas. Kesebelasan adalah hal yang paling pokok, pemain tak bisa lebih penting dari kesebelasan dan nilai-nilai yang diwakilinya.

Khususnya di sepakbola, nilai-nilai ini sudah lama pudar. Banyak yang menganggap dirinya lebih besar dari kesebelasan itu sendiri. Padahal, menurut Barnes, kesebelasan yang masih mempertahankan kolektivitas lebih kuat ketimbang kesebelasan yang hanya mengeruk keuntungan dari sepakbola.

Mencontoh Kenny Dalglish

Hal yang paling gampang dirujuk adalah kejayaan Liverpool pada era 1970-an dan 1980-an. “Kota Liverpool punya akar sosalis yang kuat dan itu membantu pemain merasa terkoneksi kepada penggemar,” tutur Barnes, “Ada rasa kepemilikan dan pemain merasa sebagai perwakilan dari sebuah kota, penggemar, dan nilai-nilai sosialis.”

Secara spesifik, Barnes mencontohkan Kenny Dalglish sebagai orang yang menganut nilai-nilai kolektivitas. Dalglish adalah bintang pada masanya, tapi ia tidak memperlakukan dirinya sebagia yang paling terang. Ia mengerti kalau semangat kolektif jauh lebih penting daripada dia sendiri sebagai individu.

“Dalglish merasa semua orang harus merasakan bahwa mereka adalah bagian dari hal yang besar dari diri mereka sendiri,” tutur Barnes.

Peran buruh dalam lembaran sejarah sepakbola Inggris memang memang tak bisa dihapuskan.  Tak hanya masalah basis dukungan, tapi juga tentang pelatih. Manajer-manajer terbaik yang pernah hadir di tanah Britania adalah mereka yang berlatar belakang kelas buruh, seperti halnya Bill Shankly, Jock Stein, Brian Clough, atau Matt Busby. Sir Alex Ferguson, bisa dikatakan, merupakan manajer sepakbola terakhir dengan latar belakang kelas buruh yang kental.

Di Inggris Tidak Ada Lagi Kolektivitas

Hal yang paling menohok dari Liga Inggris adalah jumlah pemain non-Inggris yang bermain di Premier League. Jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang kompetisi lain seperti Liga Italia dan Liga Jerman.

Barnes menganggap hal ini sebagai pengaruh dari kultur selebritas di Inggris. Pemain dibayar mahal untuk bertanding, bukan untuk menjadi bagian dari kesebelasan, kota, atau penggemar itu sendiri. Tidak ada rasa memiliki terhadap kesebelasan karena mereka tidak bisa berpikir secara kolektif.

“Mereka lebih terobsesi dengan diri mereka sendiri,” sesal Barnes.

Ia mencontohkan pemain seperti Robin van Persie dan Wayne Rooney yang kerap mengaitkan bekas kesebelasan mereka “tidak memiliki ambisi” yang sesuai dengan ambisi pribadi mereka. Bagi Barnes, hal ini amatlah menyakitkan bagi rekan sesama kesebelasan, dan penggemar.

“Pemain tidak melihat kesebelasan sebagai sesuatu yang lebih besar dari mereka. Mereka melihatnya sebagai alat yang bisa membantu kesuksesan personal,” kata pria yang membela Liverpool pada 1987-1997 ini.

Inilah yang sering diajarkan Ferguson pada anak asuhnya. “Saya berulang kali bilang pada pemain saya, bahwa yang membuat mereka jadi seorang pesepakbola adalah etos kerja keras , dan mereka tak boleh pernah kehilangan itu. Saya berkata pada mereka, bahwa jika mereka pulang menemui ibu mereka, maka ibu mereka harus bertemu dengan orang yang sama dengan yang sebelumnya. Jika tidak, maka ibu mereka akan kecewa,” kata Sir Alex.

Itulah sebabnya ia tak senang dengan pemain-pemain yang mengejar popularitas dan abai dengan tugasnya sebagai pemain yang mewakili nilai, tradisi dan sejarah sebuah kesebelasan. Itulah sebabnya mungkin ia tak senang dengan David Beckham yang memasuki dunia glamour semenjak berhubungan dengan Victoria.

Dalam buku biografinya, pelatih yang mendapatkan dua gelar Liga Champions bersama United ini juga menjelaskan, “David adalah satu-satunya pemain saya yang memilih untuk jadi terkenal. Ia menjadikan popularitas sebagai misinya.”

