Saat Kesebelasan Italia Membentuk Kompetisi Baru di Eropa

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Saat Kesebelasan Italia Membentuk Kompetisi Baru di Eropa

Di Italia, Juventus sekali lagi berhasil mendominasi Serie A. Kini Si Nyonya Tua nyaman berada di puncak klasemen Serie A dengan  selisih  sembilan poin dari AS Roma, peringkat dua. Gelar keempat Serie A secara beruntun pun kemungkinan besar dapat diraih skuat asuhan Massimilliano Allegri pada akhir musim.

Hal ini ternyata membuat geram kesebelasan Italia lainnya. Mereka pun lantas membuat turnamen sendiri yang membuat mereka memiliki kesempatan untuk meraih trofi pada musim ini. Dan turnamen ini bernama UEFA Europa League.

Eits, jangan salah sangka dulu. Tentunya paragraf di atas hanyalah paragraf satire untuk menggambarkan apa yang terjadi di Europe League saat ini. Ya, pada babak 32 besar Europa League, secara mengejutkan seluruh perwakilan asal Italia mampu lolos ke babak berikutnya.

Napoli berhasil menang mudah atas Trabzonspor dengan agregat 5-0. Inter Milan mengalahkan Glasgow Celtic dengan agregat tipis 4-3 yang diikuti oleh Torino yang mengandaskan perlawan Athletic Bilbao (5-4) dan AS Roma yang menjungkalkan Feyenoord (3-2). Sedangkan Fiorentina, menang dengan skor 2-0 atas Tottenham Hotspurs di Artemio Franchi sehingga memastikan lolos ke babak berikutnya karena pertemuan pertama di White Hart Lane berakhir imbang 1-1.

Dengan hasil ini, Italia masih menyimpan lima perwakilannya pada babak perdelapan final Europa League. Jumlah ini tentunya merupakan yang terbanyak dibanding negara lain. Inggris dan Jerman hanya menyisakan satu perwakilan, sementara Spanyol tinggal menyisakan Villareal dan Sevilla.

Ini tentunya merupakan hasil yang sangat langka terjadi, karena lima perwakilan Italia di babak perdelapan final memang baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah kompetisi Eropa. Dalam lima belas tahun terakhir, tiga kesebelasan adalah jumlah terbanyak yang berhasil lolos ke babak perdelapan final, terjadi pada 2001, 2002, 2006, dan 2014.

Sebenarnya, jika menilik performa lima kesebelasan Italia ini (Roma, Napoli, Inter, Fiorentina, dan Torino) di Serie A, cukup lah wajar mampu melenggang ke babak berikutnya. Roma dan Napoli, mereka merupakan penghuni peringkat kedua dan ketiga klasemen. Fiorentina dan Torino, tak terkalahkan lebih dari tujuh pertandingan terakhir. Sementara Inter, baru saja meraih kemenangan ketiga beruntunnya pada akhir pekan lalu.

Jika lima kesebelasan ini memang sedang tampil bagus, lantas mengapa mereka tak mampu menghancurkan dominasi Juventus? Jawabannya mungkin karena Juventus memang terlalu kuat bagi semua kesebelasan Italia sehingga kekuatan lima kesebelasan ini lebih tercurahkan pada Europa League.

Baca Juga:

Jika Lawan di Serie A Menguat, Juventus Bisa Lebih Bagus

Kebangkitan Sepakbola Italia Sudah di Depan Mata

Menjaga Harapan Bangkitnya Liga Italia


Anggapan yang tak salah memang. Saat Juventus menjuarai Serie A pada musim 2011-2012, Juve tak terkalahkan sepanjang musim. Pada musim berikutnya, Juve unggul sembilan poin dari Napoli yang berada di peringkat kedua untuk merengkuh scudetto. Sedangkan musim lalu, Juve menorehkan 33 kemenangan dari 38 laga Serie A yang membuat mereka meraih poin 102 di akhir musim, rekor baru di Eropa.

Musim ini, 2014-2015, hal yang tak jauh berbeda terjadi. Laju Juventus masih tak terbendung hingga mereka nyaman di puncak klasemen. Juve hanya sekali kalah dari 24 pertandingan dan unggul sembilan poin atas AS Roma, pesaing terdekatnya di papan klasemen. Jumlah kebobolannya yang hanya 13 gol pun merupakan salah satu yang terbaik di liga top Eropa.

Maka jika lima kesebelasan itu sangat bersungguh-sungguh berkompetisi di Europa League, Juventus pun memiliki arena sendiri untuk menguji kekuatannya di Eropa: Liga Champions. Dan hasilnya, Juve pun mendapatkan perlawan sengit pada setiap matchday-nya.

Tergabung dalam grup A, Juve harus menunggu hingga matchday terakhir untuk menggenggam tiket lolos ke babak 16 besar Liga Champions. Maklum, Juve sempat ditumbangkan oleh Atletico Madrid dan Olympiakos sehingga persaingan begitu sengit hingga pekan terakhir.

Setelah memastikan berlaga di babak 16 besar, lawan yang lebih kuat pun sudah menanti. Runner-up Bundesliga musim lalu, Borussia Dortmund, siap menghentikan langkah Si Nyonya Tua.

Saat keduanya bersua pun terjadi pertarungan yang menarik. Dortmund yang sempat tertinggal oleh gol Carlos Tevez, mampu menyamakan kedudukan lewat Marco Reus memanfaatkan kesalahan yang dilakukan Giorgio Chiellini. Namun Juve akhirnya keluar sebagai pemenang setelah gol Alvaro Morata tak mampu dibalas lagi oleh skuat asuhan Juergen Klopp.

Meski menang, Juve masih tetap perlu waspada. Kalah 1-0 kala bertandang ke Signal Iduna Park akan membuat mereka pulang ke Turin dengan penuh penyesalan.

Pada giornata ke-25, Juve akan menghadapi Roma di Juventus Stadium (ralat: Olimpico Stadium). Kemenangan akan membuat langkah Juventus meraih scudetto musim ini lebih lapang. Juventus pun bisa langsung menyiapkan kekuatannya untuk menghadapi Dortmund, laga yang lebih penting.

Juve memang boleh agak tenang di Serie A. Pasalnya, lima kesebelasan yang berlaga di Europa League akan menghadapi lawan-lawan tangguh. Inter akan menghadapi peringkat kedua Bundesliga saat ini, Wolfsburg. Torino, yang mendapatkan tiket Europa League dikarenakan UEFA mendiskualifikasi Parma, akan menghadapi langganan kompetisi Eropa asal Rusia, FC Zenith.

Napoli dijadwalkan menghadapi Dinamo Moscow yang sedang tak terkalahkan dalam 10 pertandingan di segala ajang. Sementara Roma dan Fiorentina, keduanya akan saling mengalahkan untuk meraih tiket babak delapan besar.

Perlu digaris bawahi, selain berkesempatan menambah trofi, kabarnya juara Europa League musim ini akan mendapat jatah di Liga Champions. Karenanya, lima kesebelasan ini tampaknya akan lebih mati-matian di Europa League.

Inter dan Torino misalnya, meski saat ini tercecer di peringkat delapan dan sepuluh Serie A, mereka tetap bisa berlaga di Liga Champions musim depan jika berhasil menjuarai Europa League. Begitu pula dengan Fiorentina yang saat ini tertahan di peringkat lima, di mana jika tak berubah hingga akhir musim, mereka hanya akan kembali berlaga di Europa League. Karena itulah Europa League seolah menjadi liga tandingan dari lima kesebelasan Serie A untuk menorehkan prestasi.

foto: Ermindo Armino, timesunion.com

Komentar