Gara-Gara Pemilik Asing

Bobroknya prestasi kesebelasan negara (sangara) Inggris tidak lepas dari pesat dan bebasnya industri sepakbola Inggris sendiri. Kesebelasan di Liga Inggris memang tidak pernah berhenti merekrut pemain muda sejak belia. Namun, masalahnya bukan di situ. Mereka menganggap pemain muda itu sebagai pemain jadi. Padahal, butuh waktu bagi pemain muda untuk terus memperbaiki diri.

Barnes pun membandingkannya dengan apa yang dilakukan Jerman. Ia berpendapat kalau Federasi Sepakbola Jerman, DFB, lebih mudah untuk meminta kesebelasan mengembangkan pemain asli Jerman. Pasalnya, kesebelasan di Jerman dimiliki oleh orang Jerman itu sendiri. Mereka sadar akan pentingnya kesuksesan sangara Jerman terhadap sepakbola Jerman dan masyarakat Jerman itu sendiri.

Lain halnya dengan di Inggris yang para pemiliknya mayoritas bukan orang asli di lingkungan kesebelasan tersebut berasal.

“Di Inggris, itu tidak mungkin. Siapa yang akan diminta federasi untuk memainkan pesepakbola Inggris? Mungkinkah mereka meminta pada Roman Abramovich atau pemilik Manchester City? Atau orang Amerika yang memiliki Liverpool, Arsenal, dan Manchester United? Mereka tidak peduli terhadap sepakbola Inggris atau Inggris,” sindir Barnes.

Sindiran Barnes tersebut sebenarnya bisa diformulasikan dalam satu kalimat tanya ringkas, “Mengapa mereka harus peduli terhadap sepakbola Inggris?”

Pendukung kesebelasan besar pun menjadi tidak peduli untuk mendukung sangara Inggris. Mereka hanya ingin para pemainnya tidak cedera saat membela negara. “Inilah jawaban mengapa banyak penggemar Inggris yang merupakan suporter Birmingham City, Crawley, Doncaster, dan kesebelasan kecil lainnya,” kata Barnes.

Baca juga:

Hutang Sepakbola Brasil Pada Para Buruh
Buruh Sudah Disingkirkan di Sepakbola Inggris
Pesepakbola Indonesia, Belajarlah Pada Serikat Buruh!
Alex Ferguson – Manajer Terakhir dari Kelas Buruh

Kisah Lima Buruh yang Melahirkan Corinthians


Talenta yang Terbuang Sia-Sia

Barnes sejujurnya mengakui banyak talenta muda Inggris yang bagus. Masalahnya adalah saat masuk ke akademi pada usia 14-16, mereka tidak mendapat kesempatan yang cukup untuk bisa masuk tim utama. Mereka diperlakukan seperti bintang.

Di usia yang masih belia, wajar jika pemain muda melakukan banyak kesalahan, karena mereka minim pengalaman. Namun, tidak demikian dengan kesebelasan. Mereka hanya ingin pemain mencetak gol dan membawa kemenangan. Ini yang membuat pesepakbola Inggris yang sudah matang, malah bermain di kesebelasan kecil.

“Aku pikir kalau Steven Gerrard jadi youngster di Liverpool saat ini, ia hanya akan berakhir di Bolton atau Wolverhampton,” ledek Barnes.

Masalah lainnya menurut Barnes adalah kesebelasan besar yang enggan membeli pemain dari kesebelasan kecil. Mereka ingin membeli pemain mahal berlabel bintang.

Barnes mencontohkan saat dirinya direkrut Liverpool dari Watford. Menurutnya hal ini tidak akan mungkin terjadi saat ini. Menurutnya, tidak mungkin saat ini pemain bertalenta dari Watford memiliki kesempatan untuk direkrut kesebelasan besar lainnya.

Kesebelasan yang mulai kembali menggunakan pemain Inggris adalah Liverpool. Ia beranggapan kalau pelatih British lebih ingin melatih orang Inggris ketimbang pemain asing.

Walaupun sama-sama jalan di kiri, tapi sosialis dan liberalis akan selalu bertentangan. Dan di Inggris, sosialis sudah lama mati.

Sumber cerita: diolah dari wawancara soccerissue.com dengan John Barnes

Sumber gambar: dailypost.co.uk

Komentar